Bapackguru, Musisi Lombok yang Bakal Tampil pada MotoGP Mandalika 2026

- Jien Raharja, musisi asal Sakra, Lombok Timur, dikenal sebagai BAPACKGURU sambil tetap mengajar seni musik dan dijadwalkan tampil pada MotoGP Mandalika 2026.
- Perjalanan musik Jien dimulai sejak sekolah, berlanjut melalui pendidikan seni di Yogyakarta, serta pengalaman tampil di kafe, pernikahan, mengamen, dan berbagai kelompok musik.
- Bersama The Datu dan proyek solo BAPACKGURU, Jien mengangkat cerita Lombok serta bahasa Sasak; “Lombok yang Ada Kamunya” telah digunakan dalam ribuan konten media sosial.
Take a Deeper Reads

Mataram, IDN Times - Tanjung Aan, Selong, Sembalun, Bayan, Ampenan, hingga Bukit Merese hadir dalam satu lagu tentang rindu. Jien Raharja atau BAPACKGURU merangkai nama-nama tempat itu dengan kenangan tentang seseorang melalui lagu “Lombok yang Ada Kamunya”.
Lagu itu kemudian mengiringi konten perjalanan, kenangan, dan kisah cinta di media sosial. Nama BAPACKGURU semakin dikenal, membawa perhatian publik kepada seorang musisi yang juga mengajar seni musik. Ia berasal dari Sakra, Lombok Timur dan kini menjadi salah satu musisi kebanggaan Gumi Selaparang.
Festival sekolah, kafe-kafe di Yogyakarta, dan panggung The Datu menjadi bagian dari perjalanan musiknya. Dari rangkaian pengalaman itu, Jien melanjutkan langkah sebagai solois sambil tetap menjalani keseharian sebagai guru.
1. Musik tumbuh sejak sekolah, lalu membawanya ke Yogyakarta

Musisi Lombok, Bapack Guru. (Dok.Istimewa) Musik masuk ke kehidupan Jien sejak masa sekolah. Saat SMP, ia mengikuti berbagai festival musik dan beberapa kali pulang sebagai juara. Memasuki SMA, kegiatannya bertambah dengan bermain band dan mulai menciptakan lagu.
Jien kemudian membawa minatnya ke Yogyakarta dengan melanjutkan pendidikan seni musik. Di kota ini, pengalaman belajar secara akademis berjalan bersama kehidupan yang ia jalani sebagai musisi.
Kafe-kafe dan acara pernikahan menjadi bagian dari tempatnya bermain musik. Ia juga mengamen serta tampil bersama berbagai kelompok musik selama berada di Yogyakarta. Di tengah kegiatan itu, Jien terus menulis dan menciptakan lagu, memperpanjang perjalanan yang sudah ia mulai sejak sekolah.
"Saya menjadi bagian dari band The Datu dan kini sebagai Bapackguru. Saya merasa bahwa bermusik itu sangat menyenangkan dan memberi banyak pengalaman berharga dalam hidup saya," ujarnya kepada IDN Times, Rabu (7/10/2026).
2. Pulang ke Lombok, membawa cerita Sasak bersama The Datu

Musisi Lombok, Bapack Guru. (Dok.Istimewa) Sekembalinya ke Lombok, Jien melanjutkan perjalanan bermusik bersama The Datu. Band yang berdiri sejak 2014 ini menjadi ruang baginya untuk berkarya sebagai vokalis sekaligus ikut menggerakkan proses kreatif. Bersama rekan-rekannya, ia membawakan lagu berbahasa Sasak dengan pendekatan musik pop modern.
Dalam karya mereka, bahasa Sasak bertemu cerita cinta, budaya, pariwisata, dan keseharian masyarakat Lombok. Cerita-cerita itu hadir melalui “Menari di Rinjani”, “Berayen Dengan”, “Sasak Besahabat”, “Berayean Jaoq”, serta “Sepinate”. Ada pula “Keras Pemetaq”, yang mengisahkan anak muda Lombok bekerja sebagai buruh migran demi masa depan dan cinta.
Jien menyebut “Keras Pemetaq” telah memperoleh ratusan ribu penayangan di YouTube. Lagu ini juga digunakan sebagai musik latar untuk mengiringi unggahan tentang bekerja demi diri sendiri dan keluarga. Karya The Datu kemudian tersedia di Spotify, Joox, Apple Music, dan Deezer, membuka akses bagi pendengar di luar Lombok untuk mengenal cerita-cerita berbahasa Sasak.
"Saya berharap lagu-lagu saya dapat diterima dengan baik oleh semua pendengar atau pencinta musik di Tanah Air, terutama bagi warga Lombok," ujarnya.
3. BAPACKGURU menjadi tempat bercerita dengan lebih personal

Musisi Lombok, Bapack Guru. (Dok.Istimewa) Pekerjaan sebagai pengajar seni musik memberi Jien nama panggung BAPACKGURU. Melalui proyek solo ini, ia memiliki ruang yang lebih personal untuk menyampaikan cerita lewat lagu ciptaannya. “Lombok yang Ada Kamunya” tumbuh dari gagasan bahwa ingatan tentang Lombok juga melekat pada orang dan pengalaman yang pernah hadir di sana.
JIien mengatakan bahwa lagu itu berawal dari komunikasi untuk proyek kolaborasi, sebelum akhirnya diputuskan lebih cocok dibawakan sebagai karya solo Jien. Aransemennya dikerjakan bersama Didik Mahsyar, Alfian Bakti, dan Oyok Sapriadi, dengan sejumlah musisi Lombok ikut terlibat dalam rekaman. Dalam laporan Konser Lombok pada 13 Juni 2026, video lagunya telah melampaui 70 ribu penayangan di YouTube, sementara musiknya digunakan dalam lebih dari 6 ribu konten Instagram dan TikTok.
Cerita Jien berlanjut melalui “Mulai Dari Nol”, lagu pop dengan sentuhan tradisional, dangdut, dan EDM tentang saling memaafkan, lalu “Kalah Menang Tetap Kamu” pada 2026, tentang seseorang yang terus menemani dalam keberhasilan maupun kegagalan. Pada Juni 2026, ia tampil di panggung utama Festival Muharram Lombok Timur di Lapangan GOR Lalu Muslihin, Selong, dalam rangkaian acara yang menghadirkan GIGI dan Bams. Di tengah perjalanan lagu dan panggungnya, Jien tetap mengajar seni musik, menjalani dua bagian kehidupan yang kini bertemu dalam nama BAPACKGURU.
"Saya senang menjalani profesi saya sebagai guru sekaligus sebagai musisi. Semoga lagu-lagu saya maupun The Datu dapat terus mengibur pendengar di mana pun berada," harapnya.






![[BREAKING] Gempa Magnitudo 5,2 Guncang Lombok Barat pada Dini Hari](https://image.idntimes.com/post/20251207/65cb8b0db04d5_fe360218-d5fe-46f6-bda7-e5de470cd4bb.jpg)













