Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sedih! Sebanyak 104 Ribu Anak-anak di NTT Tidak Sekolah
Kepala BGN Sudaryono makan MBG bersama siswa dan Gubernur NTT di Kupang. (Dok Biro Apim NTT)
  • NTT mencatat 104.232 anak tidak sekolah per 12 Oktober 2026, menempati urutan ke-10 nasional dari total 3.015.399 anak; dua tahun sebelumnya NTT berada di posisi kedelapan.

  • Ekonomi, pernikahan dini, persoalan hukum, serta jarak sekolah di wilayah kepulauan menjadi faktor utama. Kabupaten Kupang mencatat ATS terbanyak, 16.853 anak, disusul TTS 13.703 anak.

  • BPMP NTT mendorong kolaborasi dan strategi wajib belajar sesuai kondisi daerah. Pemprov NTT menyiapkan beasiswa bagi 1.319 siswa SMA sederajat dari keluarga miskin berprestasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
dua tahun sebelumnya

NTT berada di urutan delapan nasional untuk jumlah anak tidak sekolah, dengan sekitar 140 ribu anak.

tahun sebelumnya

TTS mencatat ATS tertinggi di NTT dengan 22.459 anak, disusul Sumba Barat Daya dan Kabupaten Kupang.

12 Oktober 2026

NTT mencatat 104.232 anak tidak sekolah dan menempati urutan ke-10 nasional.

Selasa (13/10/2026)

BPMP NTT menyampaikan data ATS serta faktor penyebabnya. Kabupaten Kupang tercatat memiliki ATS terbanyak di NTT dengan 16.853 anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    NTT tercatat memiliki 104.232 anak tidak sekolah dan berada pada urutan ke-10 tertinggi secara nasional.
  • Who?
    Kepala BPMP NTT Ifran Karim dan Kepala Dinas Pendidikan NTT Ambrosius Kodo menyampaikan data serta langkah penanganan anak tidak sekolah.
  • Where?
    Data mencakup Provinsi Nusa Tenggara Timur; Kabupaten Kupang mencatat ATS terbanyak di NTT, sebanyak 16.853 anak.
  • When?
    Data dihitung per 12 Oktober 2026 dan disampaikan di Kupang pada Selasa, 13 Oktober 2026.
  • Why?
    Faktor ATS di NTT meliputi kondisi ekonomi, pernikahan dini, anak berhadapan dengan hukum, serta jarak sekolah yang jauh di wilayah kepulauan.
  • How?
    BPMP NTT mendorong strategi wajib belajar sesuai karakteristik daerah dan kolaborasi dengan pemerintah daerah; Pemprov NTT menyiapkan beasiswa bagi 1.319 anak kurang mampu berprestasi tingkat SMA sederajat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di NTT, ada 104.232 anak yang tidak sekolah. NTT ada di urutan 10 terbanyak di Indonesia. Banyak anak berhenti sekolah karena keluarga susah, menikah terlalu cepat, sekolahnya jauh, atau ada masalah lain. Di Kabupaten Kupang paling banyak. Pemerintah NTT memberi 1.319 beasiswa untuk anak miskin yang pintar di SMA.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kupang, IDN Times - Jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi yang terbesar ke-10 secara nasional per 12 Oktober 2026. ATS di NTT mencapai 104.232 anak dari total 3.015.399 anak tak sekolah secara nasional.

Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi NTT, Ifran Karim, menyampaikan ini di Kupang, Selasa (13/10/2026). NTT tercatat masuk 10 besar ATS secara nasional dengan yang tertinggi ialah Provinsi Jawa Barat dengan angka 508 ribu lebih. Data ini bersumber dari Pusdatin Kemendikbud.

1. Pernikahan dini jadi salah satu penyebab

Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi NTT, Ifran Karim. (Dok BPMP NTT)

Menurutnya, ATS di NTT disebabkan oleh banyak faktor sehingga anak usia sekolah tidak bisa melanjutkan pendidikannya atau harus terputus di tengah jalan. Faktor penyebabnya utamanya ialah ekonomi, kemudian pernikahan dini, anak yang berhadapan dengan hukum, kemudian diikuti dengan masalah letak geografis NTT yang merupakan daerah kepulauan dengan jarak tempuh sekolah yang jauh.

"Ini hal-hal yang memengaruhi," tukasnya

Ia juga menyebut NTT bisa keluar dalam rangking 10 terbesar secara nasional karena dua tahun sebelumnya NTT berada di 8 besar ATS terbanyak secara nasional. Sebelumnya, NTT berada di urutan 8 besar dengan jumlah mencapai 140 ribuan anak.

"Kalau dua tahun lalu di urutan 8 ATS terbanyak, posisi ATS sekarang itu sekitar 140 ribuan lebih. Sekarang sudah turun ke urutan 10. Tapi memang secara nasional ATS kita masuk 10 tertinggi," ungkapnya.

Ia berharap adanya kolaborasi antara Pemerintah Daerah dan BPMP NTT dengan inovasi tertentu terkait permasalahan anak putus sekolah atau tak mendapat pendidikan ini.

"Jadi perlu adanya kampanye dari semua pihak, untuk meyakinkan pentingnya pendidikan bagi masa depan," katanya.

2. Kabupaten Kupang ATS tertinggi di NTT

Paparan jumlah anak tak sekolah secara nasional. (Dok Pusdatin Kemendikbud)

Untuk per kabupaten di NTT sendiri, jelas Ifran, wilayah dengan ATS terbanyak ada di Kabupaten Kupang. Jumlahnya 16.853 ATS di Kabupaten Kupang. Kedua Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dengan 13.703 ATS. Ketiga, Timor Tengah Utara (TTU) sebanyak 7.744 ATS. Kemudian diikuti Belu dengan 7.368 ATS, dan Alor 5.313 ATS tertinggi di NTT.

"ATS terbanyak sekarang di wilayah Kabupaten Kupang dari sebelumnya yang terbanyak di TTS dan Sumba Barat Daya," terangnya.

ATS tertinggi di NTT tahun sebelumnya ialah TTS dengan 22.459 anak, diikuti Sumba Barat Daya dengan 13.900 anak, dan Kabupaten Kupang dengan 11.628 anak.

3. Pemprov NTT baru berikan 1.319 beasiswa bagi anak kurang mampu

Paparan jumlah anak tak sekolah secara NTT. (Dok Pusdatin Kemendikbud)

BPMP NTT sendiri mendorong pengembangan strategi penuntasan program wajib belajar yang disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik masing-masing daerah.

"Tentu dengan pendekatan asimetris, mempertimbangkan disparitas geografis, sosial, ekonomi, serta tingkat capaian pendidikan antar wilayah," jelasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo membenarkan data tersebut. Ia menyebut Pemerintah Provinsi NTT sebelumnya sudah menyiapkan beasiswa khusus bagi anak-anak kurang mampu. Namun sasarannya hanya 1.319 ribu anak dari keluarga miskin yang berprestasi tingkat SMA sederajat.

"Kita siapkan juknisnya dan sudah kita minta dari sekolah-sekolah, lebih cepat lebih baik untuk dalam tahun ajaran berikutnya," jawabnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article