Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Program Mahasiswa Berdampak Belum Maksimal di NTT, Ini Penyebabnya
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman di Kota Kupang. (IDN Times/Putra Bali Mula)
  • Kemendiktisaintek menyoroti minimnya kampus di NTT yang lolos Program Mahasiswa Berdampak 2025 dan mendorong peningkatan partisipasi pada 2026 melalui skema P2MM untuk pemberdayaan masyarakat.
  • Hanya tiga kampus di bawah LLDIKTI Wilayah XV yang berhasil lolos Program Mahasiswa Berdampak 2025, dengan total pendanaan mencapai lebih dari Rp690 juta untuk tujuh judul kegiatan.
  • Program Kosabangsa juga digencarkan di NTT dengan total dana Rp3,26 miliar bagi delapan perguruan tinggi, berfokus pada bidang pangan, kesehatan, ekonomi hijau, biru, dan kreatif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyoroti rendahnya jumlah kampus di Nusa Tenggara Timur yang lolos Program Mahasiswa Berdampak tahun 2025 dan mendorong peningkatan partisipasi pada tahun 2026.
  • Who?
    Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman, bersama pimpinan perguruan tinggi di bawah LLDIKTI Wilayah XV.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, dalam kegiatan rapat kerja pimpinan perguruan tinggi.
  • When?
    Kegiatan berlangsung pada Selasa, 5 Mei 2026, dengan pembahasan hasil program tahun 2025 dan rencana pelaksanaan tahun 2026.
  • Why?
    Karena hanya tiga kampus di NTT yang lolos Program Mahasiswa Berdampak pada 2025 sehingga diperlukan peningkatan pemanfaatan program untuk memperkuat kapasitas masyarakat daerah tertinggal.
  • How?
    Kemendiktisaintek menyiapkan pendanaan hingga Rp80 juta per tim melalui skema P2MM serta mendorong kolaborasi dosen dan mahasiswa untuk turun langsung ke lapangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pak Fauzan dari Kemendiktisaintek bilang cuma sedikit kampus di NTT yang ikut program Mahasiswa Berdampak tahun 2025. Dia mau tahun 2026 lebih banyak yang ikut supaya bisa bantu orang di daerah susah. Kampus dan dosen bisa dapat uang buat kerja di lapangan. Ada juga program Kosabangsa yang kasih dana besar buat bantu masyarakat dan alam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kupang, IDN Times - Program Mahasiswa Berdampak yang digagas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) di Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai belum dimanfaatkan secara optimal sepanjang 2025. Pemerintah pun mendorong perguruan tinggi di wilayah tersebut untuk lebih aktif berpartisipasi pada 2026.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman, menyampaikan hal itu saat menghadiri rapat kerja pimpinan perguruan tinggi di Kupang, Selasa (5/5/2026).

Menurut Fauzan, program Mahasiswa Berdampak dijalankan melalui skema Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (P2MM), yang berfokus pada penguatan kapasitas dan kemandirian masyarakat.

“Program ini menyasar wilayah prioritas seperti daerah tertinggal, terdepan atau kawasan afirmasi, wilayah dengan kemiskinan ekstrem, serta daerah dengan persoalan pengelolaan sampah,” jelasnya.

1. Dosen sebagai pendamping mahasiswa di lapangan

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman melihat hasil karya mahasiswa di Kota Kupang. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Ia menambahkan, program tersebut melibatkan dosen sebagai pendamping mahasiswa di lapangan, dengan dukungan pendanaan dari Kemendiktisaintek hingga Rp80 juta per tim.

“Diperlukan satu dosen sebagai penghubung tim mahasiswa saat turun ke lapangan, dengan dukungan dana hingga Rp80 juta,” ujarnya.

Namun, pada 2025, jumlah perguruan tinggi di bawah Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV yang lolos program ini masih terbatas.

Untuk perguruan tinggi swasta (PTS), hanya dua kampus yang terlibat, yakni STKIP Sinar Pancasila dan Universitas Flores, masing-masing dengan satu judul kegiatan yang didanai lebih dari Rp118 juta.

2. Universitas Nusa Cendana yang lolos

Pemaparan program Mahasiswa Berdampak oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman di Kota Kupang. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Sementara dari perguruan tinggi negeri (PTN), hanya Universitas Nusa Cendana yang lolos dengan empat judul kegiatan dan total pendanaan mencapai Rp452,7 juta.

“Partisipasinya masih sedikit. Kami berharap lebih banyak perguruan tinggi di NTT dapat bergabung pada tahun ini,” kata Fauzan.

Ia menilai program ini memiliki potensi besar, terutama menjelang masa libur akademik, sehingga mahasiswa dapat lebih leluasa terjun langsung ke masyarakat.

“Mahasiswa bisa memanfaatkan momentum ini untuk turun ke lapangan. Kami juga membuka peluang kerja sama dengan perguruan tinggi maupun pemerintah daerah,” tambahnya.

3. Program Kosabangsa yang menyasar wilayah dengan karakteristik sama

Kepala BRIN meninjau inovasi teknologi mahasiswa di Kupang. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Selain Program Mahasiswa Berdampak, Kemendiktisaintek juga menjalankan Program Kosabangsa yang menyasar wilayah dengan karakteristik serupa, termasuk daerah tertinggal, kawasan afirmasi, wilayah rawan bencana, serta daerah dengan tingkat kemiskinan ekstrem.

Program pengabdian masyarakat berbasis kolaborasi antarperguruan tinggi ini menyediakan pendanaan maksimal hingga Rp300 juta per proposal.

Pada 2025, tercatat enam PTS di NTT yang lolos Program Kosabangsa, di antaranya Universitas Citra Bangsa, Universitas Flores, Universitas Katolik Weetebula, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, serta Universitas Nusa Nipa, dengan total pendanaan mencapai Rp1,518 miliar.

Sementara itu, dua PTN yang terlibat adalah Politeknik Negeri Kupang dan Universitas Timor, dengan total pendanaan lebih dari Rp1,7 miliar.

Secara keseluruhan, Program Kosabangsa di NTT mencakup 13 judul kegiatan dengan total anggaran Rp3,26 miliar. Kegiatan tersebut difokuskan pada sektor pangan (46,2 persen), kesehatan (23,1 persen), ekonomi hijau (15,4 persen), ekonomi biru (7,7 persen), dan ekonomi kreatif (7,7 persen).

Editorial Team