Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BMKG Ungkap Empat Penyebab Suhu NTB Tembus 37 Derajat

Kota Mataram
3 min read
BMKG Ungkap Empat Penyebab Suhu NTB Tembus 37 Derajat
Suhu udara cukup terik yang terjadi di Kota Mataram, Senin (19/10/2026).
  • BMKG mencatat suhu di Kabupaten Sumbawa, NTB, mencapai 37 derajat Celsius dalam beberapa waktu terakhir, dengan kondisi udara terasa panas dan kering.
  • Suhu tinggi dipengaruhi posisi semu Matahari, durasi penyinaran 9,5 jam per hari pada 1–18 Oktober 2026, serta angin timuran yang membawa massa udara kering.
  • Kelembapan relatif rata-rata 75 persen turut memengaruhi rasa gerah; BMKG memantau suhu tinggi berpotensi bertahan hingga dasarian III Oktober 2026 karena hujan belum merata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mataram, IDN Times - Dalam beberapa waktu terakhir, suhu udara terasa cukup panas dan kering di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara di Kabupaten Sumbawa menembus hingga 37 derajat celsius.

BMKG Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Lombok mengungkapkan penyebab suhu panas yang melanda wilayah NTB. Prakirawan Stasiun Meteorologi ZAM Lombok, Gede Dedy mengatakan suhu udara yang relatif tinggi dalam beberapa waktu terakhir di wilayah NTB dipengaruhi oleh empat faktor meteorologis.

  1. 1. Posisi semu matahari hingga durasi penyinaran matahari

    Ilustrasi suhu panas. (Pixabay.com/geralt)
    Ilustrasi suhu panas. (Pixabay.com/geralt)

    Dedy menyebutkan faktor pertama yang menyebabkan suhu panas di NTB akibat posisi semu matahari. Pada bulan Oktober, matahari secara semu bergerak menuju belahan bumi selatan setelah melewati ekuator pada saat ekuinoks September. Posisi ini, kata dia, menyebabkan sudut elevasi matahari di wilayah NTB semakin tinggi, sehingga potensi penerimaan radiasi Matahari pada siang hari meningkat.

    Faktor kedua, akibat durasi penyinaran matahari di wilayah NTB. Berdasarkan pengamatan permukaan di Stasiun Meteorologi ZAM Lombok, rata-rata lama penyinaran matahari pada periode 1–18 Oktober 2026 mencapai 9,5 jam per hari.

    Durasi penyinaran matahari lebih tinggi dibandingkan rata-rata bulan sebelumnya yang sebesar 8,6 jam per hari. "Hal ini mengindikasikan bahwa durasi penyinaran matahari meningkat, yang dapat mendukung pemanasan permukaan lebih intensif," jelas Dedy.

  2. 2. Pengaruh Monsun Australia

    IMG-20261019-WA0012.jpg
    Ilustrasi suhu panas di Kota Mataram, Senin (19/10/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Faktor ketiga, kata Dedy akibat pengaruh angin timuran atau Monsun Australia. Dia mengatakan bahwa wilayah NTB pada periode ini masih berpotensi dipengaruhi oleh aliran angin timuran yang membawa massa udara relatif kering dari wilayah Australia.

    "Kondisi tersebut dapat menghambat pembentukan awan hujan sehingga mendukung terjadinya penyinaran matahari yang lebih optimal," tambahnya.

  3. 3. Suhu panas di wilayah NTB diprediksi bertahan hingga dasarian III Oktober

    ilustrasi suhu panas mempengaruhi produksi minyak diwajah (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
    ilustrasi suhu panas mempengaruhi produksi minyak diwajah (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

    Faktor keempat, kata dia, suhu panas yang terjadi di NTB akibat kelembaban udara relatif. Berdasarkan pengamatan di Stasiun Meteorologi ZAM Lombok pada periode 1-18 Oktober 2026, rata-rata kelembapan udara relatif tercatat sebesar 75 persen.

    Kondisi kelembapan ini, jelas Dedy, dapat mempengaruhi kenyamanan termal, sehingga suhu yang tidak terlalu ekstrem sekalipun dapat terasa lebih gerah. Namun, tingkat gerah juga dipengaruhi oleh suhu udara dan kecepatan angin.

    Secara keseluruhan, kata Dedy, kondisi suhu tinggi di NTB dapat merupakan hasil kombinasi antara tingginya penerimaan radiasi matahari, durasi penyinaran matahari yang lebih panjang, pengaruh massa udara kering, dan kondisi kelembaban udara.

    "Yang saat ini kami pantau, kondisi ini (suhu tinggi) masih dapat bertahan di dasarian III bulan Oktober 2026 mengingat kecenderungan hujan belum merata di wilayah NTB," ungkap Dedy.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More