(Ilustrasi wisuda) IDN Times/Mardya Shakti
Kebijakan ini menuai pro dan kontra di kalangan orangtua siswa. Sebagian wali murid menganggap wisuda sebagai momen penting untuk memotivasi anak-anak, sementara pemda Lotim tetap pada aturan yang telah ditetapkan pemerintah pusat.
Fathin salah satunya, warga kota Selong ini mengatakan tidak keberatan jika harus mengeluarkan biaya untuk kegiatan wisuda anaknya yang telah tamat sekolah. Menurutnya momen wisuda merupakan momen penting bagi anak-anak mengenang masa sekolah mereka.
"Kami tidak keberatan, sebab kita mengeluarkan biaya hanya sekali dalam 6 tahun untuk SD dan sekali 3 tahun untuk SMP," ujarnya.
Sementara pendapat berbeda diutarakan orangtua murid, Zulkifli. Menurutnya kegiatan wisuda untuk jenjang pendidikan di bawah perguruan tinggi merupakan kegiatan pemborosan, sebab anak masih akan terus melanjutkan pendidikannya.
"Wisuda tamatan SD, SMP maupun SMA tidak ada manfaatnya hanya pemborosan, biaya itu juga sangat memberatkan wali murid. Setiap kegiatan wisuda paling tidak harus mengeluarkan biaya di atas Rp500.000, itu kan bisa kita gunakan untuk membeli seragam siswa," ujarnya.