Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Krisis Air Bersih di Bima Meluas hingga Tiga Kecamatan
Ilustrasi warga membeli air bersih karena kekeringan. (IDN Times/Asrhawi Muin)

Bima, IDN Times - Wilayah yang terdampak kekeringan air bersih di Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus meluas. Dari sebelumnya hanya Desa Kalampa dan Talabiu Kecamatan Woha, kemudian bertambah menjadi lima desa yang terdampak.

Lima desa tersebut masing-masing Desa Samili Kecamatan Woha. Kemudian Desa Tonggorisa, Belo Kecamatan Palibelo dan Desa Parangina Kecamatan Sape.

"Jadi total yang alami kekurangan air bersih sekarang ada 7 desa di tiga kecamatan," kata kepala bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bima, Nurul Huda dikonfirmasi Jumat (19/8/2024).

1. BPBD distribusi air ke warga

Presiden Joko Widodo meninjau pompanisasi persawahan di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Jumat (5/7/2024). (Dok. BPMI Setpres/Muchlis Jr)

Nurul Huda mengatakan, pihaknya terus melakukan distribusi air bersih ke tujuh desa yang terdampak tersebut. Dalam sehari, paling sedikit air yang disalurkan tiga mobil tangki.

"Tergantung permintaan warga. Biasanya dalam sehari, paling sedikit air bersih yang disalurkan sebanyak 3 mobil tangki," jelasnya.

2. Perlu dana yang besar

Ilustrasi kekayaan (pixabay)

Senada juga dikatakan kepala pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Bima, Isyra. Ia memprediksi wilayah terdampak air bersih di Bima akan terus meluas, jika mengacu pada ramalan Badan Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Mengenai dana penanganan krisis air bersih, hingga saat ini masih menggunakan anggaran rutin. Anggaran yang lebih besar biasanya baru bisa dikucurkan ketika ada peningkatan status kekeringan.

"Kalau statusnya naik, baru ada anggaran penanganan yang lebih besar. Sekarang masih gunakan anggaran rutin," jelas dia Jumat (19/7/2024).

3. Dipicu karena hutan banyak dibabat

Ilustrasi kekeringan. (unsplash.com/Gyan Shahane)

Menurut Isyra, kekeringan di Kabupaten Bima akibat dari kurangnya mata air dari dalam tanah. Kondisi itu dampak dari pembabatan hutan yang dilakukan petani untuk perluasan lahan pertanian.

"Faktornya, karena hutan kita banyak yang dibabat dipakai petani untuk tanam jagung. Faktor itu bukan lagi rahasia umum," pungkasnya.

Editorial Team

Related Article