Kupang, IDN Times - Program Mahasiswa Berdampak yang digagas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) di Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai belum dimanfaatkan secara optimal sepanjang 2025. Pemerintah pun mendorong perguruan tinggi di wilayah tersebut untuk lebih aktif berpartisipasi pada 2026.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman, menyampaikan hal itu saat menghadiri rapat kerja pimpinan perguruan tinggi di Kupang, Selasa (5/5/2026).
Menurut Fauzan, program Mahasiswa Berdampak dijalankan melalui skema Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (P2MM), yang berfokus pada penguatan kapasitas dan kemandirian masyarakat.
“Program ini menyasar wilayah prioritas seperti daerah tertinggal, terdepan atau kawasan afirmasi, wilayah dengan kemiskinan ekstrem, serta daerah dengan persoalan pengelolaan sampah,” jelasnya.
