Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Warga 11 Desa Pesisir di Nagekeo Mengungsi Jauh dari Pantai
Warga pengungsi di Nagekeo masih terisolir dan belum dapat bantuan. (Dok Istimewa)
  • Sebanyak 11 desa pesisir di Kecamatan Aesesa, Nagekeo, ditinggalkan warga yang mengungsi beberapa kilometer dari pantai setelah gempa magnitudo 7,7 di Flores.
  • Per 20 Agustus 2026, pengungsi mencapai 28.104 jiwa; tercatat 10 meninggal, 13 luka ringan, dan 13 luka berat. Pemerintah berencana memusatkan posko bantuan.
  • Warga masih trauma akibat 49 gempa susulan berkekuatan minimal magnitudo 4,0. Seorang pengungsi Desa Tungguramba mengaku keluarganya bertahan di ruang terbuka tanpa bantuan pemerintah daerah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kupang, IDN Times - Wakil Bupati Nagekeo, Gonzalo Gratianus Muga Sada, menyebutkan bahwa ada 11 desa pesisir di Kecamatan Aesesa yang ditinggalkan oleh warganya. Warga memilih untuk mengungsi akibat kekhawatiran terhadap dampak gempa magnitudo 7,7 dan getaran susulan yang masih terus terjadi sejak gempa mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.

“Mereka berpindah kurang lebih beberapa kilometer dari pesisir,” kata Gonzalo dalam pernyataannya, Kamis (20/8/2026).

1. Pengungsi berjumlah 28 ribu jiwa

Warga pengungsi bertahan di Nagekeo. (Dok Istimewa)

Dalam data yang sama Gonzalo menyebut per 20 Agustus 2026 ini ada 10 orang yang meninggal dunia, 13 orang luka ringan, dan 13 orang luka berat.

"Sementara jumlah pengungsi mencapai 28.104 jiwa," tukas dia.

Warga yang mengungsi ini mendirikan tenda di sekitar rumah hingga berpindah ke wilayah perbukitan. Ia mengaku akan memusatkan pos pengungsian yang terkonsentrasi agar memudahkan dalam pendistribusian bantuan.

“Kita harus segera membentuk posko utama di beberapa titik sehingga semua bisa kita jemput dan kita mobilisasi untuk terkumpul di satu titik,” ujarnya.

2. Teror gempa susulan

Gempa berkekuatan magnitudo 5,8 di Mbay Nagekeo pukul 08.46.43 WITA pada 17 Agustus 2026. (Dok BMKG)

Para pengungsi ini, kata dia, rata-ratanya khawatir akan terjadinya gempa lagi bila kembali ke rumah masing-masing sehingga bertahan di luar rumah.

"Makanya sebagian besar masih trauma dan memilih tidak kembali ke rumah," tukasnya.

Berdasarkan data BMKG, sepanjang 20 Agustus 2026 tercatat 49 gempa susulan dengan magnitudo 4,0 atau lebih di wilayah Ruteng, Manggarai-Mbay, dan Nagekeo. Sejumlah gempa susulan bahkan mencapai magnitudo 5,8 pada pukul 06.45 WITA dan magnitudo 5,7 pada pukul 10.46 WITA. Gempa lainnya tercatat hingga magnitudo 5,4 pada pukul 16.01 WITA.

3. Belum dapat bantuan

Warga pengungsi di Nagekeo masih terisolir dan belum dapat bantuan. (Dok Istimewa)

Sarif, salah seorang warga Desa Tungguramba, Kecamatan Aesesa dalam keterangannya mengaku keluarganya terpaksa bertahan di tempat terbuka karena rumah yang terdampak gelombang pesisir dan gempa. Ia juga mengaku belum mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah setempat. Sejauh ini yang datang memeriksa keadaan mereka ialah petugas kepolisian sempat.

"Jadi kami tinggal di bawah kayu, di naungan begini. Tidak ada bantuan sedikit pun sampai sekarang ini,” ungkap Sarif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article