Sebanyak 103 personel dikerahkan untuk memadamkan karhutla di kawasan Rinjani. Terdiri dari Polhut BTNGR 6 orang, Pengendali Ekosistem Hutan BTNGR 1 orang, Manggala Agni BTNGR 21 orang, Mangga Agni Balai Dalkarhut Jabalnusara 9 orang, KPH Rinjani Barat 2 orang, Masyarakat Peduli Api (MPA) 47 orang, Brimob Polda NTB 7 orang, TNI 2 orang dan porter 8 orang.
Personel ditempatkan dan digerakkan pada sejumlah sektor sesuai kebutuhan penanganan, antara lain Bukit Setampol, Jalur Pendakian Torean, sektor Senaru, Pos 3 Senaru serta kawasan yang mengarah ke Puncak Sangkareang dan Pelawangan Senaru. Peralatan yang digunakan meliputi alat pemadam manual, drone, perangkat komunikasi, kendaraan roda empat dan roda dua, perlengkapan lapangan serta dukungan logistik.
Astekita menjelaskan BTNGR terus melakukan penanganan kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Bukit Setampol, Puncak Sangkareang Jalur Pendakian Senaru dan sekitamya, Resor Torean dan Senaru, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I. Kebakaran yang pertama kali terdeteksi pada 22 September 2026 tersebut terus ditangani melalui kegiatan pemadaman langsung, pemantauan, patroli, pengamanan jalur pendakian, pemantauan udara menggunakan drone, serta penambahan kekuatan personel dari berbagai unsur.
Lokasi awal kejadian kebakaran berada pada koordinat 116°25'30.194" BT dan 8°21'49.368" LS. Jenis kebakaran yang terjadi merupakan kebakaran permukaan, dengan bahan bakar berupa hutan cemara gunung, semak belukar, perdu, rumput, savana pegunungan, dedaunan kering, serta vegetasi bawah lainnya.
Berdasarkan hasil pemantauan dan pemetaan sementara sampai dengan 28 September 2026, luas areal yang terdampak kebakaran mencapai 1.098,75 hektare. Angka tersebut masih merupakan estimasi sementara dan akan terus diperbarui berdasarkan hasil pemantauan lapangan, pemetaan, dokumentasi udara menggunakan drone serta verifikasi batas areal terdampak.