Petugas Bulog NTB turun melakukan penyerapan gabah ke sawah. (IDN Times/Istimewa)
Wahyudin menambahkan realisasi luas panen padi sepanjang Januari hingga Desember 2024 mencapai 281,72 ribu hektare. Luas panen mengalami penurunan sebesar 5,79 ribu hektare atau 2,02 persen dibandingkan tahun 2023 yaitu sebesar 287,51 ribu hektare.
Dia mengatakan puncak panen padi pada 2024 mengalami pergeseran ke bulan April, dari sebelumnya terjadi pada Maret 2023. Luas panen padi pada April 2024 sebesar 71,28 ribu hektare, sedangkan pada Maret 2023 luas panen padi mencapai 73,77 ribu hektare.
Produksi padi di NTB sepanjang Januari hingga Desember 2024 mencapai sekitar 1,45 juta ton GKG. Produksi padi di NTB tahun 2024 mengalami penurunan sebanyak 85,13 ribu ton GKG atau 5,53 persen dibandingkan tahun 2023 yang sebesar 1,54 juta ton GKG.
"Produksi padi tertinggi pada 2024 terjadi pada Bulan April, yaitu sebesar 376,50 ribu ton GKG sementara produksi terendah terjadi pada Bulan Januari, yaitu sekitar 33,13 ribu ton GKG," jelasnya.
Jika dilihat menurut Subround, kata Wahyudin, terjadi penurunan produksi padi di NTB hanya pada Subround Januari−April 2024 yaitu sebesar 245,30 ribu ton GKG atau 27,99 persen dibandingkan periode yang sama pada 2023.
Penurunan produksi padi tersebut disebabkan karena adanya penurunan produktivitas, serta penurunan luas panen padi, sebesar 39,81 ribu hektare atau 25,06 persen dibandingkan periode yang sama pada 2023.
Di sisi lain, peningkatan produksi padi terjadi pada Subround Mei−Agustus 2024 dan September-Desember 2024, yaitu masing-masing sebesar 130,02 ribu ton GKG atau 26,72 persen dan 30,15 ribu ton GKG atau 17,18 persen dibandingkan periode yang sama pada 2023
Dia menyebut penurunan produksi padi pada 2024 terjadi di beberapa wilayah potensi penghasil padi seperti, Sumbawa, Lombok Tengah dan Sumbawa Barat. Di sisi lain, terdapat beberapa kabupaten/kota yang mengalami kenaikan produksi padi, misalnya Dompu, Lombok Timur dan Lombok Utara.
Tiga kabupaten/kota dengan total produksi padi tertinggi pada 2024 adalah Lombok Tengah, Sumbawa, dan Lombok Timur. Sementara itu, tiga kabupaten/kota dengan produksi padi terendah yaitu Kota Bima, Kota Mataram, dan Lombok Utara.
Wahyudin mengatakan jika produksi padi dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, maka produksi padi sepanjang Januari hingga Desember 2024 setara dengan 827,79 ribu ton beras. Produksi beras sepanjang 2024 mengalami penurunan sebesar 48,49 ribu ton atau 5,53 persen dibandingkan 2023 yakni sebesar 876,27 ribu ton.
"Produksi beras tertinggi pada 2024 terjadi pada Bulan April, yaitu sebesar 214,44 ribu ton. Sementara itu, produksi beras terendah terjadi pada Bulan Januari, yaitu sebesar 18,87 ribu ton," jelasnya.