Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Karhutla Rinjani Meluas, 977 Hektare Hutan Dilalap Api
Pemadaman karhutla di kawasan Gunung Rinjani SPTN Wilayah I BTNGR, Sabtu (26/9/2026). (dok. BTNGR)
  • Kebakaran hutan di kawasan Gunung Rinjani memasuki hari kelima, dengan estimasi area terdampak mencapai 977,74 hektare per 26 September 2026.
  • Sebanyak 80 personel menangani api di beberapa sektor; Jalur Torean dan Bukit Setampol berhasil dipadamkan, sementara pemantauan diperkuat di Senaru.
  • Jalur pendakian Torean dan Senaru ditutup sementara demi keselamatan, sedangkan pendaki bere-ticket dapat menjadwal ulang atau dialihkan melalui Sembalun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mataram, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) memasuki hari kelima pada Sabtu (26/9/2026). Kebakaran pertama kali terdeteksi pada 22 September 2026.

Hingga Sabtu (26/9/2026), luas areal kawasan Gunung Rinjani yang terdampak kebakaran terus bertambah. Kepala Sub Bagian Tata Usaha BTNGR Astekita Ardiaristo menyebut luas areal yang terdampak kebakaran mencapai 977,74 hektare sampai dengan 26 September 2026.

"Berdasarkan hasil pemantauan, pemetaan serta perkembangan kondisi lapangan sampai dengan 26 September 2026, luas areal yang diperkirakan terdampak kebakaran mencapai 977,74 hektare. Angka tersebut masih merupakan estimasi sementara dan akan terus diperbarui berdasarkan hasil pemantauan lapangan, pemetaan, dokumentasi udara menggunakan drone serta verifikasi batas areal terdampak setelah kondisi lapangan memungkinkan," kata Astekita, Sabtu malam (26/9/2026).

1. Kawasan hutan yang terbakar di Gunung Rinjani

Pemadaman karhutla di kawasan Gunung Rinjani SPTN Wilayah I BTNGR, Sabtu (26/9/2026). (dok. BTNGR)

Dia mengatakan kawasan hutan yang terbakar di Gunung Rinjani berada di Bukit Setampol, Puncak Sangkareang Jalur Pendakian Senaru dan sekitarnya di wilayah Resor Torean dan Senaru. Tim pemadam gabungan melakukan kegiatan pemadaman langsung, pemantauan, patroli, pengamanan jalur pendakian, pemantauan udara menggunakan drone, serta penambahan kekuatan personel dari berbagai unsur.

Dia menjelaskan kebakaran yang terjadi merupakan jenis kebakaran permukaan dengan bahan bakar berupa hutan pinus, semak belukar, perdu, rumput, savana pegunungan, dedaunan kering, serta vegetasi bawah lainnya. Sampai dengan 26 September 2026, rangkaian kegiatan penanganan melibatkan personel dan tenaga pendukung dari berbagai unsur.

Terdiri atas Polisi Kehutanan 1 orang, Pengendali Ekosistem Hutan 1 orang, Balai Dalkarhut 6 orang, KPH Rinjani Barat 2 orang, Manggala Agni 16 orang, Masyarakat Peduli Api (MPA) 43 orang, Polri/Brimob 7 orang, TNI 2 orang, dan Porter 8 orang

Secara keseluruhan, kata dia, sebanyak 80 personel dan tenaga pendukung terlibat dalam rangkaian penanganan kebakaran di kawasan tersebut. Personel ditempatkan dan digerakkan pada sejumlah sektor sesuai kebutuhan penanganan, antara lain Bukit Setampol, Jalur Pendakian Torean, sektor Senaru, Pos 3 Senaru serta kawasan yang mengarah ke Puncak Sangkareang dan Pelawangan Senaru.

"Peralatan yang digunakan meliputi alat pemadam manual, drone, perangkat komunikasi, kendaraan roda empat dan roda dua, perlengkapan lapangan serta dukungan logistik yang juga berasal TO (treking organizer)," terangnya.

2. Sektor jalur pendakian Torean dan Bukit Setampol berhasil dipadamkan

Api berhasil dipadamkan di beberapa titik pada Sabtu (26/9/2026). (dok. BTNGR)

Astekita menambahkan bahwa pada Sabtu, 26 September 2026, operasi pemadaman dan pengendalian dilanjutkan secara simultan pada beberapa sektor. Di sektor jalur pendakian Torean, Tim Pemadam Gabungan sebanyak 24 orang yang terdiri atas enam personel Manggala Agni BTNGR, 10 MPA SPTN Wilayah I, enam MPA SPTN Wilayah II, satu anggota Koramil Bayan dan satu anggota Polsek Bayan melaksanakan mop-up di sekitar Jalur Pendakian Torean.

