Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Baru 39 Unit Huntara Korban Gempa NTT yang Terbangun
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto meninjau Huntara bagi korban gempa Flores. (Dok BNPB)
  • BNPB mencatat 39 hunian sementara rampung per 30 September 2026 di enam kabupaten Flores terdampak gempa magnitudo 7,7 pada 15 Agustus, sementara pembangunan ratusan unit lainnya berlanjut.

  • Data kerusakan menunjukkan kebutuhan hunian masih besar, termasuk 1.961 rumah rusak berat di Manggarai, Nagekeo, dan Sikka; penyintas dapat memilih huntara atau Dana Tunggu Hunian.

  • Jumlah pengungsi turun 87 persen menjadi 22.383 jiwa dari 179.037 jiwa pada awal tanggap darurat; sebagian masih menunggu huntara sebelum memasuki rehabilitasi dan rekonstruksi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Setelah gempa besar di Flores, BNPB sudah membuat 39 rumah sementara untuk warga. Rumah itu ada di beberapa kabupaten. Banyak rumah lain masih dibuat karena banyak rumah warga rusak berat. Warga boleh memilih rumah sementara atau uang bantuan. Sekarang masih ada 22.383 orang di pengungsian sambil menunggu rumah selesai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kupang, IDN Times - Pembangunan hunian sementara masih dikerjakan dengan 39 unit rumah yang baru selesai per 30 September 2026 lalu. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, dalam kunjungannya ke Ngada.

Berdasarkan data sementara BNPB, sedikitnya 39 unit huntara ini telah selesai dibangun di enam kabupaten Pulau Flores yang terdampak gempa magnitudo 7,7 pada 15 Agustus lalu. Pada saat yang sama, BNPB menerima laporan data kerusakan rumah dari sejumlah daerah yang menunjukkan skala kebutuhan hunian pascagempa masih cukup besar.

1. Rincian per kabupaten

BNPB meninjau Huntara bagi korban gempa Flores. (Dok BNPB)

Ia merinci, untuk Kabupaten Manggarai, empat unit huntara telah selesai dibangun, sementara 110 unit masih dalam proses pembangunan. Sebanyak 50 unit memiliki progres lebih dari 50 persen, sedangkan 60 unit lainnya masih di bawah 50 persen. Berdasarkan verifikasi Pemerintah Kabupaten Manggarai, tercatat 1.494 rumah mengalami rusak berat.

Di Manggarai Timur, enam unit telah selesai dibangun dan 561 unit huntara masih dalam proses pengerjaan. Pada wilayah ini, digunakan skema insitu maupun eksitu yang disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan warga terdampak, dari total target 1.305 unit huntara.

Kemudian di Ngada, sudah 11 huntara yang selesai dibangun, terdiri atas huntara mandiri dan huntara insitu, sementara 272 unit lainnya masih dalam proses pembangunan. Di Nagekeo, sebanyak sembilan unit huntara insitu telah selesai dibangun dan 173 unit lainnya masih dalam proses penyelesaian, dengan data kerusakan tercatat sebanyak 314 unit rumah rusak berat.

Untuk di Sikka, dua huntara sudah selesai dibangun, sementara 25 unit lainnya masih dibangun secara paralel. Rumah rusak berat di Sikka tercatat sebanyak 153 unit. Di Ende, tujuh unit huntara telah selesai dibangun dan tujuh unit lainnya masih dalam tahap pembangunan.

"Dengan pengerjaan ini diharapkan secepatnya penyintas tak lagi tinggal di pengungsian," ungkapnya.

2. Diberikan dua opsi kepada penyintas

BNPB meninjau Huntara bagi korban gempa Flores. (Dok BNPB)

Khusus untuk kategori rusak berat di Manggarai, Nagekeo dan Sikka sendiri saja jumlahnya mencapai 1.961 unit. Data ini belum mencakup rincian kerusakan dari seluruh tujuh kabupaten terdampak yang disebut BNPB.

"BNPB memberikan dua pilihan kepada warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat, yakni huntara atau Dana Tunggu Hunian (DTH). Warga yang memilih DTH mendapatkan bantuan Rp600 ribu per bulan selama tiga bulan sambil menunggu pembangunan hunian tetap. Sebagian besar warga terdampak memilih skema huntara," jelasnya.

Pembangunan Huntara sendiri, kata dia, berjalan secara bertahap berdasarkan jumlah penerima manfaat yang telah ditetapkan pemerintah daerah. Lokasi pembangunan juga dibahas bersama masyarakat dengan mempertimbangkan kondisi lapangan.

3. Jumlah pengungsi berkurang

Situasi lokasi pengungsian korban gempa Flores. (Dok KOREM Wira Sakti Kupang)

Berdasarkan data BNPB per 30 September 2026, jumlah warga yang masih berada di pengungsian mencapai 22.383 jiwa, turun sekitar 87 persen dari 179.037 jiwa pada awal masa tanggap darurat.

"Sebagian penyintas yang masih bertahan di pengungsian merupakan warga yang menunggu penyelesaian pembangunan huntara," tukasnya lagi.

Ia menyebut huntara dirancang sebagai tempat sementara selama masa transisi sebelum masyarakat mendapatkan hunian tetap pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article