Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tarif Listrik Jadi Penyumbang Tertinggi Inflasi Tahunan di NTT
ilustrasi listrik (Dok. Pribadi/Muti'ah Mur Rahmah)
  • Bank Indonesia NTT mencatat tarif listrik jadi penyumbang utama inflasi tahunan Februari 2026 akibat efek dasar dari diskon tarif listrik tahun sebelumnya.
  • Inflasi NTT naik ke 3,42 persen namun dinilai temporer dan akan kembali normal, dengan tekanan harga di luar energi tetap terkendali.
  • BI memproyeksikan inflasi 2026 tetap dalam sasaran, sambil mewaspadai fluktuasi harga pangan dan menjaga stabilitas lewat sinergi kebijakan moneter serta fiskal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Januari–Februari 2025

Pemerintah memberikan diskon tarif listrik sebesar 50 persen yang kemudian menjadi faktor base effect dalam perhitungan inflasi tahunan berikutnya.

2025

Inflasi NTT tercatat sebesar 2,39 persen dan masih berada dalam sasaran nasional. Pertumbuhan ekonomi NTT mencapai 5,14 persen, tertinggi pascapandemi Covid-19.

Januari 2026

Inflasi NTT tercatat sebesar 3,34 persen (yoy) sebelum meningkat pada bulan berikutnya.

Februari 2026

BI NTT mencatat tarif listrik sebagai penyumbang inflasi tahunan tertinggi di provinsi tersebut dengan tingkat inflasi mencapai 3,42 persen (yoy).

2 Maret 2026

Dalam forum Sasando Dia di Kantor Perwakilan BI NTT, Adidoyo Prakoso menjelaskan lonjakan inflasi dan menegaskan dampaknya bersifat temporer serta akan normal kembali pada Maret 2026.

Maret 2026

BI memperkirakan tekanan harga akan kembali normal setelah kenaikan sementara akibat tarif listrik.

2026

BI memproyeksikan inflasi NTT sepanjang tahun tetap dalam sasaran meski mewaspadai risiko dari kelompok pangan dan dinamika harga global.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Tarif listrik tercatat sebagai penyumbang tertinggi terhadap inflasi tahunan di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Februari 2026, menurut laporan Bank Indonesia NTT.
  • Who?
    Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTT, Adidoyo Prakoso, bersama Kepala DJPb NTT, Adi Setiawan, menyampaikan data dan penjelasan dalam forum Sasando Dia di Kupang.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Nusa Tenggara Timur, Kota Kupang.
  • When?
    Pemaparan dilakukan pada Senin, 2 Maret 2026, dengan data inflasi yang mencakup periode Februari 2026.
  • Why?
    Kenaikan inflasi terjadi karena efek dasar dari kebijakan diskon tarif listrik 50 persen pada Januari–Februari 2025 yang membuat perbandingan tahunan menunjukkan lonjakan signifikan.
  • How?
    Inflasi meningkat menjadi 3,42 persen secara tahunan akibat kelompok perumahan dan energi; BI memastikan dampaknya bersifat sementara dan pengendalian harga tetap dilakukan melalui TPID serta pemantauan pasokan pangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kupang, IDN Times - Bank Indonesia Nusa Tenggara Timur (BI NTT) mencatat tarif listrik sebagai penyumbang inflasi tahunan (year on year/yoy) yang tertinggi di Provinsi NTT pada Februari 2026. Kepala Perwakilan BI NTT, Adidoyo Prakoso, menjelaskan lonjakan inflasi tahunan ini dipengaruhi faktor base effect dari kebijakan diskon tarif listrik 50 persen yang diberikan pemerintah pada Januari–Februari 2025.

"Karena pada periode yang sama tahun lalu tarif listrik lebih rendah akibat insentif, maka secara tahunan terlihat terjadi kenaikan signifikan," kata Adidoyo dalam Forum Sasando Dia yang digelar Kantor Perwakilan BI NTT, Senin (2/3/2026).

1. Dampaknya temporer

Ilustrasi listrik (freepik.com/Andranik.h90)

Ia menerangkan inflasi NTT pada Februari 2026 tercatat 3,42 persen (yoy), meningkat dibandingkan Januari 2026 sebesar 3,34 persen (yoy). Kenaikan tersebut terutama dipicu kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.

Namun demikian ia memastikan dampaknya bersifat temporer dan akan kembali normal pada Maret 2026 dan tekanan harga secara umum masih terkendali atau berada dalam kisaran sasaran nasional. Pihaknya mencatat tanpa memasukkan komponen tarif listrik, inflasi NTT sebenarnya hanya 1,72 persen (yoy).

"Angka ini menunjukkan tekanan harga di luar komponen energi relatif terjaga," ungkapnya.

2. Inflasi masih terjaga

Pemaparan BI NTT dalam forum Sasando Dia. (Dok KPw BI NTT)

Pada saat yang sama ia memaparkan capaian inflasi sepanjang 2025 yang sebesar 2,39 persen. Angka ini disebutnya masih mencakup sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen dan mencerminkan stabilitas harga yang sangat baik pasca pandemi Covid-19.

"Ini terjaga seiring pertumbuhan ekonomi NTT yang mencapai 5,14 persen, tertinggi pascapandemi," kata dia.

Adidoyo menegaskan pengendalian inflasi tetap menjadi prioritas melalui penguatan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Pengendalian ini melalui pemantauan harga dan pasokan pangan, serta pelaksanaan pasar murah menjelang hari besar keagamaan nasional.

3. Waspadai dinamika harga pangan

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Adidoyo Prakoso. (Dok BI NTT)

BI memproyeksikan inflasi NTT sepanjang 2026 tetap berada dalam sasaran, meski tetap mewaspadai risiko dari kelompok pangan yang memiliki volatilitas tinggi serta dinamika harga komoditas global.

"Dengan sinergi kebijakan moneter, fiskal, dan penguatan sektor riil, stabilitas harga diharapkan tetap terjaga di tengah momentum pertumbuhan ekonomi NTT yang semakin menguat," jelasnya.

Kepala DJPb NTT Adi Setiawan dalam forum yang sama menyebut belanja pemerintah berkontribusi lebih dari 21 persen terhadap PDRB NTT, sehingga kebijakan fiskal berperan penting menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi daerah.

Editorial Team