Setelah dilakukan pemadaman, pemeriksaan dan mop-up sekitar pukul 12.24 WITA api pada sektor yang ditangani berhasil dipadamkan. Tim Pemadam kemudian kembali ke pos masing-masing dan peralatan pemadaman dikembalikan ke Kantor SPTN Wilayah I.

Kemudian di sektor bukit Setampol, Tim yang bergerak melalui sektor Senaru dan Bukit Setampol melanjutkan kegiatan pemadaman dengan dukungan personel BTNGR, Brimob Polda NTB serta masyarakat yang membantu sebagai porter.

Sekitar pukul 15.00 WITA, api pada lokasi yang ditangani dapat dikendalikan dan tim melanjutkan kegiatan mop-up. Selanjutnya pada sekitar pukul 16.30 WITA, api pada sektor tersebut berhasil dipadamkan. Dia menjelaskan, tim pemadam tidak langsung meninggalkan lokasi, tetapi melanjutkan pemeriksaan untuk memastikan tidak terdapat sisa api, bara maupun asap yang berpotensi menyebabkan kebakaran kembali.

Perhatian khusus diberikan pada sektor jalur pendakian Senaru menyusul perkembangan kebakaran yang terpantau mengarah ke kawasan Pelawangan Senaru. Tim patroli pemantauan Jalur Pendakian Senaru yang sebelumnya berjumlah tiga orang mendapatkan tambahan dukungan dari Manggala Agni SPTN Wilayah II sebanyak dua orang, MPA Sembalun tiga orang, MPA Senaru lima orang serta dua staf KPH Rinjani Barat.

Sehingga, jumlah personel di sektor jalur pendakian Senaru menjadi 15 orang. Tim melakukan pemantauan sekaligus upaya pelokalisiran kebakaran di sekitar Pos 3 Senaru dan sekitarnya, termasuk pembersihan bahan bakar permukaan serta pembuatan sekat untuk mengurangi risiko penjalaran api lebih lanjut.

Dia mengungkapkan upaya pemadaman masih menghadapi sejumlah kendala. Angin yang bertiup sangat kencang menyebabkan api dapat bergerak dan meluas dengan cepat. Vegetasi berupa savana pegunungan, semak, rumput dan material organik lainnya juga berada dalam kondisi sangat kering sehingga mudah terbakar.

Selain itu, lokasi kebakaran berada pada medan pegunungan yang jauh, terjal dan sulit dijangkau, sehingga mobilisasi personel, peralatan dan logistik membutuhkan waktu serta tenaga yang cukup besar. Keselamatan personel tetap menjadi pertimbangan utama dalam penentuan waktu pergerakan, akses menuju titik api dan metode pemadaman yang dilakukan.

3. Jalur pendakian Torean dan Senaru ditutup sementara demi keselamatan pengunjung

Pintu masuk Jalur Pendakian Senaru Lombok Utara. (dok. Istimewa)

Sebagai bagian dari strategi penanganan, kata Astekita, BTNGR telah melakukan pengaturan pergantian personel, memperkuat regu pemadam menuju Bukit Setampol dan Jalur Torean, serta menempatkan petugas pemantauan pada Jalur Pendakian Senaru.

Pemantauan udara menggunakan drone juga terus dimanfaatkan untuk membantu mengetahui perkembangan areal terbakar, kondisi vegetasi, arah penyebaran kebakaran serta penentuan lokasi yang perlu mendapatkan prioritas penanganan.

Untuk menjamin keselamatan pengunjung atau pendaki, jalur pendakian Torean dan Senaru di Lombok Utara masih ditutup sementara. Sehingga untuk sementara jalur pendakian Senaru dan Torean tidak digunakan sebagai jalur masuk maupun keluar aktivitas pendakian hingga terdapat kebijakan lebih lanjut berdasarkan hasil evaluasi kondisi lapangan.

"Bagi calon pendaki yang telah memiliki e-ticket melalui jalur wisata pendakian Senaru mulai 26 September 2026, dapat melakukan penjadwalan ulang (reschedule) atau pengalihan pintu masuk dan keluar melalui jalur wisata pendakian Sembalun sampai dengan Jalur Senaru dibuka kembali," kata dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article