Comscore Tracker

Milenial Ujung Tombak Wisata di Desa Sembalun dan Tempos Lombok

Sentuhan milenial jadi oase perubahan di era teknologi

Lombok Timur, IDN Times – Keindahan Pulau Lombok dengan kondisi alamnya sudah tidak diragukan lagi. Apalagi jika berkunjung ke wisata alam di Desa Sembalun Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur dan Desa Tempos Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Wisata Sembalun dan Desa Tempos terus mengalami perubahan. Perubahan itu tidak luput dari usaha yang dilakukan oleh berbagai pihak, salah satunya kelompok pemuda atau generasi milenial di desa ini.

Hampir semua destinasi di Desa Sembalun dan Lombok Timur dipoles oleh kaum milenial. Bahkan berkat anak muda, Sembalun di Lombok Timur dan Desa Tempos di Lombok Barat bisa menghadirkan pola kehidupan dan ekonomi baru bagi masyarkat setempat.

1. Membangun pariwisata secara swadaya

Milenial Ujung Tombak Wisata di Desa Sembalun dan Tempos LombokEmak-emak berswafoto di Wisatani Garden/dok. Royal Sembahulun

Ketua Pokdarwis Kabupaten Lombok Timur Asal Desa Sembalun Royal Sembahulun, Kamis (11/11/2021) mengatakan membangun destinasi di Desa Sembalun semata-mata untuk mendukung kreativitas pemuda milenial. "Jadi kawan-kawan muda ini masih punya PR dalam memperbanyak destinasi. Bagaimana agar wisatawan itu stay lebih lama, kemudian bisa menciptakan pundi pendapatan lebih banyak," kata Royal.

Desa Sembalun memiliki keunikan dari desa-desa wisata yang berada di Pulau Lombok.  Tak banyak yang memiliki alam seindah desa Sembalun. Sehingga wisatawan yang datang dapat menikmati suasana yang berbeda saat berada di desa ini.

"Contoh misalnya, pertanian, tanaman stroberi hanya ada di Sembalun ya kalau untuk di Lombok. Kita bisa unggulkan karena pesaing kita hanya ada di luar daerah seperti Malang, Bandung dan daerah lain," jelasnya.

Keunikan lain di Desa Sembalun karena des aini dikelilingi bukit-bukit yang berhadapan langsung dengan Gunung Rinjani. Ada sembilan bukit yang ada di Sembalun. Semuanya dibuka sebagai area camping ground dan pendakian harian.

Semua potensi yang dimiliki oleh Desa Wisata Sembalun ini dipromosikan oleh kaum milenial setempat. Mereka juga terus belajar tentang hospitality untuk bisa memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan yang datang.

2. Keterlibatan generasi milenial dan gen z

Milenial Ujung Tombak Wisata di Desa Sembalun dan Tempos LombokKetua Pokdakwis Kabupaten Lombok Timur Royal Sembahulun IDN Times/Ahmad Viqi

Kelompok sadar wisata (pokdarwis) Desa Sembalun bersama pemuda setempat terus melakukan promosi dengan semua upaya yang dapat dilakukan. Apalagi di era digital saat ini, kaum milenial dan gen z di desa ini berperan penting dalam menjadikan desa wisata di tempatnya menjadi viral dan banyak dikunjungi wisatawan.

"Tidak hanya terlibat langsung sebagai penggerak, tapi meraka juga terlibat UMKM pengerajin dan sebagainya," kata Royal.

Royal juga menyebutkan selain kondisi alam, manfaat dari hasil wisata yang dikelola dari kalangan pemuda bisa mendukung usaha masyarakat di Desa Sembalun. Baik yang bekerja sebagai petani, pembuka ladang, tour and travel dan guide di Gunung Rinjani.

"Bahkan pemandu ke Puncak Gunung Rinjani itu sebagian besar diisi anak muda," jelasnya.

Pendanaan untuk promosi pariwisata Sembalun tidak hanya dari Pemerintah Daerah saja. Royal mengaku bahwa warga setempat juga melakukan swadaya untuk melakukan promosi pariwisata. Ini bertujuan agar desa wisata sembalun dapat membentuk kemandirian dalam mempromosikan potensi wisata yang ada di tempatnya.

