Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
612231792_1506100171078986_8523324818391300470_n.jpg
Praka Satria Taopan, prajurit Satgas Pamtas Mobile Yonif 100/Prajurit Setia Kodam I/Bukit Barisan. (Dok Istimewa)

Intinya sih...

  • Praka Satria Tino Taopan, prajurit TNI asal NTT, tewas tertembak di Papua Pegunungan saat patroli.

  • Satria tes masuk TNI 9 kali, tekun dalam tugas, dan bergabung dengan pasukan PBB di Kongo.

  • Keluarga Satria mendukung cita-citanya menjadi tentara, dan kini menunggu evakuasi jenazahnya ke Kupang.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kupang, IDN Times - Praka Satria Tino Taopan, seorang prajurit TNI asal Nusa Tenggara Timur (NTT), tewas tertembak saat melakukan patroli di Kampung Tetmid, Distrik Nduga, Papua Pegunungan pada Kamis (8/1/2026). Satria saat itu bertugas di Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Mobile Batalyon Infanteri (Satgas Pamtas Mobile Yonif) 100/Prajurit Setia (PS).

Kelompok TPNPB mengklaim bertanggung jawab atas aksi yang menewaskan prajurit asal Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang ini. Jenazah Praka Satria kini dievakuasi dan dijadwalkan dipulangkan ke Kupang untuk dimakamkan secara militer.

1. Sembilan kali tes tentara

Suasana rumah duka Praka Satria Tino Taopan di Kupang. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Sang ayah, Dominggus Taopan mengenang anaknya yang telah gugur dalam tugas tersebut. Satria merupakan anak pertamanya yang sudah bercita-cita menjadi tentara sejak dahulu. Keinginan putranya itu sangatlah gigih dengan mengikuti tes berulang kali atas keinginan pribadi.

"Bahkan katanya biar tidak pakai pangkat pun dia harus jadi tentara. Jadi ketika tes yang kesembilan, pagi-pagi sekali kami dua di teras dia sampaikan ini kali terakhir karena kalau tidak biar jadi supir truk,"

Akhirnya, ia sebagai orang tua turut mendukung putranya itu setiap kali tes TNI AD. Dominggus mengungkap anaknya itu sampai mendapat julukan khusus.

"Jadi di KOREM itu sampai sebut dia kakak kelas karena sudah tes ulang-ulang sampai sembilan kali TNI AD di umur terakhir," kata dia.

Sebelumnya Satria pernah mencoba tes masuk akademi kepolisian namun gugur di pantohir.

2. Tekun dalam tugas dan sayang keluarga

Suasana rumah duka Praka Satria Tino Taopan di Kupang. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Satria kemudian bertugas mulai dari Batalyon Infanteri Mekanis 121/Macan Kumbang, satuan infanteri mekanis di bawah Kodam I/Bukit Barisan di Deli Serdang, Sumatera Utara. Kemudian ia masuk dalam Satgas pengamanan di perbatasan Papua Nugini. Satria bergabung lagi dengan pasukan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Nama Satria ada dalam daftar 900 yang lolos dari awal 4.000 pendaftar. Ia pun berangkat ke Kongo untuk tugas setahun.

"Dia sempat suruh saya dan istri berdoa karena nama dia keluar untuk ikut pasukan PBB. Maka kami menangis. Kami sembayang di ruang doa," ceritanya lagi.

Pada 2024 lalu, di sela misi internasional itu ia berupaya untuk balik ke Kupang saat ada kesempatan berlibur di Belanda. Begitu dinas di Kongo selesai pun ia sempat balik ke Kupang lagi sebelum bergabung dengan Satgas Pamtas Mobile Yonif 100/PS. Satgas ini bagian dari Batalion Rider 100 yang kekurangan personel sehingga meminta bantuan tenaga 12 orang Batalion 121/Macan Kumbang. Maka sejak itu ia turut bergabung dalam satgas tersebut.

"Satu tahun di sana. Harusnya tanggal 24 ini sudah selesai tugas," ungkapnya.

3. Berita kematian anak mereka

Suasana rumah duka Praka Satria Tino Taopan di Kupang. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Pada hari duka itu, awalnya sang ibu sempat mengirim chat namun tak dibalasnya pada Kamis (8/1/2026). Ketika ia tiba di kantor baru ada berita tentang kematian anaknya.

"Ada telepon dari temannya yang satu letting di batalion keluarganya yang kebetulan satu tempat kerja dengan saya, jadi saya terima telponnya," ungkap dia.

Ia tidak percaya awalnya tentang kabar tersebut namun teman Satria tersebut sambil terus menangis.

Menurutnya ceritanya, Satria tertembak namun belum pasti seperti apa luka dan kejadiannya.

"Jadi dia menangis terus tapi saya tidak percaya. Dia bilang Satria sudah gugur. Dia bilang supaya saya dan istri untuk kuat karena semuanya mereka urus dan lagi evakuasi" lanjutnya.

Evakuasi jenazah sementara masih dilakukan. Ia menyebut selanjutnya jenazah akan diterbangkan dengan pesawat melalui Makasar, Surabaya lalu ke Kupang dengan perkiraan tiba pukul 19.00 WITA. Ada beberapa pimpinan yang ikut dalam pengantaran jenazah ini.

Editorial Team