Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

NTB Peringkat Ketiga Destinasi Ramah Muslim IMTI 2026

Kota Mataram
3 min read
NTB Peringkat Ketiga Destinasi Ramah Muslim IMTI 2026
Wisatawan menikmati keindahan Sirkuit Mandalika dari Bukit Pantai Seger. (IDN Times/Muhammad Nasir)
  • NTB menempati peringkat ketiga destinasi pariwisata ramah muslim nasional dalam IMTI 2026, di bawah Jawa Barat dan Jawa Tengah; penghargaan diterima Sekda Abul Chair di ISEF Jakarta.
  • Pemprov NTB menekankan peningkatan layanan, akses fasilitas wisatawan Muslim, kebersihan, keamanan, kenyamanan, dan keramahan masyarakat agar destinasi tetap kompetitif serta inklusif bagi berbagai kalangan.
  • NTB mendorong kolaborasi pemerintah, industri, masyarakat, dan mitra strategis untuk memperkuat standar layanan, SDM, promosi, serta ekonomi halal demi kunjungan, usaha, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mataram, IDN Times - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) masuk tiga besar nasional sebagai destinasi pariwisata ramah muslim 2026. Dalam ajang Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026, NTB berada di peringkat ketiga di bawah Jawa Barat dan Jawa Tengah yang menempati peringkat pertama dan kedua.

Penghargaan tersebut diterima Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal yang diwakili Sekretaris Daerah NTB Abul Chair dari Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana pada gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (16/10/2026).

Sekda NTB Abul Chair mengatakan penghargaan tersebut bukan semata-mata pengakuan atas capaian daerah. Melainkan juga cerminan kerja bersama dalam menjaga kualitas dan memperkuat ekosistem pariwisata ramah muslim di NTB.

“Ini merupakan kebanggaan sekaligus pengakuan atas konsistensi kita dalam membangun pariwisata ramah Muslim. Namun, yang lebih penting dari penghargaan ini adalah bagaimana kita menjaga kualitas, meningkatkan pelayanan, dan memastikan pariwisata memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Abul Chair, Sabtu (17/10/2026).

  1. 1. Persaingan semakin kompetitif

    IMG-20260827-WA0013.jpg
    Sekda NTB Abul Chair. (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Menurutnya, capaian tersebut harus dimaknai sebagai dorongan untuk terus berbenah. Sebab, persaingan destinasi pariwisata semakin kompetitif, sehingga keunggulan NTB tidak cukup hanya bertumpu pada keindahan alam dan kekayaan budaya.

    Kualitas layanan, kemudahan akses terhadap fasilitas yang dibutuhkan wisatawan Muslim, kebersihan, keamanan, kenyamanan, serta keramahan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman wisata yang berkesan.

    Dia menegaskan, pengembangan pariwisata ramah muslim tidak berarti membatasi segmen wisatawan, melainkan menghadirkan destinasi yang semakin nyaman dan inklusif bagi berbagai kalangan. Dengan pendekatan tersebut, NTB memiliki peluang memperluas pasar wisatawan sekaligus memperkuat citra sebagai destinasi yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya, dan layanan berkualitas.

    “Tantangan berikutnya adalah memastikan prestasi ini berbanding lurus dengan peningkatan kunjungan, tumbuhnya usaha masyarakat, terbukanya lapangan kerja, dan semakin kuatnya kontribusi pariwisata terhadap perekonomian daerah,” kata dia.

  2. 2. Penguatan pariwisata ramah muslim Indonesia di pasar global

    Ilustrasi wisatawan mancanegara di Pantai Seger KEK Mandalika. (IDN Times/Muhammad Nasir)
    Ilustrasi wisatawan mancanegara di Pantai Seger KEK Mandalika. (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu kunci dalam mempertahankan daya saing tersebut. Pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, masyarakat, serta mitra strategis, termasuk Bank Indonesia, perlu terus memperkuat sinergi untuk meningkatkan standar pelayanan, kapasitas sumber daya manusia, promosi destinasi, dan pengembangan rantai nilai ekonomi halal.

    Prestasi NTB ini, kata Abul Chair, berada dalam momentum penguatan pariwisata ramah muslim Indonesia di pasar global. Dalam gelaran Indonesia Muslim Friendly Travel Summit yang menjadi bagian dari ISEF 2026, disampaikan bahwa Indonesia naik ke peringkat kedua dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026, dari posisi kelima pada 2025. Perkembangan ini membuka peluang lebih luas bagi destinasi daerah untuk memperkuat daya saing dan menjangkau pasar wisatawan muslim internasional.

  3. 3. Tantangan mewujudkan kualitas destinasi wisata

    Salah satu kawasan ekonomi khusus, Bukit Pantai Seger Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Lombok Tengah. (IDN Times/Muhammad Nasir)
    Salah satu kawasan ekonomi khusus, Bukit Pantai Seger Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Lombok Tengah. (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Dijelaskan, ISEF ke-13 berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di JICC, Jakarta, dengan melibatkan mitra ekonomi dan keuangan syariah domestik maupun internasional serta lebih dari 1.000 pelaku industri halal. Berbagai forum dan kegiatan dalam penyelenggaraan tersebut menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah, termasuk pengembangan pariwisata ramah muslim sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru.

    Abul Chair menegaskan bahwa mempertahankan posisi tiga besar pariwisata ramah muslim 2026 bukanlah garis akhir, melainkan pijakan untuk melangkah lebih jauh. Tantangan sesungguhnya, kata dia, menerjemahkan pengakuan nasional tersebut menjadi kualitas destinasi yang semakin baik, peluang usaha yang semakin luas, dan kesejahteraan masyarakat yang semakin nyata.

    "Sebab, keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari posisi dalam indeks, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya dirasakan oleh masyarakat NTB," ujarnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More