Petani memanen padi di area persawahan saat musim kemarau. (IDN Times/Dhana Kencana)
Tidak heran, jika keberadaan petani padi dan kedelai makin berkurang semenjak jagung booming di Kabupaten Bima. Kondisi itu membuat Dispertanbun merasa pesimis untuk mencapai target produksi dua tanaman tersebut.
"Khusus untuk padi (gabah), produksi di tahun 2024 nanti sebanyak 346.954 ton. Kita gak optimistis akan capai target itu, karena sekarang petani kita banyak yang beralih ke jagung," katanya.
Terlebih yang terjadi pada beberapa tahun sebelumnya, capaian produksi gabah tidak sesuai dengan yang ditargetkan. Padahal, hal tersebut menyangkut kebutuhan pokok dan ketahanan pangan di daerah.
Sebagai informasi, sejak tanaman jagung booming di wilayah Bima dalam beberapa tahun terkahir ini, banjir bandang kerap menerjang pemukiman warga. Ribuan Kepala Keluarga (KK) terdampak, terutama mereka yang menempati wilayah di sekitar bantaran sungai.
Korban banjir juga mendapatkan bantuan dari pusat. Melalui Kementerian PUPR, korban banjir dibangunkan 185 hunian rumah relokasi banjir di Desa Tambe Kecamatan Bolo.
"Bukan lagi rahasia umum, kalau banjir di Bima dipicu perambahan hutan untuk perluasan area tanaman jagung," kata Kepala BPBD Kabupaten Bima, Isyra pada IDN Times belum lama ini.