Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengkhawatirkan! Banyak Gen Alpha di Perkotaan NTB Tak Bisa Bahasa Daerah
Plt Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB Zamzam Hariro. (IDN Times/Muhammad Nasir)
  • Balai Bahasa NTB menyoroti fenomena Gen Alpha di perkotaan yang lebih fasih berbahasa asing dibanding bahasa daerah seperti Sasak, Samawa, dan Mbojo.
  • Pergeseran ini diperparah karena sekolah negeri dan swasta lebih mengutamakan bahasa asing, sementara sekolah internasional justru mempelajari bahasa daerah.
  • Untuk menjaga kelestarian, Balai Bahasa NTB membuka kelas Bahasa Indonesia dan Sasak di kawasan wisata seperti Gili Trawangan, Tetebatu, dan Mandalika.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Fenomena banyak anak Generasi Alpha di perkotaan Nusa Tenggara Barat yang tidak bisa berbahasa daerah, sementara kemampuan bahasa asing mereka justru lebih menonjol.
  • Who?
    Plt Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB Zamzam Hariro bersama pihak Balai Bahasa Provinsi NTB menyampaikan keprihatinan dan melakukan berbagai upaya pelestarian bahasa daerah.
  • Where?
    Kondisi ini terjadi di wilayah perkotaan Provinsi Nusa Tenggara Barat, termasuk Mataram, Lombok, Sumbawa, Bima, Dompu, serta beberapa kawasan wisata seperti Gili Trawangan dan Tetebatu.
  • When?
    Pernyataan disampaikan pada Senin, 23 Februari 2026, saat Zamzam Hariro memberikan keterangan di Mataram mengenai situasi terkini penggunaan bahasa daerah di NTB.
  • Why?
    Kekhawatiran muncul karena sekolah negeri dan swasta lebih mengedepankan bahasa asing dibandingkan bahasa daerah, sehingga dikhawatirkan akan mempercepat pergeseran budaya lokal.
  • How?
    Balai Bahasa NTB melakukan revitalisasi melalui kegiatan budaya dan olahraga rakyat serta membuka kelas Bahasa Indonesia dan Sasak bagi penutur asing di sejumlah destinasi wisata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mataram, IDN Times - Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengaku khawatir terkait fenomena Generasi Alpha atau Gen Alpha yang tidak bisa berbahasa daerah terutama di daerah perkotaan. Plt Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB Zamzam Hariro mengaku prihatin melihat fenomena anak SD yang lebih pintar berbahasa asing daripada bahasa daerah.

"Kami juga ikut prihatin di lokasi wisata itu, anak-anak jago-jago Bahasa Inggris walaupun masih kelas III SD dan inak-inak (ibu-ibu), pintar bahasa asing tapi tidak bisa bahasa daerah. Itu yang kita khawatirkan," kata Zamzam di Mataram, Senin (23/2/2026).

1. Terjadi pergeseran di daerah perkotaan

Komunitas Literasi Teman Baca Kota Mataram, NTB, membuka lapak buku di area publik yang berada di Kota Mataram. (dok. Istimewa)

Di NTB, terdapat tiga bahasa daerah yaitu Bahasa Sasak di Lombok, Bahasa Samawa di Sumbawa Barat dan Sumbawa serta Bahasa Mbojo di Bima dan Dompu. Zamzam menjelaskan terjadi pergeseran bahasa yang digunakan generasi sekarang, terutama di daerah perkotaan.

Namun di daerah perkotaan, Gen Alpha masih banyak yang menggunakan bahasa daerah. "Kalau di daerah perkotaan sudah tak mengenal bahasa daerah. Tapi di desa masih mengenal bahasa daerah. Mereka masih menggunakan Bahasa Sasak, kalau di Lombok," kata dia.

Menurutnya, penggunaan bahasa daerah pada kegiatan-kegiatan olahraga dan budaya, seperti turnamen sepakbola antar kampung (tarkam), permainan rakyat dan presean sangat penting.

"Kami sebenarnya sudah masuk lewat Pemda merevitalisasi itu. Kemudian juga lewat permainan rakyat, semua kita lakukan supaya jangan sampai bahasa daerah punah. Karena memang sudah ada pergeseran tapi belum terancam," imbuhnya.

2. Sekolah negeri dan swasta di NTB lebih mengedepankan bahasa asing

Belajar bahasa asing meningkatkan kecerdasan (pexels.com/thirdman)

Kondisi ini, kata Zamzam, semakin mengkhawatirkan karena sekolah negeri dan swasta justru mengedepankan penggunaan bahasa asing seperti Bahasa Inggris dan Bahasa Arab ketimbang bahasa daerah. Malah, kata dia, sekolah internasional di NTB justru sebaliknya, mereka mengajarkan bahasa Sasak, Samawa dan Mbojo.

"Justru yang kita khawatirkan sekolah negeri dan swasta, mereka justru mengedepankan penggunaan bahasa asing. Sedikit-dikit bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Tapi pantun-pantun bahasa daerah mereka (peserta didik) tidak tahu. Ungkapan-ungkapan bahasa daerah mereka tidak tahu," tuturnya.

Dia mengatakan pembelajaran bahasa daerah di sekolah negeri dan swasta di NTB harus diperkuat melalui pelajaran muatan lokal (mulok). Pasalnya, sekolah internasional justru mempelajari bahasa daerah, meminta dibantu terkait kurikulum dan bahan ajar bahasa daerah di sekolah internasional.

"Malah sehari-hari orang asing itu pakai bahasa daerah, itu yang lucu sekali. Makanya berbanding terbalik dengan apa yang diinginkan orang asing. Orang asing ingin belajar budaya daerah kita. Kita malah ingin melupakan bahasa daerah," kata dia.

3. Kelas bahasa Indonesia dan bahasa Sasak di daerah wisata

Ilustrasi wisatawan di Gili Trawangan. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Salah satu upaya yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi NTB agar bahasa daerah tidak punah dengan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. Pihaknya membuat kelas Bahasa Indonesia dan Bahasa Sasak di daerah wisata seperti Gili Trawangan dan Tanjung, Lombok Utara. Kemudian di daerah wisata Tetebatu, Lombok Timur. Selanjutnya, akan menyusul di destinasi wisata Kita Mandalika Lombok Tengah.

"Kami di Gili Trawangan membuat kelas bahasa Indonesia dan Bahasa Sasak dan itu sudah berjalan. Sekarang sedang dirapikan kurikulum dan bahan ajarnya dengan mitra kami Chili House. Kemarin ada video anak orang asing berbahasa Sasak. Ini sebenarnya menumbuhkan kembali bagaimana kita berbahasa daerah. Jangan sampai bahasa daerah mati," tandasnya.

Editorial Team