Petani Keluhkan Harga Gabah di Lotim Tak Sesuai Harga Beli Pemerintah

Lombok Timur, IDN Times - Sebagian wilayah Lombok Timur (Lotim) telah mulai melakukan panen padi. Tetapi petani harus merasa kecewa sebab harga gabah telah turun, padahal belum memasuki panen raya. Bahkan harga gabah saat ini jauh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah diinstruksikan oleh presiden Prabowo Subianto sebesar Rp6.500 per kilogram.
Dalam instruksi tersebut, harga itu berlaku untuk gabah kering panen dengan kadar air maksimal 25%, dengan tujuan untuk melindungi petani dan memastikan mereka mendapatkan harga yang wajar untuk hasil panen mereka. Tetapi harga tersebut ternyata tidak sesuai dengan fakta lapangan, sebab harga jauh dari standar tersebut.
1. Petani menjual dengan harga Rp5.300 per kilogram

Di lapangan saat ini harga gabah untuk kering panen telah turun menjadi Rp5.300 per kilogram. Harga ini lebih rendah Rp1.200 dari yang ditetapkan oleh Presiden Prabowo sebesar Rp6.500 per kilogram. Petani mengeluhkan harga tersebut sebab tidak sesuai dengan yang dijanjikan pemerintah.
"Saya menanam padi lebih awal dengan harapan bisa mendapatkan harga lebih baik, sebelum panen raya. Tapi ternyata belum aja panen raya harga gabah telah anjlok. Saya harapannya bisa menjual dengan kisaran harga Rp6.500-7.000, tapi ternyata tanam lebih awal tidak ada beda sama saat panen raya," ujar Jamal, seorang petani asal Desa Darma Sari.
2. Pesimis harga bisa stabil saat panen raya

Sementara itu petani yang menanam belakangan pesimis harga padi bisa stabil saat panen raya. Sebab saat ini panen raya belum dilakukan harga sudah anjlok duluan. Hal itu diungkapkan Ahmad Yani, petani asal Desa Kabar Kecamatan Sakra, Lotim. Ia khawatir harga gabah saat panen raya akan lebih anjlok seperti pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu dikisaran harga Rp 3.750 - 4.000 per kilogram.
"Yang menanam lebih awal memang harga gabahnya lebih tinggi, makanya yang sawanya memiliki air yang cukup memilih menanam lebih awal. Tapi kita yang tidak cukup air, yang bergantung pada hujan kena masa panen raya pasti harga anjlok. Siklus ini selalu terjadi setiap tahun, makanya saya pesimis harga bisa stabil, apalagi sesuai dengan harga yang ditetapkan Persiden," ujarnya pesimis.
Meskipun pesimis, ia tetap berharap saat panen raya harga gabah petani bisa stabil. Ia meminta pemerintah bisa turun tangan melakukan kontrol harga agar harga bisa stabil. Karena jika stabil diharga tersebut, petani bisa mendapatkan keuntungan. Sebab kondisi saat ini biaya produksi telah meningkat.
"Kita berharap harga gabah ini stabil di harga yang telah ditetapkan presiden," ucapnya.
3. Bulog jamin harga gabah stabil

Kepala Bulog Lotim, Supermansyah mengatakan, menghadapi panen raya gabah tahun ini, pemerintah telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) di angka Rp6.500 per kilogram. Untuk menjamin harga stabil, pihaknya telah membentuk tim bekerja sama dengan Dinas Pertanian Lotim untuk jemput bola melakukan pembelian ke lapangan jika terjadi penurunan harga.
"Harga sudah ditetapkan pemerintah Rp6.500 per kilogram dengan ketentuan sesuai kualitas, kotoran maksimal 10 persen dan HKA 50 persen," jelas Supermansyah.
Pada panen raya ini, Supermansyah menegaskan pihaknya akan menyerap seluruh gabah petani, dengan memaksimalkan mitra penggilingan padi. Sehingga petani diimbau untuk tidak khawatir dengan anjloknya harga.
"Secara nasional, target serapan gabah sebanyak 3 juta ton, NTB sebanyak 180.000 ton. Sedangkan untuk Lotim masih menunggu keputusan dari Bulog NTB," ucapnya.