"Memang kita dapat bantuan hibah di Desa Sembalun dan Sembalun Lawang untuk promosi desa wisata, untuk membenahi destinasi juga. Dananya itu Rp 600 juta untuk  mempercantik fasilitas rest area. Tapi tanpa pengelolaan yang baik, kita tidak akan bisa ciptakan kondisi wisata yang bagus," katanya.

3. Promosi melalui medsos

Milenial Ujung Tombak Wisata di Desa Sembalun dan Tempos LombokIlustrasi bermain medsos (Unsplash.com/Plann)

Baca Juga: Resep Sate Rembiga, Sate Khas Lombok yang Rasanya Pedas Lezat

Jumlah kunjungan ke Wisata Sembalun dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan. Meski demikian, generasi milenial dan gen z tidak berpangku tangan. Mereka membuat akun media sosial yang khusus untuk mempromosikan desa wisata Sembalun. Selain itu, mereka juga selalu memberikan update atau informasi terkini tentang kondisi di Sembalun.

Tersohornya wisata di Sembalun kata Royal  berawal dari hasil pemikiran anak muda mempengaruhi perkembangan dengan mengandalkan teknologi media sosial. Baik dalam membuat paket wisata, promosi, serta review kondisi keindahan desa Sembalun melalui media sosial.

"Ini semua dialkukan oleh anak muda. Inilah yang mempercepat berkembang wisata di Sembalun. Kami sebagai penggerak memang merasakan dampaknya sekarang," ujarnya.

4. Berinovasi membuat taman stroberi

Milenial Ujung Tombak Wisata di Desa Sembalun dan Tempos LombokWisata petik sroberi di Desa Sembalun/dok. instagram (rhisma_dj8)

Memiliki destinasi wisata Gunung Rinjani memang banyak memberikan efek. Namun, hal itu tidak menjadikan wisata di Sembalun terus bertumpu pada Gunung Rinjani. Apalagi, dengan perkembangan penduduk yang terus bertambah, peluang hidup dari hasil pertanian di Desa Sembalun terus menyusut.

"Maka kami ciptakan banyak wisata buatan. Seperti spot foto dan taman-taman strobrti. Kami juga membuka bukit-bukit untuk wisata pendakian. Kami juga berkolaborasi membuka wisata persawahan milik warga," jelas Royal.

Menurut Royal, wisata taman stroberi bisa menjadi alternatif pendapatan warga. Selain datang untuk memetic stroberi, wisatawan juga menjadikan tamn stroberi itu sebagai spot foto.

 "Jadi kalau dijual di pasar hanya Rp 10.000 per bungkus. Dengan adanya jumlah tamu yang datang, buah tanaman warga seperti stroberi bisa dijual dengan harga Rp 35 ribu per bungkus," kata Royal.

5. Kejar wisatawan lokal saat pandemi

Milenial Ujung Tombak Wisata di Desa Sembalun dan Tempos LombokWisatani Garden serap wisatawan lokal masa pandemi/dok. Royal Sembahulun

Saat pandemik melanda dunia, desa wisata Sembalun juga sempat mengalami penurunan angka kunjungan wisatawan. Terutama wisatawan nusantara dan mancanegara. Namun dengan inovasi yang dilakukan oleh pemuda setempat, wisatawan lokal masih tetap datang dan menjadikan Sembalun sebagai desatinasi berlibur pada akhir pekan.

"Rata rata pendapatan 50 persen setalah Pandemi COVID-19. Alhamdulillah wisata di Sembalun tidak mati," ujarnya.

Salah satunya yaitu lokasi wisata Wisatani yang dikelola Royal. Wisatani itu berupa taman, angkringan dan paket camp ground yang bisa  mendatangkan seribu kunjungan dalam sebulan.

Untuk tiket masuk Wisatani, wisatawan hanya perlu menyiapkan uang sebesar Rp25 ribu saja. Wisatawan sudah bisa menikmati keindahan Sembalun dengan suasana dan cuaca yang menyegarkan.

