Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Ilustrasi cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Intinya sih...

  • Memicu peningkatan awan cumulonimbus

  • Daftar wilayah NTB yang berpotensi dilanda cuaca ekstrem

  • Potensi gelombang tinggi hingga 2,5 meter di perairan NTB

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Mataram, IDN Times - BMKG Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Lombok mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem melanda wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 10 hingga 14 Februari 2026. Kepala Stasiun Meteorologi ZAM Lombok Satria Topan Primadi mengatakan bahwa saat ini, dinamika atmosfer menunjukkan aktivitas yang signifikan di sekitar wilayah NTB.

"Beberapa indikator utama penyebab peningkatan potensi cuaca ekstrem, antara lain adanya low frequency dan gelombang Equatorial Rossby yang aktif di sekitar wilayah NTB," kata Topan, Senin (9/2/2026).

1. Memicu peningkatan awan cumulonimbus

Ilustrasi hujan lebat. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Penyebab lainnya, kata Topan, adanya pertemuan angin dan perlambatan kecepatan angin di sekitar wilayah NTB. Kemudian kelembapan udara yang cenderung basah di berbagai lapisan ketinggian serta labilitas atmosfer kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal diamati di NTB.

Kondisi atmosfer ini, sebut Topan, berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan konvektif atau awan Cumulonimbus. Awan cumulonimbus dapat menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai petir/kilat dan angin kencang.

2. Daftar wilayah NTB yang berpotensi dilanda cuaca ekstrem

Rumah warga yang terendam banjir di Kabupaten Dompu. (dok. BPBD NTB)

Dia merincikan daftar wilayah NTB yang berpotensi dilanda cuaca ekstrem mulai 10 - 14 Februari 2026. Antara lain sebagai berikut:

  • 10 Februari 2026

Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.

  • 11 Februari 2026

Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.

  • 12 Februari 2026

Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.

  • 13 Februari 2026

Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.

  • 14 Februari 2026

Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.

3. Potensi gelombang tinggi hingga 2,5 meter di perairan NTB

ilustrasi ombak (IDN Times/Mardya Shakti)

Selain hujan lebat, terdapat pula potensi gelombang tinggi di wilayah perairan NTB. Pada tanggal 10 – 11 Februari 2026, gelombang tinggi 1.25 – 2.5 meter berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian Utara, Selat Lombok bagian Selatan, Selat Alas bagian Selatan, Selat Sape bagian Selatan, dan Samudra Hindia Selatan NTB.

Sementara pada tanggal 12 Februari 2026, gelombang tinggi 1.25 – 2.5 meter berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian Utara, Selat Lombok bagian Selatan, Selat Alas bagian Selatan, Selat Sape bagian Selatan, Perairan Utara Sumbawa dan Samudra Hindia Selatan NTB.

Dia mengimbau masyarakat NTB meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, petir, hingga pohon tumbang.

Sedangkan pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan mengambil langkah mitigasi, termasuk pengecekan infrastruktur drainase, penyuluhan kepada masyarakat, serta peningkatan koordinasi antar instansi dalam penanganan potensi bencana.

"BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu serta potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem," kata dia.

Editorial Team