Bukti video dalam sidang warga Poco Leok gugat Bupati Manggarai. (IDN Times/Putra Bali Mula)
Silvester Noihun yang bertugas sebagai anggota Satpol PP kurang lebih menyatakan hal serupa. Ia sendiri terlibat dalam pengamanan dan mencegah Bupati Manggarai bertemu massa kendati pemimpinnya itu sudah berada di lapangan. Alasannya, kata dia, agar mencegah potensi gangguan atau kekacauan yang tidak diinginkan. Menurut dia, pemimpinnya itu merespon ucapan seorang orator yang menyinggung orang tua Herybertus. Ia juga menilai itu tak pantas.
"........'Bagi kami orang Poco Leok kamu bukan sebagai Bupati tapi Anda adalah sampah orang Poco Leok karena kamu itu pembohong besar, penipu. Ini bukan kantor Bupati Manggarai tapi kantor sampah Poco Leok.' Setelah orator yang ketujuh itu atas nama Wihelmus Jehau menyatakan itu barulah tidak Pak Bupati bereaksi keluar kantor," ungkap dia.
Setelahnya ia ikut dengan Bupati Manggarai ke gerbang timur. Ia menyatakan saat itu sudah ramai masyarakat di depan gerbang yang sedang chaos dengan massa yang tengah bubar. Ia tak tahu apakah masyarakat itu diarahkan atau dikumpulkan oleh pihak tertentu untuk menghadang massa.
Saat itu, kata dia, Herybertus keluar menghampiri massa untuk meminta pertanggungjawaban atas kalimat yang menyinggung itu. Ia mengaku tak mencegah sang bupati sebagaimana yang dilakukannya pertama kali karena sibuk mengatur lalu lintas. Namun ia memastikan bupatinya tidak memaki-maki atau mengintimidasi warga Poco Leok.
"Tidak ada (memaki). Saya sangat yakin. Hanya menunjuk ke orator di atas mobil dan minta pertanggungjawaban yang bilang sampah itu," tukasnya.