Kenapa Disebut Nasi Balap Puyung? Ternyata Begini Kisahnya!

Nasi balap puyung berasal dari usaha Inaq Esun di Desa Puyung, Lombok Tengah, yang mulai menjual nasi bungkus ayam sejak 1970-an dan pernah menerima pembayaran berupa barang kebutuhan sehari-hari.
Nama “balap” dikaitkan dengan cucu Inaq Esun yang gemar balapan dan kerap mentraktir teman makan setelah menang; usaha kemudian diteruskan anak-anaknya di beberapa warung.
Sajian khas keluarga Inaq Esun memadukan ayam pelecing pedas, suwiran ayam goreng renyah, dan kedelai goreng; warung lain dapat menambahkan kentang renyah atau kacang panjang.
Nama nasi balap puyung menyimpan cerita tentang seorang pembalap yang suka mentraktir teman-temannya. Menurut keluarga Inaq Esun, kebiasaan itu ikut melahirkan nama hidangan nasi berlauk ayam pedas khas Lombok Tengah.
Inaq Esun mulai menjajakan masakannya pada 1970-an. Ia berasal dari Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, yang ikut memberi nama pada hidangan ini.
Seporsi nasi balap puyung bisa memuat dua olahan ayam sekaligus. Versi keluarga Inaq Esun menyajikan ayam pelecing berbumbu pedas dan suwiran ayam goreng yang renyah.
Table of Content
1. Nasi bungkusnya pernah dibayar dengan barang

Nasi puyung (instagram.com/pawonlombok15) Dalam riwayat yang dipajang di rumah makan keluarga, Inaq Esun pernah berjualan di Pasar Kebon Roek, Mataram. Saat itu pembeli bisa membayar nasi dengan barang kebutuhan sehari-hari.
Buku tematik kelas VI terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat Inaq Esun sempat menjajakan aneka penganan. Di antara dagangannya, nasi bungkus berlauk ayam menjadi menu yang terus dicari pelanggan.
Nasi panasnya dibungkus dengan daun pisang. Lauknya berupa suwiran ayam kampung berbumbu pedas dan kedelai goreng.
2. Cerita balap datang dari cucu Inaq Esun

Nasi Puyung khas Lombok (instagram.com/kulinerdilombok) Diketahui bahwa salah seorang cucu sang nenek gemar balapan. Setiap kali menang, ia mengajak teman-temannya makan di warung Inaq Esun.
Keluarga mengaitkan kebiasaan traktir makan itu dengan kata balap pada nama hidangan. Kisahnya juga tertulis di dinding rumah makan keluarga di Desa Puyung.
Anak-anak Inaq Esun kemudian meneruskan usaha itu dengan membuka warung di beberapa tempat. Sejumlah warung memakai nama yang sama dengan dapur dan pengelolaan masing-masing.
3. Satu piring bisa berisi ayam pedas dan ayam renyah

Nasi puyung (medium.com) Untuk membuat ayam pelecing, salah satu racikan keluarga dimulai dengan memanggang ayam. Dagingnya kemudian dicincang dan digoreng bersama bumbu seperti cabai, bawang, dan terasi.
Ayam renyahnya diolah dengan cara berbeda, yakni disuwir dulu sebelum digoreng. Kedelai goreng ikut menambah tekstur saat lauknya disantap bersama nasi.
Susunan lauk bisa berbeda di warung lain. Ada versi yang menambahkan kentang renyah atau kacang panjang ke piring nasi balap puyung.



















