Antrean di SPBU Kota Kupang saat stok BBM menipis. (IDN Times/Putra Bali Mula)
Pertamina juga menemukan adanya pelangsir atau pengetap BBM dari SPBU secara berulangkali menggunakan tanki kendaraan yang sudah dimodifikasi. Hal ini menjadi faktor lain yang dinilai sangat mengganggu kestabilan distribusi.
Temuan ini mereka dapat di Kabupaten Belu dan Sumba Barat Daya. Pihaknya mencatat sedikitnya ada 3 hingga 4 SPBU di Belu yang sedang menjalani pembinaan karena hal tersebut tak sesuai regulasi.
"Di Atambua (Belu) kami memang sedikit kewalahan berkaitan dengan habit masyarakat yang diduga sebagai kendaraan pelangsir. Bahkan ada dugaan transaksi di luar regulasi hingga potensi penyelundupan," jelasnya.
Sementara Sumba Barat Daya kejadian berlangsung di beberapa SPBU hingga menyebabkan antrean tak normal dan melebihi batas layanan.
"Ada anomali, banyak sekali kebiasaan masyarakat mengantre bolak-balik menggunakan kendaraan modifikasi, sehingga antrean melampaui batas normal dan membuat kami kewalahan," tambahnya.
Ia memastikan total stok BBM di NTT per 12 Oktober 2026 tercatat sangat mencukupi, dengan rincian Pertalite: 15.928 kilo liter (KL), biosolar 6.278 KL, minyak tanah 2.182 KL, Pertamax 2.182 KL, Avtur 2.017 KL, dan Pertamina Dex 1.606 KL.
Pada triwulan IV tahun 2026 ini pasokan kuota Pertalite untuk NTT bahkan ditambah sebesar 1,57 persen.
"Untuk itu kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying," ungkapnya.