Ilustrasi Kapal Feri (Kapal Penyeberangan) (IDN Times/Sukma Shakti)
Kapal barang ini, kata Gegen, erat kaitannya dengan perairan Pohgading atau Selat Alas yang pernah ramai pada abad ke-18. Ada sejumlah pelabuhan yang ramai pada waktu itu, yakni Pelabuhan Labuhan Haji, Pijot, dan Labuhan Lombok.
Perairan Pohgading menjadi jalur yang dilewati oleh kapal-kapal barang pada masa lampau. Di Dusun Dedalpak ada cerita turun temurun tentang peristiwa Dapur Cina. Yaitu peristiwa terdamparnya kapal barang dari Cina di Dedalpak.
"Karena memang pada waktu itu Pelabuhan Labuhan Haji sangat ramai. Menjadi pusat perdagangan di Lombok Timur. Kapal-kapal dari laut Jawa dan Maluku kalau singgah ke Labuhan Haji melewati laut Pohgading," tuturnya.
Terkait penemuan bangkai kapal ini, Pemerintah Desa Pohgading telah melaporkan ke aparat kepolisian. Selain itu, Pemdes abersurat ke Dinas Dikbud. "Nanti Dinas Dikbud akan mendatangkan tim arkeologi. Namun kita bisa juga ke Balai Pelestarian Cagar Budaya di Bali. Kita sedang bersurat ke sana," tandasnya.
Gegen menambahkan masyarakat Pohgading mendesak agar tambang pasir besi di lokasi penemuan baangkai kapal agar dihentikan. Karena kerusakan akibat tambang pasir besi sudah cukup parah. "Garis pantai sudah menipis dari awalnya 5 meter, sekarang sudah mulai masuk tanah kebun warga," ungkapnya.