Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi BBM eceran dalam botol. IDN Times/Asrhawi Muin
Ilustrasi BBM eceran dalam botol. IDN Times/Asrhawi Muin

Intinya sih...

  • Kapasitas kapal pengganti lebih kecil

  • SPBU tahan penjualan sebagai antisipasi

  • Pedagang eceran pasang harga tinggi

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kupang, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), membenarkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) akibat cuaca buruk yang mengganggu distribusi via laut. Harga BBM pertalite bahkan menyentuh angka Rp50 ribu per liter pada tingkat pengecer.

Fuel Terminal Manager Pertamina Patra Niaga Maumere, Zakiudin telah menjelaskan ini kepada Pemkab Lembata. Distribusi akan berlanjut setelah izin pelayaran sudah diberikan kembali.

Sementara di lapangan polisi menemukan kenaikan harga BBM jenis Pertalite di saat stok BBM di SPBU terbatas dan dijual dengan penyesuaian.

1. Kapasitas kapal lebih kecil

ilustrasi BBM (IDN Times/Aditya Pratama)

Penyaluran BBM ke Lembata tetap dilakukan, kata Zakiudin, meski jumlahnya tidak optimal karena menggunakan kapal pengganti berkapasitas lebih kecil.

“Pengiriman BBM tetap berjalan, namun menggunakan kapal pengganti berukuran lebih kecil sehingga kuota harian tidak terpenuhi secara maksimal. Terdapat kekurangan sekitar 10 kilo liter dari kuota normal,” ujar Zakiudin.

Sebelumnya, ia menyebut kapal pengangkut BBM Trans Florety sempat tertahan di Pelabuhan Larantuka karena cuaca buruk dan tak mendapat izin berlayar.

2. SPBU tahan penjualan sebagai antisipasi

ilustrasi BBM (unsplash.com/engin akyurt)

Terkait kelangkaan BBM ini, sebut dia, dipengaruhi juga oleh kebijakan sejumlah SPBU yang menahan sementara penjualan sebagai langkah antisipatif. Langkah ini demi menjaga cadangan BBM di tengah potensi keterlambatan pengiriman akibat cuaca ekstrem.

Misalnya SPBU Ile Ape melaporkan BBM yang dikirim pada 21 Januari 2026 untuk wilayah Tanah Merah, masing-masing Pertalite 5 KL dan Biosolar 5 KL, terkendala keterlambatan kedatangan kapal. Begitu pula pengiriman Pertamax 5 KL dan Pertadex 5 KL dari Larantuka pada 22 Januari 2026 pun terkendala cuaca laut.

Pemkab Lembata mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan. Pemkab Lembata dan Pertamina serta pihak terkait memastikan distribusi BBM akan berjalan lancar serta kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi.

3. Pedagang eceran pasang harga tinggi

Pemkab Lembata adakan pertemuan khusus dengan Pertamina. (Dok Prokopim Pemkab Lembata)

Pedagang eceran sendiri menarik harga pertalite mulai Rp20 ribu hingga Rp50 ribu per liter selama cuaca buruk dan masa stok BBM yang menipis. Kasat Reskrim Polres Lembata, Iptu Muhammad Ciputra Abidin, membenarkan harga BBM di pedagang eceran yang melebihi harga eceran tertinggi (HET) ini.

Damianus Gawen, seorang warga dari Kecamatan Wulandoni, Lembata, juga menyampaikan hal serupa.

"Kami di Wulandoni sudah Rp50 ribu per liter, tolong pemerintah tindaklanjuti ini," sebut dia.

Kapolres Lembata AKBP Nanang Wahyudi sendiri menyebut harga BBM tetap normal untuk pembelian di SPBU namun dengan antrean panjang kendaraan yang kerap terjadi. Kondisi ini setiap tahun terjadi terutama saat cuaca buruk.

"Kapal transport pembawa dari Patra Pertamina Maumere kecil dan mampunya hanya seminggu 2x kirim, terus kuota juga terbatas," tandasnya.

Editorial Team