Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

21 Ribu Anak di Lotim Tidak Mengenyam Pendidikan Wajib Belajar 9 Tahun

21 Ribu Anak di Lotim Tidak Mengenyam Pendidikan Wajib Belajar 9 Tahun
Ilustrasi siswa sekolah (Dok. Istimewa)
Share Article

Lombok Timur, IDN Times - Sebanyak 21 ribu anak Lombok Timur (Lotim) tidak pernah mengenyam pendidikan untuk sekolah dasar dan menengah atau wajib belajar sembilan tahun. Tingginya angka ini merupakan salah satu penyebab rendahnya pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lotim di tahun 2024. 

Selain di segmen pendidikan, penyebab rendahnya IPM Lotim yaitu pada segmen kesehatan. Di segmen kesehatan ini masih banyak warga Lotim yang tidak memiliki jamban pribadi. 

1. Pengaruh ditinggalkan oleh orangtua jadi pekerja migran

anak anak (facebook.com/WWFIndonesia)
anak anak (facebook.com/WWFIndonesia)

Kepala Dinas Pendidikan Lotim, Muhammad Izzuddin mengatakan, jumlah awal data anak tidak sekolah sebanyak 23.000 anak. Sebanyak 2000 anak telah tertangani melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sehingga saat ini hanya tersisa 21.000 anak. 

Tetapi data sisa 21.000 anak tersebut masih perlu perbaikan karena ada temuan data dobel. Karenanya tahun 2025 nanti akan dilakukan verifikasi dan validasi untuk untuk menghasilkan data yang lebih lengkap.

"Penyebab tingginya angka anak tidak sekolah ini, karena anak-anak usia sekolah tersebut banyak yang ditinggal orang tua menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI)," jelas Izzuddin. 

2. Akan dituntaskan tahun 2025

Santriwati di salah satu Popes di Lotim (IDN Times/Ruhaili)
Santriwati di salah satu Popes di Lotim (IDN Times/Ruhaili)

Izzuddin mengatakan untuk menuntaskan persoalan ini, Pemerintah Kabupaten Lotim, berkomitmen akan menuntaskan persoalan tersebut di tahun 2025. Pihaknya telah menyusun anggaran untuk melaksanakan program pengentasan anak tidak sekolah ini, melalui penyelenggaraan pendidikan kesetaraan melalui pusat kegiatan berbasis masyarakat (PKBM).

"Untuk lebih progresif akan dilaksanakan kerjasama dengan semua pihak, termasuk dengan melibatkan ibu-ibu kader desa," ujarnya.

Selain melibatkan kader-kader desa dan PKBM, pihaknya juga akan bekerjasama dengan Kantor Kementerian Agama, karena bicara soal pendidikan dasar tidak hanya di bawah kewenangan Dikbud Lotim, tapi juga Kementerian Agama.

"Dengan Kemenag akan bekerja sama untuk bersama-sama melalukan verifikasi dan validasi data tersebut," pungkasnya.

3. Pertumbuhan IPM Lotim stagnan

Kepala BPS Lotim, Muhadi (IDN Times/Ruhaili)
Kepala BPS Lotim, Muhadi (IDN Times/Ruhaili)

Badan Pusat Statistik (BPS) Lotim telah merilis Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pertumbuhan angka IPM Lotim tahun 2024 masih stagnan yaitu sebesar 0.83 poin. Lotim masih berada di peringkat ketujuh dari seluruh Kabupaten/Kota se NTB, yakni 71,48 poin, terbawah ketiga setelah Kabupaten Lombok Utara 68,64 poin dan Lombok Tengah 71,19 poin. Meski stagnan, namun laju pertumbuhan dinilai terbesar di NTB.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Lotim, Muhadi mengatakan, penyebab stagnannya IPM Lotim karena disebabkan segmen pendidikan dan kesehatan yang masih rendah. 

"Angka Rata lama sekolah 2024 Lotim sebanyak 7,36 tahun, itu artinya anak-anak berhenti sekolah ketika sudah kelas dua SMP. Harapan lama sekolah sudah 14,07 tahun atau kuliah semester V. Sementara segmen kesehatan dilihat dari Umur Harapan Hidup (UHH) 71,95. Artinya, masyarakat yang dilahirkan tahun 2024 memiliki harapan hidup 71-72 tahun," pungkas Muhadi.

Share Article
Topics
Editorial Team
Linggauni -
Ruhaili
Linggauni -
EditorLinggauni -
Ruhaili
EditorRuhaili

Latest News NTB

See More

Inovasi Pengolahan Tembaga di Sumbawa Barat Dapat Pengakuan Internasional

28 Mei 2026, 16:35 WIBNews