Mataram, IDN Times – Larangan pelaksanaan wisuda di sekolah, mulai dari taman kanak-kanak hingga jenjang menengah sempat mencuat ke permukaan setelah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan penolakannya terhadap tradisi tersebut. Ia menyampaikan kekhawatirannya tentang wisuda yang dinilai telah bergeser menjadi ajang seremonial yang membebani orangtua siswa.
Pernyataannya memicu respons beragam, termasuk dari kalangan siswa. Seorang pelajar bahkan mempertanyakan kebijakan itu secara terbuka. Ia sempat berdebat dengan Dedi Mulyadi hingga videonya menjadi viral. Ini sekaligus menandakan adanya perbedaan pandangan antara generasi muda dan pemangku kebijakan mengenai makna perayaan kelulusan.
Dalam satu dekade terakhir, tradisi wisuda dan perpisahan yang dulunya hanya identik dengan kelulusan perguruan tinggi, kini menyebar ke hampir semua jenjang pendidikan di Indonesia. Anak-anak usia dini kini juga ikut tampil mengenakan toga, berdiri di atas panggung megah, bahkan berfoto bak sarjana sungguhan. Seremonial semacam ini tak hanya menjadi simbol kelulusan, tetapi juga bagian dari tren yang terus menjalar ke berbagai daerah.
Fenomena ini tidak datang tanpa konsekuensi. Di berbagai kota dan kabupaten, perayaan kelulusan menjadi ajang yang tak jarang menimbulkan kontroversi. Sekolah menyewa gedung, mengundang pembawa acara, hingga menyelenggarakan pesta dengan biaya yang cukup besar. Tak pelak, hal ini memunculkan perdebatan di tengah masyarakat, terutama terkait siapa yang menanggung biayanya dan untuk siapa sebenarnya acara itu diselenggarakan.
Bagi sebagian orangtua, terutama dari kalangan menengah ke atas, perayaan semacam ini dianggap sebagai bentuk apresiasi dan motivasi bagi anak-anak. Mereka percaya bahwa memberi pengalaman seremonial sejak dini bisa menanamkan rasa percaya diri serta menghargai proses belajar.
Namun, tidak semua orangtua memandang demikian. Tak sedikit yang justru merasa terbebani, baik secara emosional maupun finansial. Biaya sewa pakaian toga, iuran panggung, konsumsi, hingga sewa fotografer bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Belum lagi tekanan sosial dari sesama orangtua atau sekolah yang secara halus mendorong semua siswa ikut serta.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan yang lebih mendalam, apakah perayaan kelulusan ini benar-benar esensial dalam proses pendidikan, atau justru menyimpang dari tujuan awal sekolah sebagai tempat belajar dan bertumbuh?. Beberapa pengamat pendidikan menilai bahwa alih-alih fokus pada pencapaian akademik dan pengembangan karakter, sekolah kini justru ikut arus tren visual yang lebih mementingkan tampilan luar.
Apalagi, dalam praktiknya, kegiatan wisuda ini kerap menimbulkan kesenjangan sosial. Anak-anak yang tidak mampu terpaksa ikut. Jika tidak, mereka bisa merasa terkucilkan. Bahkan, ada yang mengalami perundungan karena tidak tampil dengan seragam toga seperti teman-temannya.
Dalam konteks inilah muncul lagi pertanyaan besar, apakah perayaan kelulusan ini sarat makna atau justru menciptakan beban baru dalam sistem pendidikan kita?.
Berikut liputan kolaborasi dari berbagai hyperlocal IDN Times.