Menjaga Kesehatan Mental di Era AI dengan Self-Care

Di tengah kemajuan teknologi yang pesat, khususnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), kehidupan manusia semakin terhubung dengan dunia digital. Meskipun kehadiran AI membawa berbagai kemudahan, seperti efisiensi dalam pekerjaan, akses informasi yang cepat, dan personalisasi layanan, intensitas penggunaan perangkat digital juga berisiko menurunkan kualitas kesehatan mental.
Banyak orang merasa lelah secara emosional akibat paparan informasi yang berlebihan, tekanan media sosial, hingga ketergantungan terhadap teknologi. Dalam konteks ini, praktik self-care dan digital detox menjadi semakin relevan. Self-care bukan hanya tentang perawatan tubuh, tetapi juga menyangkut bagaimana seseorang menjaga keseimbangan emosional dan mental.
Sementara itu, digital detox adalah upaya sadar untuk mengurangi penggunaan perangkat digital demi menciptakan ruang mental yang sehat. Kombinasi keduanya menjadi strategi penting untuk bertahan secara sehat di era yang serba otomatis dan cepat ini.
Artikel ini akan membahas cara menjaga kesehatan mental di era AI dengan praktik self-care dan digital detox.
1. Era AI membuat orang lebih rentan terhadap stres digital

Kemunculan AI dalam kehidupan sehari-hari telah mengubah cara kita bekerja, berinteraksi, dan mengambil keputusan. Notifikasi yang terus-menerus, algoritma yang mendorong konsumsi konten tanpa henti, serta tekanan untuk terus produktif menjadi sumber stres baru yang sering tidak disadari.
Bahkan, banyak orang mengalami apa yang disebut sebagai technostress, yaitu stres akibat penggunaan teknologi yang berlebihan atau rumit. AI juga menciptakan ilusi kecepatan dan efisiensi yang membuat manusia merasa harus selalu on dan responsif.
Ayyagari, Grover, dan Purvis dalam jurnalnya Technostress: Technological Antecedents and Implications, mengatakan hal ini bisa mengakibatkan burnout digital, rasa cemas berlebihan, bahkan kehilangan fokus dalam kehidupan nyata. Jika tidak dikelola, dampaknya dapat merusak hubungan sosial dan keseimbangan emosional seseorang.
2. Konsep self-care di dunia yang semakin terhubung

Self-care di era digital bukan hanya tentang istirahat dan relaksasi, tetapi juga tentang membangun kesadaran terhadap kebutuhan pribadi. Ini mencakup menjaga batasan dengan teknologi, mengenali tanda-tanda kelelahan mental, dan memberikan waktu untuk memulihkan diri secara emosional.
Praktik seperti journaling, meditasi, hingga membatasi konsumsi berita menjadi bentuk self-care modern. Selain itu, self-care juga mengandung unsur keberlanjutan, yaitu bagaimana kamu merawat diri agar bisa tetap berfungsi optimal dalam jangka panjang. Kesehatan mental bukan sesuatu yang bisa diperbaiki instan, namun ia membutuhkan perhatian terus-menerus.
Dengan mengenali kebutuhan diri sendiri secara aktif, seseorang dapat membangun ketahanan psikologis dalam menghadapi tekanan digital, ungkap Smith dan Segal dalam makalahnya Taking a Digital Detox: Reclaiming Your Time and Mental Space.
3. Digital detox sebagai strategi melepaskan diri dari kecanduan teknologi

Digital detox bukan berarti anti-teknologi, tetapi lebih kepada menciptakan jeda sehat dari paparan digital yang konstan. Ini bisa berupa waktu tertentu dalam sehari tanpa ponsel, puasa media sosial selama akhir pekan, atau mengatur waktu layar secara sadar. Tujuannya adalah memberi ruang bagi pikiran untuk bernapas dan kembali fokus pada hal-hal nyata.
Penelitian Dempsey, O’Brien, dan Tiamiyu dalam Journal of Behavioral Health menunjukkan bahwa melakukan digital detox secara berkala dapat meningkatkan kualitas tidur, memperbaiki suasana hati, dan mengurangi tingkat stres. Bahkan waktu offline singkat dapat meningkatkan koneksi sosial langsung dan memberikan perasaan kontrol yang lebih besar terhadap hidup sendiri.
4. Menjaga batas antara dunia nyata dan dunia digital

Salah satu tantangan terbesar di era AI adalah menjaga batas yang sehat antara kehidupan digital dan realitas. Teknologi mendorong tercampurnya waktu kerja dan waktu pribadi, terutama dengan maraknya kerja jarak jauh dan platform komunikasi instan. Akibatnya, banyak orang merasa tidak pernah benar-benar lepas dari pekerjaan atau kewajiban sosial.
Menetapkan batas seperti jam offline di malam hari, menggunakan mode fokus di perangkat, dan memisahkan perangkat kerja dari perangkat hiburan adalah langkah-langkah kecil namun berdampak besar. Kedisiplinan dalam menjaga batas ini menjadi bagian penting dari self-care yang menyeluruh dan berkelanjutan, ungkap Kushlev dan Dunn dalam jurnal Computers in Human Behavior.
5. Mengintegrasikan self-care dan digital detox dalam rutinitas harian

Menggabungkan self-care dan digital detox dalam kehidupan sehari-hari tidak harus sulit. Mulailah dengan rutinitas pagi tanpa layar selama 30 menit, sisihkan waktu untuk berjalan kaki tanpa ponsel, atau buat jadwal offline day setiap minggu. Hal ini menciptakan pola yang melatih otak untuk tidak terus bergantung pada teknologi sebagai sumber hiburan atau pelarian.
Konsistensi adalah kunci. Semakin sering kamu melatih diri untuk hadir sepenuhnya di momen nyata, semakin kuat mental kamu dalam menghadapi tekanan digital. Perlahan, ini akan menjadi gaya hidup yang memberi ruang bagi ketenangan, kreativitas, dan kedekatan emosional.
Demikian cara menjaga kesehatan mental di era AI dengan praktik self-care dan digital detox.