Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Personel Band Roll With The Punch Mataram Lalu Satria Wira Sahroni. (IDN Times/Muhammad Nasir )
Personel Band Roll With The Punch Mataram Lalu Satria Wira Sahroni. (IDN Times/Muhammad Nasir )

Mataram, IDN Times - Gerakan musik underground di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), terus bertahan meski mengalami berbagai tantangan. Lewat lirik-lirik lagu yang penuh kritik sosial, musisi underground menyuarakan kegelisahan mereka terhadap kondisi masyarakat, aparat, dan kebijakan pemerintah.

Salah satu band yang masih eksis hingga kini adalah Roll With The Punch, grup musik asal Kota Mataram yang digawangi oleh Lalu Satria Wira Sahroni. Band ini berdiri sejak 2009 dan aktif mengisi berbagai panggung hingga 2018.

"Band ini sudah berdiri sejak 2009 dan masih terus berkarya hingga sekarang. Pada 2009–2018, kami cukup sering tampil di berbagai acara," kata Sahroni kepada IDN Times, Sabtu (1/3/2025).

1. Kritik sosial dan perlawanan lewat lagu

Band Roll With The Punch saat manggung. (dok. Roll With The Punch)

Menurut Sahroni, banyak lagu yang mereka ciptakan memuat kritik terhadap berbagai isu sosial. Bahkan, pada Pemilu 2014, band ini merilis mini album yang mengangkat kekhawatiran mereka terkait kemungkinan kembalinya Orde Baru ketika Prabowo Subianto mencalonkan diri sebagai presiden.

"Kami mengkritik sistem yang akan dijalankannya jika terpilih. Mini album kami saat itu menyuarakan ketidaksetujuan kami terhadap Prabowo dan berbagai isu yang berkembang kala itu," ujarnya.

Saat ini, Roll With The Punch tengah bersiap merilis album baru yang tetap mengusung kritik sosial, termasuk menyoroti kasus yang menimpa Band Sukatani baru-baru ini.

2. Pernah dilarang manggung dan tekanan aparat

ilustrasi penonton konser (unsplash.com/Nicholas Green)

Sejak 2011 hingga 2014, Roll With The Punch dan beberapa band punk lainnya sempat menghadapi larangan tampil dari aparat. Mereka kerap ditolak ketika hendak mengisi acara karena dianggap dapat memicu kerusuhan.

"Namanya musik keras, penonton menikmatinya dengan cara yang ekspresif. Tapi sebenarnya biasa saja, bahkan dangdut pun sering ada kerusuhan," jelas Sahroni.

Bahkan, beberapa band, termasuk Roll With The Punch, sempat "ditandai" oleh aparat agar tidak diizinkan tampil di berbagai acara.

"Kami sudah dicap dan dilarang tampil. Ada intervensi langsung ke penyelenggara acara agar kami tidak diundang," imbuhnya.

3. Pernah ada musisi NTB yang dipenjara

Band punk yang tengah naik daun, Sukatani. (Instagram/sukatani.band)

Kasus yang dialami Band Sukatani bukanlah yang pertama. Sahroni mengungkapkan bahwa pada 2007, seorang musisi punk asal Mataram pernah dipenjara selama tujuh bulan setelah menyuarakan kritik terhadap aparat kepolisian dalam sebuah konser di Bali.

"Teman saya dipenjara tujuh bulan hanya karena menyampaikan kritik terhadap polisi saat konser. Begitu turun panggung, dia langsung ditangkap," tuturnya.

Editorial Team