PDUI NTT Sentil Keamanan Rumah Sakit setelah Kasus Intimidasi Dokter Icha

- PDUI NTT menyoroti lemahnya sistem keamanan rumah sakit setelah kasus intimidasi terhadap dr. Icha oleh tiga anggota DPRD TTU yang berujung pada depresi dan trauma berat.
- Ketua PDUI NTT menegaskan perlunya pembenahan sistem perlindungan tenaga kesehatan, termasuk penerapan standar keselamatan kerja dan prosedur pelaporan yang aman di setiap fasilitas medis.
- IDI NTT menilai jumlah petugas keamanan di rumah sakit sering tidak sebanding dengan banyaknya pengunjung, serta mengecam keras segala bentuk intimidasi terhadap tenaga kesehatan.
Kupang, IDN Times - Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Cabang Nusa Tenggara Timur (NTT) menyoroti sistem keamanan di rumah sakit menyusul kasus dugaan intimidasi yang dialami dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni (dr. Icha). Dokter jaga di Rumah Sakit Leona Kefamenanu ini diduga mengalami intimidasi oleh anggota DPRD TTU bernama Therensius Lazakar dari Partai Golkar, Norbertus Tubani dari PKB, dan Veronika Lake dari PDIP pada 13 Juni 2026 di ruang IGD.
Dampak dari intimidasi tersebut membuat Dokter Icha harus menjalani perawatan mental akibat didiagnosa depresi dan trauma berat serta guncangan mental yang bisa membahayakan diri sendiri.
1. Bukan sekali ini terjadi

Ketua PDUI NTT, Dokter Teda Litik, mengatakan seluruh fasilitas kesehatan harus memperkuat perlindungan bagi tenaga kesehatan (nakes) karena kasus Intimidasi ini bukan baru kali ini terjadi. Situasi serupa selalu dialami para dokter, kata dia, khususnya yang bertugas sebagai dokter jaga IGD seperti dr. Icha.
"Ini bukan peristiwa pertama di Indonesia atau di tanah Flobamora ini," ungkapnya.
Intimidasi dan intervensi terhadap dokter ini baru mencuat dan menjadi perhatian publik setelah kematian dr. Icha pada 26 Juni 2026. Maka baginya ini jadi momentum agar seluruh fasilitas kesehatan berbenah diri.
"Harus ada pembenahan sistem perlindungan tenaga kesehatan di NTT karena keselamatan tenaga medis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mutu pelayanan rumah sakit," kata dia.
2. Standar keamanan dan kanal untuk melapor

Ia menyebut standar keselamatan dan kesehatan kerja bagi dokter maupun tenaga kesehatan lainnya yang ketat harus bisa diterapkan. Baiknya pun setiap rumah sakit memiliki prosedur keamanan yang jelas agar tenaga medis dapat bekerja dengan aman dan profesional.
"Jadi ini harus ditegakkan, dilaksanakan," ujarnya.
Ia mencontohkan seperti pentingnya ketersediaan petugas keamanan hingga sistem pelaporan yang menjamin kerahasiaan dan keamanan apabila tenaga kesehatan mengalami intimidasi, perundungan, maupun kekerasan.
"Sehingga jangan sampai ada tekanan seperti yang dialami dr. Icha lagi," tegasnya.
Penerapan keselamatan kerja di seluruh fasilitas kesehatan harusnya dapat diawasi langsung secara berkala oleh pemerintah. Lebih riilnya, kata dia, ialah dengan menjadi indikator akreditasi rumah sakit oleh Kementerian Kesehatan.
"Kalau perlu ini dimasukkan sebagai salah satu standar akreditasi rumah sakit," tegasnya.
3. Jumlah petugas keamanan kerap tak sebanding

Sementara dr. Yuliana Imelda Ora Adja selaku pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) NTT juga menyoroti sistem keamanan rumah sakit yang lemah. Jumlah petugas keamanan yang terbatas, kata dia, sering kali tidak sebanding dengan banyaknya keluarga pasien yang datang.
"Bagaimana kalau 30 orang keluarga yang datang, kami hanya didampingi dua orang satpam," katanya.
Untuk itu IDI mengecam dan mengutuk tegas segala bentuk intimidasi, ancaman maupun tindakan kekerasan terhadap tenaga kesehatan dalam menjalankan tugas profesinya.










![[QUIZ] Seberapa Baik Kamu Menenangkan Hati dan Pikiran saat Overwhelmed?](https://image.idntimes.com/post/20251119/pexels-lee-starry-1667861-8734339_e14aed4b-5247-4b69-a3f2-e473b27ca638.jpg)
![[QUIZ] Masihkah Kamu Menemukan Harapan di Tengah Masa Sulit?](https://image.idntimes.com/post/20251118/pexels-sergeymakashin-5444896_4b71514d-4b2e-4ae2-a823-e90e0e193322.jpg)
![[QUIZ] Cari Tahu Seberapa Besar Kamu Bersyukur dalam Hidup Ini, Yuk!](https://image.idntimes.com/post/20251201/pexels-vlada-karpovich-5357331_55d0d38f-c2df-48aa-86a9-0843815ae1a4.jpg)
![[QUIZ] Seberapa Baik Kamu Menjaga Kesehatan Mental di Lingkungan Tak Mendukung?](https://image.idntimes.com/post/20251206/pexels-elevate-1267254_640feff3-0e46-426d-b80b-be27698aa72d.jpg)
![[QUIZ] Apakah Kamu Terjebak dalam Kebiasaan Menyenangkan Semua Orang?](https://image.idntimes.com/post/20251206/pexels-ivan-s-5428987_3f241e83-ebe1-4239-af29-00f5a289cf7c.jpg)

![[QUIZ] Sudah Sejauh Mana Kamu Bangkit setelah Dikhianati?](https://image.idntimes.com/post/20251207/pexels-eyupcan-timur-424989336-33765838_ce56dca4-280a-41c5-b711-66d0d84bdc07.jpg)
![[QUIZ] Apakah Kamu Terlalu Cepat Menjadi Dewasa? Kenali Tandanya!](https://image.idntimes.com/post/20251211/pexels-keira-burton-6624296_4c5bb802-88d1-4f2e-a552-d1847e77ef11.jpg)
![[QUIZ] Apakah Kamu Masih Merasa Aman Menjadi Diri Sendiri?](https://image.idntimes.com/post/20251207/pexels-megan-ruth-192440753-12922259_94c2d24f-a45d-4d56-b80b-55d6b19ef8c0.jpg)
