Pusat Gelontorkan Rp84,5 Miliar untuk Revitalisasi Pasar Seni Senggigi

Mataram, IDN Times - Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menggelontorkan anggaran sebesar Rp84,5 miliar untuk revitalisasi Pasar Seni Senggigi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Pembangunan fisik direncanakan mulai awal 2027, dengan arah pengembangan tidak sekadar memperbarui bangunan, tetapi menghidupkan kembali Kawasan Pariwisata Senggigi sebagai ruang wisata, seni budaya, dan pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan, keberhasilan revitalisasi Pasar Seni Senggigi ditentukan oleh kemampuan kawasan menarik pengunjung dan menjaga aktivitas tetap berlangsung setelah pembangunan selesai.
"Senggigi itu dulu jewel-nya Lombok. Sekarang kita perlu upaya dan imajinasi luar biasa untuk menghidupkannya kembali," kata Iqbal saat memimpin rapat review desain Pasar Seni Senggigi bersama Tim PT Terra Allenia Global di Mataram, Kamis (15/10/2026).
1. Kawasan Pasar Seni Senggigi perlu dirancang multifungsi

Pantai Senggigi Lombok Barat. (IDN Times/Muhammad Nasir) Menurut Iqbal, yang dibutuhkan dalam revitalisasi Pasar Seni Senggigi bukan sekadar bangunan. Tetapi bagaimana menciptakan momentum agar orang mau datang dan berkumpul lagi di kawasan Senggigi.
Menurutnya, Pasar Seni Senggigi perlu dirancang sebagai kawasan multifungsi atau mixed-use plaza yang memadukan perdagangan produk lokal dengan pertunjukan seni budaya, kegiatan komunitas, edukasi, olahraga luar ruang, dan ruang bersosialisasi. Dengan konsep ini, masyarakat dan wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk datang, tidak hanya untuk membeli kerajinan atau cendera mata.
“Jarang orang datang hanya untuk mencari atau membeli barang seni. Tetapi kalau mereka datang untuk nongkrong, jogging, atau belajar tari, mereka juga bisa mampir ke pasar seni. Jadi, pasar seni menjadi bagian dari keseluruhan konsep, bukan satu-satunya alasan orang datang,” kata dia.
2. Diharapkan jadi simpul perjalanan wisata yang menghubungkan berbagai destinasi

Salah satu destinasi wisata pantai di Kawasan Senggigi Lombok Barat. (IDN Times/Muhammad Nasir) Aktivitas yang beragam diharapkan membuka peluang bagi perajin, pedagang, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pekerja seni, serta usaha kuliner dan jasa pariwisata. Namun, manfaat tersebut tidak akan muncul otomatis. Pengelolaan kawasan, keterisian kios, promosi produk, kebersihan, kenyamanan, dan agenda kegiatan yang berkelanjutan menjadi penentu agar perputaran ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat lokal.
Iqbal juga mengharapkan Pasar Seni Senggigi menjadi simpul perjalanan wisata yang menghubungkan berbagai destinasi, mulai dari Kota Tua Ampenan, gugusan Gili, hingga kawasan wisata Lombok Utara. Integrasi dengan promosi dan paket perjalanan dapat memperkaya pengalaman wisatawan melalui seni budaya dan produk kreatif lokal.
3. Pembangunan fisik mulai 2027

Amphiteater di Pasar Seni Senggigi Lombok Barat. (IDN Times/Istimewa) Iqbal mengingatkan agar desain revitalisasi Pasar Seni Senggigi tidak menghasilkan bangunan baru tanpa fungsi yang jelas. Perencanaan perlu memperhatikan keterbatasan lahan parkir, akses pengunjung, dan optimalisasi ruang. Penyesuaian desain dilakukan dengan mempertimbangkan dokumen Detail Engineering Design (DED) yang telah disiapkan pemerintah pusat.
“Kita tidak ingin menambah satu gedung lagi tanpa konsep yang kuat. Kesempatan mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat ini tidak mudah. Karena itu, kita harus memanfaatkannya betul-betul untuk menjadi generator pertumbuhan dan mengangkat kembali marwah Senggigi,” tegasnya.
Dengan rencana pekerjaan fisik mulai awal 2027, pematangan desain menjadi tahap penting untuk memastikan pembangunan menjawab kebutuhan kawasan dan masyarakat. Keberhasilan revitalisasi nantinya bukan hanya diukur dari berdirinya fasilitas baru, melainkan juga dari meningkatnya kunjungan, berkembangnya usaha lokal, terbukanya peluang kerja, dan hidupnya aktivitas seni budaya.
Dia berharap Pasar Seni Senggigi kembali menjadi ruang pertemuan pariwisata, budaya, dan ekonomi rakyat. Anggaran pembangunan menjadi modal awal, sedangkan keberlanjutan manfaatnya ditentukan oleh kualitas pengelolaan dan keterlibatan masyarakat.
"Senggigi tidak cukup dibangun kembali, kawasan ini harus dihidupkan agar kemajuan pariwisata ikut menggerakkan kesejahteraan warga," tandasnya.



