"Pendapatan maksimal setelah agak longgar ini capai Rp 15 juta perbulan. Ini sudah turun banget gara-gara pandemik," katanya.

Baca Juga: Ini Tempat-tempat Menginap Murah di Lombok Utara

6. Pemuda berikan semangat baru kembangkan wisata

Milenial Ujung Tombak Wisata di Desa Sembalun dan Tempos LombokPemuda kembangkan wisata mewah di Desa Tempos/dok. Mujiburrahman

Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Tempos Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat Mujiburahman menjelaskan ada semangat baru dengan adanya lokasi wisata yang ada di Desa Tempos Lombok Barat. Desa Tempos memiliki tema wisata bertajuk Wisata Mewah atau Mepet Sawah. Pokdarwis yang terbentuk sejak tahun 2020 lalu sudah mampu mendatangkan pundi-pundi ekonomi bagi warga Desa Tempos.

"Ada potensi memang di sana. Kita ubah jalur desa menjadi jalur Goweser (pesepeda). Dan pertama alam sangat potensial untuk dibangun sebuah wisata bertajuk Wisata Mewah (mepet sawah)," ujar Mujib.

Lokasinya berhadapan dengan dengan Gunung Sasak di sebelah timur, pengunjung juga dapat menikmati sunset atau matahari tenggelam.

Hal unik lain yang ditawarkan dari para pemuda di Desa Tempos, mempromosikan kuliner khas. Seperti makanan ringan, Serabi, Kelepon, Keludan, dan sejenisnya.

"Ini dijual langsung di lokasi Wisata Mewah dengan paket harga Rp10 ribu saja," kata Mujib.

Seluruh hasil makanan khas di Desa Tempos diproduksi dari 38 pedagang kali lima yang berasal dari Desa Tempos. "Ini bisa memberi dampak pada pendapatan para warga," katanya.

Anggaran Destinasi Wisata Mewah masih bersumber pada iauran anggota dan dana Desa (DD). Pada anggaran 2021 Pokdarwis Desa Tempos mendapat sokongan dana sekitar Rp50 juta . Untuk penambahan anggaran berasal dari iuaran anggota dengan angka yang cukup kecil kisaran Rp 5 ribu dan 10 ribu.

7. Inovasi terhadap potensi desa

Milenial Ujung Tombak Wisata di Desa Sembalun dan Tempos LombokJalan goweser di Desa Tempos sebelum merambah menjadi wisata IDN Times/Ahmad Viqi

Kondisi desa Tempos yang berada di bawah kaki Gunung Sasak membuat Pokdarwis Desa Tempos berpikir keras untuk menggali potensi lain yang ada di Desa Tempos. Seperti adanya lokasi camping ground di Bukit Gretok, Sumur Ajaib, dan Wisata Kesenian Tari dan Pahat.

Jumlah kunjungan mencapai 1000 orang  dalam sepekan. Angka ini cukup fantastis bagi wisata yang baru berusia satu tahun.

"Ini efek dari promosi melalui Medsos. Kami lihat rata-rata penduduk Indonesia memakai gadget. Apalagi media sosial seperti Instagram, Facebook sangat berpengaruh saat pemasaran," jelasnya

Wista ini dapat meraih pemasukan mencapai Rp 500 ribu dalam sehari. Dalam sebulan saja, rata-rata pemasukan khusus parkir dan akses masuk Wisata Mewah mencapai Rp4 juta perbulan. Belum dari pendapatan lain, seperti dari makan dan minum pengunjung.

"Pendapatan ini murni untuk memperbaiki dan memberikan insentif buat teman yang bekerja. Karena meraka ini kan tidak digaji," katanya

Semua hasil pemasukan dari Wisata Mewah untuk memberikan bantuan pengembangan wisata. Mujib mengatakan bahwa dengan berkembangnya desatinasi wisata, ini bisa berdampak baik bagi masyarakat sekitar Desa Tempos.

Baca Juga: Ini Tempat Menginap yang Asri Jika Berkunjung ke Lombok Timur

Topic:

  • Linggauni

Berita Terkini Lainnya