Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Petinggi BGN Dicopot, Satgas Pastikan MBG di NTB Tetap Berjalan Normal
Ketua Satgas MBG Provinsi NTB Fathul Gani. (IDN Times/Muhammad Nasir)
  • Satgas MBG NTB memastikan program tetap berjalan normal meski tiga petinggi BGN dicopot, karena sistem organisasi sudah otomatis dan koordinasi pusat-daerah tetap solid.
  • Efisiensi dilakukan dengan mengurangi hari distribusi menjadi lima tanpa menurunkan kualitas gizi, serta pengawasan transparan melalui aplikasi resmi untuk memantau laporan dan menu harian.
  • Program MBG di NTB menyerap lebih dari 39 ribu tenaga kerja, melibatkan 4.300 penyedia lokal, dan menggerakkan dana Rp27,7 miliar per hari guna memperkuat ekonomi daerah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mataram, IDN Times - Satuan Tugas (Satgas) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memastikan bahwa operasional program nasional ini di daerah tetap berjalan normal usai pencopotan tiga petinggi Badan Gizi Nasional (BGN). Presiden Prabowo Subianto mencopot Kepala BGN Dadan Hindayana dan dua Wakil Kepala BGN, Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya.

Ketua Satgas MBG Provinsi NTB Fathul Gani mengatakan pergantian tiga petinggi BGN tersebut tidak akan mengganggu jalannya program MBG di lapangan. Dia menyatakan bahwa secara struktur organisasi, sistem yang telah dibangun sudah berjalan secara otomatis dan langsung terisi, sehingga dampaknya terhadap operasional program MBG di daerah sangat minim.

"Ini kan langsung terisi, sehingga kami yakini tidak terlalu berdampak kepada operasional program MBG di daerah. Marena ini program nasional, kita pastikan di daerah tetap berjalan," kata Fathul di Mataram, Rabu (3/6/2026).

1. Koordinasi pusat dan daerah berjalan baik

Ilustrasi dapur MBG di NTB. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Fathul menambahkan, sejauh ini koordinasi antara pusat dan daerah berjalan dengan sangat baik. Pihaknya juga terus menjalin komunikasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lapangan untuk memastikan kesiapan operasional dan menyelesaikan kendala teknis yang muncul di tingkat bawah.

Terkait dengan adanya langkah efisiensi, Asisten I Setda NTB ini menjelaskan bahwa langkah tersebut tidak mempengaruhi kualitas maupun porsi makanan yang diterima oleh penerima manfaat program MBG. Penyesuaian dilakukan pada aspek manajemen waktu distribusi, bukan pada kandungan gizi.

"Kalau kualitas kan ndak (berkurang). Yang berkurang kan angka, tetapi untuk porsi itu kan tetap. Porsi kecil 13, porsi besar 15," jelasnya.

Bentuk efisiensi nyata yang saat ini diterapkan adalah penyederhanaan hari distribusi dari yang semula enam hari menjadi lima hari kerja. Pada hari libur sekolah, distribusi makanan memang sengaja ditiadakan sebagai bagian dari strategi efisiensi anggaran MBG.

Untuk transparansi, setiap SPPG diwajibkan untuk mengunggah laporan operasional, menu makanan, harga, hingga asupan kecukupan gizi secara berkala, baik melalui media sosial maupun aplikasi resmi milik BGN. Melalui aplikasi tersebut, pengawasan dapat dilakukan secara real-time. SPPG yang lalai dalam mengunggah menu harian akan langsung terdeteksi oleh sistem di pusat dan daerah.

2. Fokus sasaran kelompok rentan

Ilustrasi siswa mendapatkan MBG pada salah satu sekolah di Kota Mataram. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Saat ini, kata dia, fokus utama program MBG di NTB diarahkan untuk menyisir kelompok rentan, khususnya kelompok 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui/melahirkan, dan balita serta anak sekolah. Dia mengingatkan masyarakat agar tidak percaya terhadap janji penentuan titik lokasi pembangunan SPPG di NTB.

"Jangan percaya sama jual beli titik lokasi! Apalagi dalam situasi efisiensi seperti ini. Kalau mau tahu, silakan tanya ke Korwil kabupaten maupun provinsi karena mereka yang memegang aplikasi resminya," tegas Fathul.

3. Perputaran dana MBG di NTB Rp27,7 miliar per hari

Paket MBG makanan kering untuk siswa SDN 34 Ampenan Kota Mataram. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Hingga Mei 2026, pelaksanaan MBG di NTB tercatat telah memiliki 842 SPPG. Dari jumlah tersebut, sebanyak 733 SPPG yang aktif beroperasi. Program tersebut melibatkan lebih dari 4.300 penyedia lokal, menyerap lebih dari 39 ribu tenaga kerja, dan menjangkau sekitar 1,9 juta penerima manfaat.

Pemerintah menggelontorkan anggaran MBG di NTB sekitar Rp27,7 miliar per hari. Dimana, Lombok Timur menjadi daerah terbesar penerima distribusi anggaran sebesar Rp8,3 miliar, disusul Lombok Tengah Rp6,2 miliar dan Lombok Barat Rp3,9 miliar.

Sekda NTB Abul Chair mengatakan program MBG tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan gizi anak. Namun juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui keterlibatan petani, peternak, nelayan, UMKM, koperasi, hingga distribusi lokal dalam satu ekosistem ekonomi daerah.

Dia mendorong agar manfaat program MBG benar-benar dirasakan masyarakat lokal melalui penguatan rantai pasok daerah agar produk lokal mampu bersaing dan tidak kalah oleh produk dari luar daerah. Abul Chair menekankan tiga hal utama dalam pelaksanaan program MBG, yaitu penguatan rantai pasok lokal, keamanan dan kualitas pangan, serta disiplin terhadap SOP dan tata kelola program.

Editorial Team

Related Article