Ombudsman RI Perwakilan NTB turun melakukan investigasi terkait kasus dugaan keracunan susu MBG kedaluwarsa di Lombok Tengah. (dok. Istimewa)
Fathul mengungkapkan ribuan mitra dan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) telah dikumpulkan. SPPI diminta berani bersikap jika ditemukan SPPG yang bermasalah.
"Kalau memang SPPG bermasalah, buat laporan bermasalah. Jangan ditutup-tutupi. Makanya itu yang kita evaluasi termasuk petugas evaluasi juga," kata dia.
Sebelumnya, Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Letjen TNI (Purn) Dadang Hendrayudha menyebutkan hampir 70 persen dapur MBG di NTB diberikan surat peringatan pertama (SP1) karena belum memenuhi standar. Hal itu terungkap dalam Rapat Koordinasi Program MBG bersama Gubernur NTB, Forkopimda, Satgas MBG Provinsi NTB dan Satgas MBG Kabupaten/Kota di Mataram, Rabu (4/2/2026).
Dia menekankan bahwa keberhasilan program MBG sangat ditentukan oleh pemenuhan standar, ketepatan sasaran, dan tata kelola yang akuntabel. Setiap dapur MBG harus memenuhi standar operasional dengan kebutuhan ideal sekitar Rp1,2 miliar per dapur.
Dia menyebutkan saat ini hampir 70 persen dapur MBG di NTB telah diberikan Surat Peringatan (SP1) karena belum memenuhi standar. Sehingga, dia meminta Dinas Kesehatan untuk lebih selektif dan cermat dalam penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Dijelaskan, setiap dapur MBG membutuhkan 47 tenaga kerja relawan, dengan upah harian Rp100.000 untuk 2 jam kerja atau setara Rp2,4 juta per bulan sesuai upah minimum di NTB. Program MBG juga dirancang mulai dari ibu hamil dan ibu menyusui, balita, hingga peserta didik SMA, sebagai strategi komprehensif pencegahan stunting.
Hendrayudha menyampaikan bahwa anggaran MBG sebesar Rp15.000 per orang per hari. Hal itu mencakup bahan baku, operasional, serta insentif mitra dan yayasan. Untuk menjamin mutu dan pengawasan, Pemda bersama Satgas menyiapkan portal menu harian MBG yang dapat dipantau secara langsung.
Dalam rangka penguatan pelaksanaan program MBG di NTB, dia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor Kemudian antara Satgas dengan BGN, percepatan sertifikasi SLHS oleh Dinas Kesehatan, pendampingan penggunaan anggaran oleh BPKP, pendampingan keamanan pangan oleh BPOM, serta dukungan Dinas Pendidikan dalam pemutakhiran data peserta didik.