Pertamina Ungkap Penyebab Pasokan BBM di Sejumlah SPBU NTT Macet

Pertamina menyatakan stok dan kuota BBM NTT aman, tetapi pasokan terlambat akibat keterbatasan serta antrean kapal tanker di kilang Balikpapan dan Tuban.
Lonjakan permintaan Pertalite setelah harga Pertamax naik, ditambah pelangsir memakai kendaraan bertangki modifikasi di Belu dan Sumba Barat Daya, memperpanjang antrean SPBU.
Pertamina menyesuaikan distribusi, termasuk pasokan laut untuk Rote Ndao dan Sabu Raijua serta pengalihan suplai TTU dari Fuel Terminal Tenau dengan tambahan mobil tangki.
Kupang, IDN Times — PT Pertamina Patra Niaga membeberkan sejumlah faktor utama pemicu kemacetan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM). Beberapa hari ini terjadi antrean panjang kendaraan pada sejumlah SPBU di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sales Branch Manager (SBM) Pertamina Patra Niaga Wilayah Kupang, Ali Uraidy, menyebut secara umum kuota dan stok BBM di NTT masih dalam kondisi aman. Kendalanya pada keterlambatan pasokan armada serta antrean di kilang minyak. Kendala itu juga telah ia sampaikan kepada Pemerintah Provinsi NTT.
1. Keterlambatan kapal karena antrean di kilang Balikpapan dan Tuban

Antrean di SPBU Kota Kupang saat stok BBM menipis. (IDN Times/Putra Bali Mula) NTT umumnya mendapat suplai BBM dari Kilang Balikpapan (Kalimantan Timur) dan Tuban (Jawa Tengah). Saat yang sama terjadi gangguan distribusi yakni keterlambatan pasokan armada kapal tanker dari kilang minyak karena adanya antrean kapal.
"Keterbatasan kapal dan antrean kapal di kilang BBM Balikpapan memicu penyesuaian jadwal penyaluran hingga kapal tiba," ujar Ali dalam keterangannya, Rabu (14/10/2026).
Di satu sisi, kata dia, adanya lonjakan permintaan Pertalite secara signifikan karena konsumen beralih dari Pertamax pasca harganya naik. Fenomena ini disebutnya bukan saja di NTT tapi menjadi menjadi tren nasional sehingga terjadi antrean panjang di SPBU.
"Disparitas harga ini mendorong masyarakat beralih menggunakan BBM bersubsidi atau penugasan tersebut," tukasnya.
2. Sebut kendaraan modifikasi jadi gangguan

Antrean di SPBU Kota Kupang saat stok BBM menipis. (IDN Times/Putra Bali Mula) Pertamina juga menemukan adanya pelangsir atau pengetap BBM dari SPBU secara berulangkali menggunakan tanki kendaraan yang sudah dimodifikasi. Hal ini menjadi faktor lain yang dinilai sangat mengganggu kestabilan distribusi.
Temuan ini mereka dapat di Kabupaten Belu dan Sumba Barat Daya. Pihaknya mencatat sedikitnya ada 3 hingga 4 SPBU di Belu yang sedang menjalani pembinaan karena hal tersebut tak sesuai regulasi.
"Di Atambua (Belu) kami memang sedikit kewalahan berkaitan dengan habit masyarakat yang diduga sebagai kendaraan pelangsir. Bahkan ada dugaan transaksi di luar regulasi hingga potensi penyelundupan," jelasnya.
Sementara Sumba Barat Daya kejadian berlangsung di beberapa SPBU hingga menyebabkan antrean tak normal dan melebihi batas layanan.
"Ada anomali, banyak sekali kebiasaan masyarakat mengantre bolak-balik menggunakan kendaraan modifikasi, sehingga antrean melampaui batas normal dan membuat kami kewalahan," tambahnya.
Ia memastikan total stok BBM di NTT per 12 Oktober 2026 tercatat sangat mencukupi, dengan rincian Pertalite: 15.928 kilo liter (KL), biosolar 6.278 KL, minyak tanah 2.182 KL, Pertamax 2.182 KL, Avtur 2.017 KL, dan Pertamina Dex 1.606 KL.
Pada triwulan IV tahun 2026 ini pasokan kuota Pertalite untuk NTT bahkan ditambah sebesar 1,57 persen.
"Untuk itu kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying," ungkapnya.
3. Skema penyaluran disesuaikan lagi

SPBU di Kota Kupang tutup karena kehabisan stok. (IDN Times/Putra Bali Mula) Selanjutnya, ia memastikan penyaluran akan berjalan normal kembali dalam beberapa waktu terakhir. Penyaluran BBM untuk wilayah kepulauan seperti Rote Ndao dan Sabu Raijua juga terus dipasok melalui armada laut sebanyak 300 ribu liter, serta didukung beroperasinya satu SPBU baru di Sabu.
Khusus untuk Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), ia mengakui adanya kendala geografis dan teknis distribusi dari depo (fuel terminal) menuju SPBU juga membutuhkan waktu lama.
"Terjadi kendala pengiriman akibat keterlambatan kapal ke FT Atapupu (Belu) tapi nanti ada pengalihan skema pasokan BBM untuk TTU langsung dari FT Tenau, Kota Kupang, menggunakan armada mobil tangki tambahan yang memerlukan waktu tempuh perjalanan darat lebih panjang," jelas dia.




















