Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kucing Bisa Merasa Aman bersama Manusia, Ini Penjelasan Ilmiahnya!
ilustrasi kucing makan (unsplash.com/daniel melko)
  • Penelitian Oregon State University menunjukkan pemilik dapat menjadi sumber rasa aman; kucing yang tenang dan tetap menjelajah setelah pemilik kembali dapat menunjukkan keterikatan aman.
  • Kucing memiliki kepekaan terbatas terhadap isyarat emosi, terutama dari pemilik, serta dapat mencocokkan ekspresi wajah dengan suara emosional tanpa berarti memahami seluruh pengalaman batin manusia.
  • Kedekatan berkembang lewat interaksi positif, konsisten, dan sesuai preferensi kucing; pemilik perlu memberi pilihan untuk memulai atau mengakhiri kontak, bermain, maupun duduk bersama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kedekatan manusia dan kucing memiliki dasar yang bisa dipelajari secara ilmiah. Penelitian menunjukkan bahwa pemilik dapat menjadi sumber rasa aman bagi hewan ini.

Kucing juga mampu menangkap sebagian isyarat emosi melalui wajah dan suara manusia. Kemampuan ini membantu menjelaskan bagaimana mereka menanggapi orang yang tinggal bersamanya.

Namun, tanggapan kucing tidak selalu sama dengan cara manusia memahami perasaan orang lain. Memahami batas kemampuan mereka membantu pemilik

1. Pemilik dapat menjadi sumber rasa aman

ilustrasi kucing makan (unsplash.com/Piotr Musioł)

Penelitian Oregon State University mengamati perilaku kucing ketika bersama pemilik, ditinggal sebentar, lalu dipertemukan kembali. Cara ini digunakan untuk menilai pola keterikatan kepada pengasuh.

Sebagian kucing tampak lebih tenang setelah pemilik kembali dan melanjutkan penjelajahan ruangan. Dalam pola keterikatan yang aman, perhatian mereka terbagi antara pemilik dan lingkungan.

Artinya, kedekatan tidak harus selalu terlihat sebagai perilaku menempel di pangkuan. Kucing yang tetap menjelajah dapat menggunakan kehadiran pemilik sebagai penopang rasa aman.

2. Wajah dan suara membantu kucing membaca emosi

ilustrasi kucing makan (unsplash.com/Francis Nie)

Penelitian Moriah Galvan dan Jennifer Vonk menguji tanggapan kucing terhadap isyarat senang dan marah. Hasilnya menunjukkan kepekaan yang terbatas, terutama ketika isyarat datang dari pemiliknya.

Penelitian lain dalam jurnal Animals menemukan bahwa kucing dapat mencocokkan ekspresi wajah dengan suara emosional yang sesuai. Temuan ini menunjukkan bahwa mereka menggabungkan informasi penglihatan dan pendengaran.

Kemampuan membedakan isyarat emosi tidak membuktikan bahwa kucing memahami seluruh pengalaman batin manusia. Kedua penelitian ini juga tidak menguji kemampuan kucing mendiagnosis kecemasan atau depresi pada pemilik.

3. Hubungan tumbuh lewat interaksi yang nyaman

ilustrasi kucing makan (unsplash.com/Abeer Zaki)

Panduan Feline Veterinary Medical Association menekankan interaksi yang positif, konsisten, dan bisa diperkirakan oleh kucing. Preferensi setiap individu perlu dihormati karena tidak semua kucing menyukai bentuk sentuhan yang sama.

Berikan kesempatan kepada kucing untuk memulai kontak dan menjauh ketika merasa cukup. Memaksa gendongan atau elusan dapat mengurangi kendalinya atas interaksi.

Pemilik bisa membangun kedekatan melalui kegiatan yang memang disukai kucing, seperti bermain atau duduk bersama. Hubungan yang nyaman memberi ruang bagi kebutuhan manusia dan pilihan kucing.

Curated For You

Editorial Team

Related Article