Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kucing Bisa Alergi terhadap Pemiliknya? Kenali Pemicunya, Yuk!

Kota Mataram
2 min read
Kucing Bisa Alergi terhadap Pemiliknya? Kenali Pemicunya, Yuk!
ilustrasi kucing makan (unsplash.com/Piotr Musioł)
  • Serpihan kulit manusia atau dander dapat memicu alergi lingkungan pada kucing, bersama serbuk sari, tungau debu, dan spora jamur.
  • Bersin, gatal, kulit kemerahan, atau bulu rontok dekat pemilik juga bisa dipicu produk beraroma, parasit, infeksi, maupun alergi kutu.
  • Dokter hewan menentukan penyebab melalui gejala dan riwayat pajanan; pemilik perlu mencatat waktu keluhan, produk sekitar, perubahan makanan, serta perawatan sebelumnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Manusia bisa mengalami alergi terhadap kucing, tetapi bagaimana jika arahnya terbalik? Serpihan kulit manusia termasuk bahan yang dapat menjadi pemicu alergi lingkungan pada kucing.

Meski begitu, kucing yang bersin atau gatal ketika berada dekat pemilik belum tentu alergi terhadap orangnya. Produk beraroma yang dipakai pemilik juga dapat menjadi sumber gangguan.

Keluhan yang tampak serupa bisa memiliki penyebab berbeda, termasuk parasit dan penyakit kulit. Menemukan penyebabnya lebih berguna daripada langsung membatasi kedekatan dengan hewan peliharaan.

  1. 1. Serpihan kulit manusia dapat menjadi pemicu

    Ilustrasi mengelus kucing di jalan
    Ilustrasi mengelus kucing di jalan (pexels.com/id-id/@yogisp13)

    Serpihan kulit yang terlepas secara alami dikenal sebagai dander. Bahan inilah yang dibicarakan ketika membahas kemungkinan alergi terhadap manusia.

    Dalam panduan Your Vet Wants You to Know, dander manusia dicantumkan bersama serbuk sari, tungau debu, dan spora jamur. Semuanya termasuk kemungkinan pemicu alergi lingkungan.

    Daftar kemungkinan pemicu tidak bisa digunakan untuk menentukan diagnosis pada setiap kucing. Hewan yang sama juga dapat memiliki lebih dari satu pemicu alergi.

  2. 2. Produk pemilik dan kondisi rumah perlu diperiksa

    ilustrasi kucing feral
    ilustrasi kucing feral (unsplash.com/Ma Ti)

    Parfum, sampo, dan produk beraroma lain patut diperhatikan ketika keluhan muncul dekat pemilik. The Vet Desk mengingatkan bahwa reaksi terhadap produk bisa keliru dianggap sebagai alergi terhadap manusia.

    Gatal, kulit kemerahan, dan bulu rontok juga tidak menunjuk pada satu penyebab tertentu. Cornell Feline Health Center mencatat bahwa alergi, parasit, dan infeksi dapat menimbulkan masalah kulit.

    Kutu bahkan dapat sulit terlihat karena kucing yang gatal terus menjilati tubuhnya. Tidak menemukan kutu saat melihat bulu sekilas belum cukup untuk menyingkirkan kemungkinan alergi kutu.

  3. 3. Diagnosis perlu melihat gejala dan riwayat pajanan

    ilustrasi kucing makan
    ilustrasi kucing makan (unsplash.com/daniel melko)

    Dokter hewan menilai riwayat keluhan, pola perubahan kulit, dan hasil pemeriksaan sebelum menentukan penyebab. Pemeriksaan tambahan dapat diperlukan untuk menyingkirkan kondisi yang menyerupai alergi.

    Pemilik dapat membantu dengan mencatat kapan keluhan muncul dan produk apa yang digunakan di sekitar kucing. Informasi tentang perubahan makanan serta perawatan sebelumnya juga berguna dalam penilaian.

    Pengujian alergi lingkungan dipertimbangkan setelah penyebab lain, termasuk kutu dan makanan, dinilai terlebih dahulu. Penanganan kemudian disesuaikan dengan pemicu dan kondisi masing-masing kucing.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More