Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi NTT, Ifran Karim. (Dok BPMP NTT)
Menurutnya, ATS di NTT disebabkan oleh banyak faktor sehingga anak usia sekolah tidak bisa melanjutkan pendidikannya atau harus terputus di tengah jalan. Faktor penyebabnya utamanya ialah ekonomi, kemudian pernikahan dini, anak yang berhadapan dengan hukum, kemudian diikuti dengan masalah letak geografis NTT yang merupakan daerah kepulauan dengan jarak tempuh sekolah yang jauh.
"Ini hal-hal yang memengaruhi," tukasnya
Ia juga menyebut NTT bisa keluar dalam rangking 10 terbesar secara nasional karena dua tahun sebelumnya NTT berada di 8 besar ATS terbanyak secara nasional. Sebelumnya, NTT berada di urutan 8 besar dengan jumlah mencapai 140 ribuan anak.
"Kalau dua tahun lalu di urutan 8 ATS terbanyak, posisi ATS sekarang itu sekitar 140 ribuan lebih. Sekarang sudah turun ke urutan 10. Tapi memang secara nasional ATS kita masuk 10 tertinggi," ungkapnya.
Ia berharap adanya kolaborasi antara Pemerintah Daerah dan BPMP NTT dengan inovasi tertentu terkait permasalahan anak putus sekolah atau tak mendapat pendidikan ini.
"Jadi perlu adanya kampanye dari semua pihak, untuk meyakinkan pentingnya pendidikan bagi masa depan," katanya.