Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Suami Ditahan di Malaysia, 7 Perempuan dan 15 Anak Dipulangkan ke NTT
Anak pekerja migran yang dideportasi dari Malaysia dipulangkan ke NTT, Kamis (30/4/2026). (dok. Istimewa)
  • Sebanyak 22 warga NTT terdiri dari 7 perempuan dan 15 anak dipulangkan dari Malaysia melalui Lombok setelah sempat ditampung di Sentra Paramita Mataram sejak 23 April 2026.
  • Para suami masih ditahan di Malaysia, sementara anak-anak yang ikut dideportasi belum bersekolah dan telah mendapatkan layanan kesehatan serta kebutuhan dasar selama di penampungan.
  • Istri Gubernur NTB, Sintha Agathia Soedjoko, mengunjungi Sentra Paramita untuk memastikan pelayanan sosial berjalan baik dan menyerahkan bingkisan kepada para ibu serta anak-anak deportan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mataram, IDN Times - Sebanyak 22 warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dideportasi dari Malaysia, akhirnya dipulangkan ke kampung halaman dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Kamis (30/4/2026). Puluhan warga NTT yang dideportasi dari Malaysia, terdiri dari 7 perempuan dan 15 anak-anak berusia 1 hingga 8 tahun.

Sebelumnya, puluhan warga NTT itu ditampung sementara di UPT Kemensos Sentra Paramita Mataram sejak 23 April lalu. Kepala Sentra Paramita Mataram Arif Rohman, tujuh perempuan yang membawa 15 anak-anak itu dipulangkan ke NTT melalui Pelabuhan Gili Mas, Lombok Barat pada Kamis (30/4/2026).

"Mereka akan pulang ke Ende, Flores, Kupang, Sumba Barat Daya dan Kabupaten TTS (Timur Tengah Selatan). Mereka merupakan keluarga Pekerja Migran Indonesia yang sebelumnya dideportasi dari Malaysia, dan telah mendapatkan layanan tempat tinggal sementara (shelter), serta pemenuhan kebutuhan dasar di Sentra Paramita Mataram," kata Arif.

1. Suami masih ditahan di Malaysia

Kepala UPT Sentra Paramita Mataram Arif Rohman. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Berdasarkan informasi yang diperoleh, saat ini para suami 7 orang perempuan tersebut statusnya masih menjadi tahanan di Malaysia. Arif mengatakan hal yang cukup memprihatinkan, sebanyak 15 anak-anak yang ikut dideportasi itu tidak bersekolah.

Sentra Paramita Mataram menerima rujukan dari BP3MI NTB pada hari Jumat malam pekan lalu. Tim Sentra Paramita kemudian menyediakan tempat tinggal sementara, memastikan permakanan, serta melakukan asesmen dan pemeriksaan kesehatan. Kegiatan ini melibatkan para pekerja sosial, psikolog, dokter dan para perawat.

2. Diharapkan anak-anak segera melanjutkan pendidikan

Tujuh perempuan dan 15 anak-anak yang dideportasi dari Malaysia dipulangkan ke NTT, Kamis (30/4/2026). (dok. Istimewa)

Menurutnya, pemulangan 22 warga NTT itu menjadi langkah awal untuk kembali menata kehidupan. Arif berharap anak-anak dapat segera melanjutkan pendidikan di daerah asalnya dan tumbuh berkembang seperti anak-anak seusianya.

"Harapan juga disampaikan agar para ibu dan keluarga dapat bangkit dan memulai kehidupan yang lebih baik," kata dia.

3. Istri Gubernur NTB kunjungi 22 warga NTT yang dideportasi dari Malaysia

Istri Gubernur NTB Shinta Agathia Soedjoko mengunjungi 22 warga NTT yang dideportasi dari Malaysia di Sentra Paramita Mataram. (dok. Istimewa)

Sehari sebelumnya, istri Gubernur NTB yang juga Ketua Tim Penggerak PKK NTB, Sintha Agathia Soedjoko, berkunjung ke Sentra Paramita Mataram, Rabu (29/4/2026). Kunjungan tersebut untuk memastikan pelayanan sosial yang diselenggarakan oleh Sentra Paramita Mataram terhadap 22 warga NTT yang dideportasi dari Malaysia.

Kedatangan Sintha disambut oleh senyum dan keceriaan anak-anak NTT. Kunjungan ini pada dasarnya untuk memastikan layanan di Sentra Paramita pada warga NTT tersebut berjalan dengan maksimal. Dalam kunjungan tersebut, Shinta melakukan dialog singkat dengan para para ibu dan anak-anak yang dideportasi dari Malaysia.

Dia juga menyerahkan sejumlah bingkisan sebagai bentuk kepedulian Pemerintah Provinsi NTB. Shinta juga menyempatkan berdialog dengan para korban kekerasan seksual yang sedang mendapatkan pelayanan rehabilitasi sosial di Sentra Paramita Mataram, serta mengunjungi para balita terlantar.

Editorial Team