Impor beras yang dilaksanakan oleh Perum Bulog. (dok. Bulog)
Terpisah, Ketua DPRD NTB Baiq Isvie Rupeda mengatakan belum mendengar rencana Bulog yang akan memasukkan beras impor ke NTB. Menurutnya, tidak perlu memasukkan beras impor jika stok pangan di dalam daerah masih mencukupi
"Tetapi kalau tidak ada stok, jangan sampai masyarakat kita karena tidak ada stok di daerah kita kekurangan beras. Saya kira salah satu jalan keluarnya, itu satu-satunya opsi terakhir," kata Politisi Golkar ini.
Selama dua bulan terakhir, beras menjadi pemicu inflasi di NTB. Inflasi NTB berada di atas rata-rata nasional pada bulan September dan Oktober 2023. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, inflasi NTB di bulan Oktober sebesar 2,66 persen. Angka inflasi ini lebih tinggi dibanding angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,56 persen.
Pada bulan September 2023, angka inflasi NTB juga berada di atas rata-rata nasional. Inflasi NTB di bulan September sebesar 2,29 persen, angkanya lebih tinggi dibanding inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,28 persen.
Perum Bulog Divre NTB melakukan operasi pasar untuk mengendalikan mahalnya harga beras di NTB. Kepala Perum Bulog Divre NTB David Susanto menjelaskan sebenarnya stok beras di gudang Bulog cukup untuk memenuhi kebutuhan di NTB sampai Februari 2024.
Pemerintah punya program bantuan pangan sehingga membutuhkan tambahan stok beras selain untuk operasi pasar. Sehingga, pihaknya akan mendatangkan beras sebanyak 17 ribu ton ke NTB pada Desember mendatang.
Dengan mendatangkan beras dari luar daerah, kata David, tidak akan melunturkan posisi NTB sebagai lumbung pangan nasional. Ia menyebut ketahanan pangan di NTB cukup kuat dan paling bagus di Indonesia.
Karena sebelumnya, NTB juga mengirim beras ke sejumlah provinsi di Indonesia. Bulog NTB mencatat jumlah beras yang dikirim ke luar daerah mencapai 22.900 ton pada 2023 ini.