Tawarkan Sejumlah Proyek Besar, NTB Targetkan Investasi Rp68 Triliun

Mataram, IDN Times - Pemprov NTB menargetkan realisasi investasi tahun 2026 sebesar Rp68 triliun. Target realisasi investasi tahun 2026 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp61 triliun.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB Irnadi Kusuma mengatakan sejumlah proyek besar ditargetkan terealisasi pada 2026, seperti pembangunan pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) dan pembangunan fasilitas seaplane (pesawat amfibi) di Bendungan Batujai, Lombok Tengah. Selain itu, Pemprov NTB juga menawarkan sejumlah proyek pembangunan hotel bintang 5, agribisnis peternakan dan budidaya udang.
"Untuk proyek pembangkit listrik energi baru terbarukan investornya PT Berkah Energi Lombok, itu kita kejar di 2026. Nilai investasinya satu Rp3,1 triliun, kalau investasi seaplane belum bisa kita sebut angkanya. Tapi targetnya bulan April 2026, sudah selesai perizinan," kata Irnadi di Mataram, Kamis (1/1/2025).
1. Investasi pembangunan pembangkit EBT dan seaplane

PT. Berkah Energi Lombok (BEL) bermitra dengan PT. Shine Green Energy Indonesia (SGEI) berencana membangun tiga pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dengan kapasitas total 130 Megawatt (MW). Tiga pembangkit EBT yang akan dibangun berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).
Rencananya, pembangunan tiga pembangkit EBT untuk mempercepat transisi energi di NTB itu pada 2026 dan 2027. Tiga rencana lokasi pembangunan pembangkit EBT di NTB, antara lain PLTS 20 MW di Desa Anyar, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, PLTS 50 MW di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima dan PLTB 2x30 MW di Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.
Untuk investasi seplane di Bendungan Batujai Lombok Tengah, pihaknya telah bertemu dengan investor. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal meminta DPMPTSP mengawal rencana investasi pembangunan fasilitas seaplane yang nantinya akan menghubungkan Bali dan Lombok.
Dengan adanya investasi seaplane, kata Irnadi, maka akan semakin mempermudah konektivitas antara Bali dan Lombok dengan menyasar wisatawan berduit. "Ini akan mempermudah arus kunjungan wisatawan ke NTB. Arahnya para turis menengah ke atas atau high class," kata dia.
2. Empat proyek pembangunan hotel bintang 5 ditawarkan ke investor

Dalam Forum Investasi yang digelar di Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, Irnadi menyebutkan sejumlah proyek pembangunan hotel bintang 5 ditawarkan ke investor. Diantaranya, proyek Maukita Mandalika Hotel berlokasi di Kawasan Target Area (KTA) Pantai Selatan, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.
Pembangunan hotel ini pada lahan seluas 5,21 hektare dengan nilai investasi mencapai Rp298,7 miliar. Hotel bintang 5 yang dibangun dengan kapasitas 130 kamar deluxe, 112 kamar grand deluxe, 6 junior suite, dan 4 squite.
Selanjutnya, proyek pembangunan hotel bintang 5 berkapasitas 62 vila dan 86 kamar di kawasan seven spring under sea atau pertemuan tujuh mata air yang muncul di tengah laut Pantai Kerakas dengan estimasi nilai investasi Rp277,9 miliar.
Selain itu, proyek pembangunan Kuta Height Hotel seluas 18 hektare dengan investasi mencapai Rp821,8 miliar. Hotel bintang 5 yang akan dibangun direncanakan sebanyak 220 kamar, terdiri dari 60 kamar luxury lodge, 48 kamar suite, dan 112 deluxe.
Kemudian pembangunan resort dan hotel bintang 5 di kawasan Gili Gede, Lombok Barat dengan nilai investasi Rp123 miliar. Rencananya, luas lahan pembangunan mencapai 5 hektare dengan kapasitas 50 kamar.
3. Investasi agribisnis peternakan sapi pedaging dan budidaya udang

Selain investasi dalam bidang perhotelan, kata Irnadi, ada juga proyek agribisnis peternakan sapi pedaging senilai Rp556 miliar. Lokasinya di Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa, dengan luas lahan mencapai 1,39 hektare. Investasi peternakan sapi pedaGing ini dengan target produksi 6 ribu ekor breeding, 7 ribu ekor fattening, 1.644 ton daging beku per tahun dan 1.196 ton non karkas per tahun.
Kemudian investasi perikanan budidaya dengan komoditas udang pada lahan seluas 176 hektare dengan nilai investasi Rp507 miliar. Proyek ini berlokasi di Kecamatan Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat dengan target 360 juta ekor benur udang vaname per tahun dan 5,4 ribu ton udang vaname segar per tahun.
Mantan Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTB itu menyebutkan tantangan investasi di NTB. Salah satunya terkait dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Hampir semua kabupaten/kota di NTB belum merampungkan Perda RDTR, padahal ini menjadi salah satu syarat investor mendapatkan perizinan berusaha saat mengurus perizinan lewat online single submission (OSS).
"Karena di OSS ada satu item yang mengharuskan bahwa investasi di suatu tempat harus terkoneksi dengan RDTR. Kalau belum ada Perda RDTR, investasi sebesar apapun akan tertolak di sistem OSS," jelasnya.


















