Pedagang beras di pasar tradisional Kota Mataram. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Kepala Bidang Barang Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan Kota Mataram Sri Wahyunida mengatakan pada awal pekan ini pihaknya turun memantau ketersediaan pasokan beras dan beberapa komoditi barang pokok lainnya di sejumlah pasar tradisional.
Untuk menstabilkan harga beras yang sedang melonjak, Bulog NTB menggelontorkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke tujuh pasar tradisional di Kota Mataram. Seperti di Pasar Kebon Roek Ampenan, Bulog menggelontorkan beras SPHP sebanyak 19 ton.
"Kalau untuk beras SPHP, ketersediaan pasokan Alhamdulilah tersedia. Karena di Pasar Kebon Roek, beras SPHP itu seminggu dua kali digelontorkan sebanyak 19 ton," sebutnya.
Beras SPHP yang digelontorkan untuk masing-masing pasar tradisional di Kota Mataram, berbeda-beda kuotanya. Karena menurut Sri, kuotanya tergantung jumlah outlet Bulog di pasar tersebut.
Ia memberikan contoh seperti di Pasar Pagesangan, beras SPHP yang digelontorkan Bulog sebanyak 10 ton, karena di sana ada 10 outlet. Masing-masing outlet mendapatkan sebanyak 1 ton.
"Pengawasan beras SPHP, kita sudah mewanti kepala pasar, untuk pedagang yang punya outlet melakukan pemantauan beras SPHP. Karena ada beberapa kondisi kami terima laporan di bawah, beras SPHP ini ada outlet yang tidak memberikan masyarakat membeli. Itu kami langsung dapat laporan. Kalau terus-terusan melakukan pelanggaran, Bulog akan menutup outlet itu," katanya.
Bagi masyarakat yang menemukan keganjalan dalam penyaluran beras SPHP oleh outlet di pasar tradisional, dapat melaporkannya ke Bulog atau Dinas Perdagangan Kota Mataram. Dalam penyaluran beras SPHP, outlet harus melakukan pengaturan.
"Misalnya outlet menerima satu ton, proses pengeluarannya boleh 500 kilogram dulu, untuk menunggu barang SPHP yang masuk lagi. Jadi kalau dibiarkan satu ton dikeluarkan akan habis semuanya. Jadi ada pengawasan dilakukan kepala pasar terkait penyaluran beras SPHP ini," terangnya.