Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG-20260204-WA0025.jpg
Gubernur NTT Melki Laka Lena. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Intinya sih...

  • Pemerintah Provinsi NTT berupaya mencegah kasus serupa di masa depan dengan memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi, termasuk pendidikan.

  • Gubernur Melki akan memberikan bantuan kepada keluarga korban dan memastikan pendataan masyarakat miskin untuk mendeteksi hal serupa.

  • Kapolda NTT akan mengirimkan konselor dan psikolog untuk mendampingi keluarga korban kematian anak SD di Ngada, NTT.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kupang, IDN Times - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, merespons kasus kematian seorang anak SD di Kabupaten Ngada. Anak tersebut diduga meninggal akibat tekanan ekonomi keluarga untuk memenuhi kebutuhan sekolah.

Menanggapi peristiwa itu, Melki menyebut kasus tersebut sebagai bentuk kegagalan pemerintah dalam mendeteksi dan menangani persoalan sosial sejak dini. Ia menilai sistem di berbagai level pemerintahan belum mampu hadir memberi solusi bagi keluarga yang membutuhkan.

"Kegagalan sistem yang ada di pemerintahan provinsi (NTT), (Pemkab) Ngada, hingga ke tingkat bawah. Kita gagal untuk bisa mendeteksi, membantu, dan memberi solusi untuk keluarga tersebut," jawab Melki saat diwawancarai di Kantor Gubernur NTT, Rabu (4/2/2026).

1. Tamparan bagi pemerintah

Gubernur NTT Melki Laka Lena (tengah) dalam konferensi pers kegiatan Kupang Exotic. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Pemerintah Provinsi NTT berupaya agar peristiwa yang menjadi tamparan bagi pemerintah ini tidak kembali terjadi, terutama di wilayah pelosok. Ke depan, Pemprov NTT akan memastikan pemenuhan berbagai kebutuhan dasar masyarakat, termasuk sektor pendidikan, agar kejadian serupa tidak terulang.

"Apapun kisahnya ini tamparan keras untuk semua yang sudah kita kerjakan dan kita masih belum berhasil agar tidak ada nyawa yang meninggal sia-sia karena kondisi seperti ini. Saya mengucap belasungkawa sedalam-dalamnya bagi keluarga," tambahnya lagi.

Melki berjanji akan menyusun cara supaya bisa mendeteksi, merespons cepat dan mencegah hal ini terulang lagi. Ia berharap tak ada lagi anak-anak dari keluarga miskin yang melakukan hal serupa di masa depan.

"Saya harap ini jadi kejadian terakhir di NTT," tukasnya.

2. Akan data masyarakat miskin

Gubernur NTT Melki Laka Lena menanggapi kenaikan tunjangan DPRD NTT. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Ia juga sudah berkomunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Ngada. Persoalan ini didengarnya dari berbagai perspektif namun ia tidak mau mencari alibi apa pun atas apa yang terjadi namun fokus menyelesaikan persoalan yang tersisa, termasuk soal adat pemakaman.

"Nanti kita akan memberikan bantuan untuk meringankan beban keluarga," tukasnya.

Melki juga memastikan social security net yang harus dibangun bersama sehingga mendeteksi hal-hal ini. Pendataan masyarakat miskin, tegasnya, jangan sampai lagi terjadi kesalahan.

"Saya tadi memikirkan, seperti yang saya lihat di beberapa negara, seperti respon cepat dengan dana cepat tanpa birokrasi yang lama untuk membantu hal ini," tambah dia.

Ia mengetahui administrasi kependudukan korban belum pasti karena sebelumnya masih berpindah kecamatan.

"Siapapun yang miskin harus masuk atau didaftar dan siapapun yang tau ada penduduk miskin tolong didata supaya dapat bantuan sosial," tukasnya lagi.

3. Konselor sudah dikirim ke Ngada

Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko. (Dok Humas Polda NTT)

Kapolda NTT, Irjen Pol Rudi Darmoko, dalam kesempatan sebelumnya juga telah memastikan akan mengirimkan konselor dan psikolog untuk mendampingi keluarga korban.

"Kita sudah kirim psikolog maupun konselor untuk memberikan pendampingan mental bagi keluarga korban dan bantu meringankan kesulitan mereka," jawab dia.

Sebelumnya, Warga Karadhara, Dusun IV, Desa Nenowea, Ngada, NTT digegerkan dengan kematian Y.B.R. (10). Pelajar laki-laki kelas IV SD ini ditemukan meninggal dunia di area kebun cengkih milik neneknya. Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 11.00 WITA.

Kematian anak ini diketahui pertama kali oleh K.D. (59), yang menuju pondok untuk mengikat ternaknya dan melihat korban sudah dalam kondisi tergantung di salah satu pohon cengkeh sehingga ia panik, dan minta tolong warga sekitar.

G.K. (35) dan R.B. (34), selaku saksi sempat melihat anak tersebut di bale-bale bambu neneknya sekitar pukul 08.00 WITA ketika pondok mereka. Anak itu memberi tahu bahwa ia tidak masuk hari itu.

Sementara sang ibu, M.G.T. (47) menyatakan anaknya sempat mengeluh sakit kepala pada malam harinya. Paginya, ia tetap diminta bersiap ke sekolah karena sudah beberapa kali tidak masuk.

Korban kemudian diantar menuju pondok neneknya karena seragam sekolah berada di sana. Sang ibu sempat memberi nasihat agar anaknya rajin bersekolah, mengingat kondisi ekonomi keluarga yang terbatas.

Editorial Team