Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ekonomi NTB Melonjak 10,42 Persen, Gubernur Ungkap Strategi dari Minus

Kota Mataram
3 min read
Ekonomi NTB Melonjak 10,42 Persen, Gubernur Ungkap Strategi dari Minus
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal saat menjadi pembicara The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Jumat (23/10/2026). (dok. Istimewa )
  • NTB membalikkan pertumbuhan ekonomi dari minus 1,47 persen pada semester I 2025 menjadi 10,42 persen pada semester I 2026, tertinggi kedua secara nasional.
  • Gubernur Lalu Muhamad Iqbal menekankan pertumbuhan harus menurunkan kemiskinan, seiring pergeseran ekonomi NTB dari dominasi tambang menuju pertanian, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
  • Ekonomi kreatif diposisikan untuk memperluas pendapatan dan ketahanan daerah; inovasi pelaku lokal, seperti coconut smoothie saat MotoGP Mandalika, meningkatkan nilai jual produk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mataram, IDN Times - Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menjadi salah satu kepala daerah sebagai pembicara dalam The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Jumat (23/10/2026). Dalam forum ekonomi kreatif (Ekraf) dunia tersebut, Iqbal tampil satu panggung dengan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak.

Ketiganya hadir sebagai pembicara di sesi pleno yang membahas strategi pengembangan ekonomi kreatif dari daerah. Selain Iqbal, Gubernur Jakarta Pramono Anung ikut menjadi pembicara di sesi awal termasuk tokoh kreatif seperti Ernest Prakasa dan Angga Dwimas Sasongko.

  1. 1. Dari minus menjadi pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua secara nasional

    IMG-20261024-WA0011.jpg
    Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal saat menjadi pembicara The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 bersama Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda di Jakarta, Jumat (23/10/2026). (dok. Istimewa )

    Dalam paparannya, Iqbal mengatakan bahwa Provinsi NTB mampu membalikkan keadaan, dari pertumbuhan ekonomi yang minus 1,47 persen pada semester I 2025 menjadi tumbuh 10,42 persen pada semester I 2026. Capaian tersebut menempatkan NTB sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua secara nasional.

    Meski demikian, Iqbal menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam menurunkan angka kemiskinan. “Pertumbuhan ekonomi yang cepat di tengah kemiskinan yang tinggi hanya akan membuat banyak masyarakat tertinggal. Kita ingin membangun NTB tanpa meninggalkan siapa pun,” ujarnya.

  2. 2. Pergeseran struktur ekonomi NTB

    IMG-20260807-WA0026.jpg
    Produk UMKM NTB. (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Eks Duta Besar Indonesia untuk Turki itu menjelaskan, struktur perekonomian NTB mengalami perubahan dalam 15 tahun terakhir. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) meningkat dari sekitar Rp 52 triliun pada 2010 menjadi Rp 170 triliun pada 2025.

    Dalam periode tersebut, dominasi sektor pertambangan mulai berkurang, sementara sektor pertanian, pariwisata, dan ekonomi kreatif menunjukkan potensi pertumbuhan. “Ada pergeseran dalam struktur ekonomi di NTB dan kita akan terus mengoptimalkan dampaknya secara lebih meluas dan merata bagi masyarakat," kata dia.

  3. 3. Sektor ekonomi kreatif memperkuat ketahanan ekonomi daerah

    IMG-20261014-WA0045.jpg
    Ilustrasi UMKM lokal NTB saat ajang MotoGP Mandalika 2026. (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Dia menyebutkan ada tiga agenda pembangunan NTB yang saling berkaitan. Dengan menempatkan pengentasan kemiskinan sebagai tujuan utama. Sektor pertanian dan pariwisata menjadi sektor penggerak. Sedangkan ekonomi kreatif berperan memperluas sumber pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi daerah.

    Iqbal menjelaskan sektor ekonomi kreatif sebagai salah satu sektor penting untuk memperluas peluang ekonomi masyarakat. Menurutnya, NTB memiliki modal besar dari sektor pariwisata, pertanian, kekayaan alam, hingga kreativitas masyarakat lokal.

    Dia mencontohkan seperti penyelenggaraan MotoGP Mandalika. Menurut Iqbal, banyak peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal. Salah satunya melalui cerita pedagang kelapa muda yang berhasil meningkatkan harga jual produknya hingga tiga kali lipat setelah berinovasi menjadi coconut smoothie dengan kemasan yang lebih menarik.

    “Apa yang berubah? Bukan sekadar nama atau kemasannya. Yang berubah adalah kepercayaan diri untuk berinovasi,” ungkap Iqbal.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More