Deni Apriadi Rahman alias Dea Lipa didampingi keluarga dan Solidaritas Kemanusiaan. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Sejak unggahan tentang dirinya viral di media sosial, Deni mengaku mengalami tekanan yang sangat berat. Dia menerima ribuan komentar berisi cacian, hinaan, ancaman serta teror melalui pesan langsung di media sosial.
"Saya sangat terpukul secara mental dan fisik. Bahkan beberapa kali saya sempat kehilangan kendali dan mengalami pikiran-pikiran berbahaya terhadap diri saya," ungkapnya.
Karena kondisi itu, Dia harus menghentikan sejumlah pekerjaan yang sudah dijadwalkan. Pembatalan ini menimbulkan kerugian bukan hanya bagi dirinya tetapi juga bagi asisten dan rekan kerjanya.
"Kami semua kehilangan pemasukan," ungkapnya.
Deni menambahkan bahwa dia memahami masyarakat NTB menjunjung tinggi nilai agama, budaya dan kesopanan. Dia mengatakan tidak ingin menjadi penyebab kegaduhan atau menyakiti perasaan siapapun. Karena itu, dia ingin memperjelas sekaligus berharap tidak ada lagi kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat.
"Saya percaya setiap manusia punya kekurangan, kesalahan dan perjalanan hidup masing-masing termasuk saya sendiri. Saya adalah orang yang sedang berproses sebagai penyintas disabilitas, sebagai anak muda yang tumbuh tanpa banyak bimbingan dan sebagai orang yang sedang berusaha memperbaiki diri," jelas Deni.
Deni mengatakan bersyukur dalam masa sulit ini, keluarga, sahabat dan orang yang mengenalnya tetap mendampingi dan memberi kekuatan. Mereka membantunya agar tetap tenang agar bisa melanjutkan hidup dengan lebih baik.
Ke depan, Deni ingin terus bekerja sebagai make up artist dan menabung untuk membangun galeri sederhana dan berbagi keterampilan dengan orang lain. Dia juga ingin melanjutkan pendidikan formal yang sempat tertunda karena percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat.
"Saya berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Ada cara yang lebih baik dan bijak untuk mengingatkan, membimbing atau menegur seseorang bukan dengan fitnah, cacian dan penghakiman di ruang publik," harapnya.