Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Penampakan virus Nipah di bawah mikroskop. (commons.wikimedia.org/NIAID)
Penampakan virus Nipah di bawah mikroskop. (commons.wikimedia.org/NIAID)

Mataram, IDN Times - Pemprov NTB memastikan sampai saat ini belum ada kasus penyakit virus Nipah yang tercatat di Indonesia, termasuk di NTB. Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus Nipah dari genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB dr. Lalu Hamzi Fikri menjelaskan bahwa penyakit virus Nipah memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen. Oleh karena itu, meskipun belum ditemukan kasus di Indonesia, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan.

"Berdasarkan situasi tersebut, Pemerintah Provinsi NTB menetapkan prinsip tenang namun waspada, mengingatkan masyarakat untuk tidak panik. Namun pemerintah juga tetap meningkatkan kesiapsiagaan melalui penguatan surveilans, deteksi dini, dan respons cepat apabila ditemukan kasus suspek," kata Fikri di Mataram, Senin (2/2/2026).

1. Gejala orang yang terpapar virus Nipah

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr Lalu Hamzi Fikri. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Dia mengatakan penularan virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi. Baik hewan liar maupun domestik, termasuk paparan ekskresi dan sekresi hewan. Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi melalui cairan tubuhnya, seperti droplet, urin, dan darah, serta kontak tidak langsung dengan benda atau makanan yang terkontaminasi virus.

Plt Direktur RSUD NTB itu menambahkan bahwa masa inkubasi penyakit ini umumnya berlangsung selama 4 hingga 14 hari. Dengan gejala awal berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan nyeri tenggorokan.

Pada kondisi tertentu, gejala dapat berkembang menjadi pusing, mengantuk berlebihan, penurunan kesadaran, serta munculnya tanda-tanda gangguan neurologis yang mengarah pada ensefalitis akut.

2. Pelaku perjalanan dan pemotong babi berisiko tinggi terhadap penularan virus Nipah

Skrining pelaku perjalananan dari luar negeri/dok Kemenkes

Fikri menyebutkan beberapa kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap penularan virus Nipah. Antara lain pelaku perjalanan yang berasal dari negara terjangkit, masyarakat yang tinggal atau bekerja sebagai peternak maupun pemotong babi di area peternakan yang berdekatan dengan populasi kelelawar buah sebagai reservoir alami virus.

Kemudian individu yang mengonsumsi produk makanan seperti nira atau buah yang telah terkontaminasi cairan tubuh hewan terinfeksi. Selain itu, tenaga kesehatan dan anggota keluarga yang melakukan perawatan atau pengelolaan spesimen pasien terinfeksi juga termasuk dalam kelompok berisiko.

"Hingga saat ini, belum tersedia pengobatan spesifik untuk penyakit virus Nipah, sehingga penanganan yang diberikan bersifat suportif dan berfokus pada perawatan gejala serta pencegahan komplikasi," jelasnya.

3. Antisipasi potensi risiko masuknya virus Nipah ke NTB

Ilustrasi edukasi kesehatan mengenai PHBS. (IDN Times/Dhana Kencana)

Dia menegaskan bahwa sampai saat ini belum terdapat kasus virus Nipah yang tercatat di Indonesia, termasuk di wilayah Provinsi NTB. Namun demikian, potensi risiko masuknya virus ini tetap perlu diantisipasi, terutama melalui mobilitas pelaku perjalanan dari negara terjangkit serta kelompok masyarakat dengan paparan tertentu.

Dia mengimbau masyarakat NTB tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menghindari konsumsi makanan yang berpotensi terkontaminasi. Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala yang mencurigakan, terutama setelah melakukan perjalanan atau kontak berisiko.

Editorial Team