5 Alasan Mengapa Self-Love Sering Disalahpahami

Istilah self-love atau mencintai diri sendiri semakin populer dalam beberapa tahun terakhir, terutama seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental. Kampanye-kampanye tentang pentingnya menghargai diri sendiri, menetapkan batasan sehat, dan memperjuangkan kesejahteraan pribadi telah menjadi bagian dari percakapan publik, terutama di media sosial.
Namun, meskipun memiliki niat yang baik, konsep self-love sering kali disalahpahami dan disalahgunakan dalam praktiknya. Alih-alih menjadi bentuk perawatan diri yang sehat dan penuh kasih, self-love kadang berubah menjadi dalih untuk menghindari tanggung jawab, menolak kritik konstruktif, bahkan menjadi bentuk egoisme terselubung.
Artikel ini mengupas 5 alasan utama mengapa konsep self-love sering disalahpahami, dan bagaimana cara melihatnya dengan lebih jernih dan seimbang.
1. Disamakan dengan egoisme

Salah satu kesalahpahaman paling umum adalah menyamakan self-love dengan egoisme. Banyak orang menganggap bahwa mencintai diri sendiri berarti menempatkan diri di atas orang lain atau mengutamakan kepentingan pribadi secara berlebihan.
Padahal, self-love sejatinya adalah tentang penerimaan dan penghargaan terhadap diri sendiri tanpa merendahkan atau menyakiti orang lain. Ketika self-love berubah menjadi pembenaran atas perilaku egosentris, seperti tidak mau mendengarkan kritik atau mengabaikan tanggung jawab sosial, maka maknanya menjadi menyimpang.
Menurut Neff dalam makalahnya yang berjudul The development and validation of a scale to measure self-compassion, self-love yang sehat harus dibarengi dengan empati dan kesadaran akan keterkaitan dengan orang lain, bukan dijadikan tameng untuk menolak perubahan atau pembenahan diri.
2. Dianggap sama dengan memanjakan diri

Banyak orang mengartikan self-love sebagai aktivitas yang menyenangkan, seperti berbelanja, liburan, atau memanjakan diri dengan makanan enak. Meskipun aktivitas tersebut bisa menjadi bagian dari perawatan diri, self-love tidak semata-mata tentang kenikmatan sesaat.
Esensinya lebih dalam, yaitu menerima diri apa adanya, termasuk kelemahan dan kegagalan, serta tetap merawat diri secara fisik, mental, dan emosional. Konsep self-love yang hanya berfokus pada hal-hal eksternal dan konsumtif justru bisa menimbulkan kebiasaan pelarian. Alih-alih menghadapi masalah atau emosi dengan jujur, seseorang malah menutupinya dengan aktivitas konsumtif.
Psikolog Leary, Tate, Adams, Allen, dan Hancock dalam penelitian mereka Self-compassion and reactions to unpleasant self-relevant events: The implications of treating oneself kindly, menyebut ini sebagai bentuk emotional avoidance, yaitu menghindari rasa tidak nyaman dengan mencari pengalihan sesaat.
3. Digunakan sebagai alasan untuk tidak berkembang

Kadang-kadang, orang menggunakan dalih mencintai diri sendiri untuk menghindari kritik atau pembelajaran yang menyakitkan. Misalnya, ketika seseorang menolak saran atau masukan dengan alasan “aku sudah cukup baik seperti ini,” padahal sebenarnya mereka sedang menolak untuk berkembang atau menghadapi kenyataan yang sulit.
Self-love yang sehat justru melibatkan keberanian untuk jujur terhadap diri sendiri, termasuk mengakui kelemahan dan berusaha memperbaikinya. Dalam konsep self-compassion yang dikembangkan oleh Neff, mencintai diri sendiri berarti juga bersikap tegas ketika kita tahu ada hal yang harus diubah demi kebaikan jangka panjang.
4. Terjebak dalam narasi toxic positivity

Fenomena toxic positivity muncul ketika seseorang merasa harus selalu positif dan menolak emosi negatif, bahkan saat sedang mengalami kesulitan. Dalam konteks ini, self-love disalahartikan sebagai kewajiban untuk selalu bahagia, tersenyum, dan tidak boleh merasa sedih atau marah.
Padahal, mencintai diri sendiri juga berarti mengizinkan diri merasakan emosi secara utuh. Menolak emosi negatif bisa berdampak buruk pada kesehatan mental. Menurut studi dari Bastian dan kawan-kawan pada tahun 2012, mengatakan orang yang berusaha menekan emosi negatif justru cenderung merasa lebih tertekan.
Self-love yang sejati mengajarkan penerimaan, bukan penghindaran, yaitu merangkul emosi sebagai bagian dari pengalaman manusia, bukan menolaknya.
5. Dipopulerkan lewat media sosial secara dangkal

Media sosial telah memainkan peran besar dalam mempopulerkan konsep self-love. Namun sayangnya, banyak konten yang menyederhanakan konsep ini menjadi kutipan motivasi singkat atau gambar estetik tanpa substansi. Akibatnya, orang bisa salah paham bahwa self-love hanya soal afirmasi positif dan tampil "baik" di mata orang lain.
Padahal, self-love adalah proses mendalam yang memerlukan refleksi, keberanian, dan konsistensi. Representasi yang dangkal justru membuat banyak orang merasa gagal atau tidak cukup baik karena tidak bisa selalu tampil bahagia dan self-love seperti yang terlihat di internet.
Ini menunjukkan pentingnya literasi emosional dan edukasi psikologis yang benar dalam memahami dan mempraktikkan self-love secara nyata, ungkap Fardouly, Willburger, dan Vartanian dalam penelitiannya yang berjudul Instagram use and young women’s body image concerns and self-objectification: Testing mediational pathways.
Itulah 5 alasan utama mengapa konsep self-love sering disalahpahami, dan bagaimana cara melihatnya dengan lebih jernih dan seimbang.