Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pasar Pringgabaya Ludes Dilalap Api, Ratusan Lapak Hangus dalam Sekejap
Kondisi pasar Pringgabaya usai api dipadamkan (IDN Times/Istimewa)
  • Kebakaran hebat melanda Pasar Pringgabaya, Lombok Timur pada 27 April 2026 sekitar pukul 18.20 WITA, menghanguskan sedikitnya 164 lapak dan sejumlah kios tanpa menimbulkan korban jiwa.
  • Kerugian materiil ditaksir mencapai Rp5 miliar, sementara tiga petugas damkar mengalami luka-luka saat proses pemadaman; penyelidikan polisi masih berlangsung dengan dugaan awal korsleting listrik.
  • Pemerintah Kabupaten Lombok Timur berjanji menyiapkan lokasi jualan sementara serta bantuan modal usaha bagi pedagang terdampak agar aktivitas ekonomi pasar segera pulih.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lombok Timur, IDN Times – Pasar Pringgabaya di Kabupaten Lombok Timur dilalap api pada Senin petang, 27 April 2026, sekitar pukul 18.20 WITA. Kebakaran hebat tersebut menghanguskan ratusan lapak pedagang dalam waktu singkat.

Berdasarkan pendataan sementara, sedikitnya 164 lapak dan sejumlah kios ludes terbakar. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian materil ditaksir mencapai Rp5 miliar.

1. Kronologi kejadian

Petugas kebakaran saat berusaha memadamkan api (IDN Times/Istimewa)

Kebakaran bermula dari sebuah lapak sembako milik Ibu Suri (40), warga Mamben, Wanasaba. Api pertama kali terlihat oleh Amaq Ijang (55), yang bersama saksi lainnya, Kamaruddin alias Jarum (45), berusaha memadamkan api dengan peralatan seadanya. Namun api terus membesar, disertai suara ledakan yang memaksa warga sekitar berlari menyelamatkan diri.

Kepala Pasar Umum Pringgabaya, Sukarlan, menjelaskan bahwa api dengan cepat berkobar karena lapak-lapak pedagang yang sebagian besar terbuat dari bahan kayu dan material mudah terbakar.

"Saat kejadian saya berada di Labuhan Lombok, saya dapat telepon dari pedagang bilang pasar kita kebakaran, tapi karena bahan yang cepat terbakar, api cepat sekali menjalar," ujarnya.

Warga setempat, Muhammad Faozi Taofik, menyebutkan bahwa sekitar pukul 18.30 WITA api sudah membesar di bagian tengah pasar dan menjalar ke bagian depan.

"Saya di lokasi sudah kebakaran. Sekitar magrib itu, saya lihat apinya sudah besar di bagian tengah pasar," katanya saat dihubungi.

2. Kerugian mencapai Rp4 miliar

Petugas dibantu warga setempat melakukan upaya pemadaman (IDN Times/Istimewa)

Petugas Damkar Lombok Timur, memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Tetapi satu orang dilaporkan pingsan dan tiga petugas pemadam kebakaran mengalami luka-luka saat proses penanganan di lokasi.

"Kerugian materil yaitu, 164 lapak, 4 unit kios dan 3 unit toko terbakar hangus terbakar. Banyaknya jumlah kerusakan menyebabkan kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp5 miliar," ujar Kepala Dinas Damkar, Abadi.

Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran.

Kasi Humas Polres Lombok Timur, Iptu Lalu Rusmaladi, mengatakan bahwa tim penyidik masih perlu melakukan penyelidikan lebih lanjut dan mendalami setiap fakta di lapangan. Dugaan sementara kebakaran diakibatkan oleh korsleting listrik dari lapak pedagang, mengingat banyak pedagang yang menggunakan listrik. Sukarlan menegaskan.

3. Siapkan tempat jualan sementara

Paska kebakaran, pedagang berdatangan memeriksa kondisi lapak (IDN Times/Ruhaili)

Pemerintah Kabupaten Lombok Timur menyatakan keprihatinan mendalam atas musibah ini dan berkomitmen untuk membantu para pedagang yang terdampak. Kepala Dinas Perdagangan Lombok Timur, Hadi Fathurrahman, menyatakan akan segera melakukan pendataan ulang terhadap seluruh pedagang yang terdampak. Pemerintah akan segera menyiapkan tempat jualan sementara bagi para pedagang yang kehilangan lapaknya.

"Kami akan segera menyiapkan tempat relokasi sementara dengan fasilitas yang layak agar para pedagang dapat kembali berjualan dalam waktu dekat. Selain itu, kami juga akan memberikan bantuan modal usaha untuk meringankan beban mereka," pungkasnya.

Editorial Team