Puing-puing bekas tiang pancang di Pelabuhan Ampenan, Kota Mataram. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Dilansir dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Lombok telah memiliki integrasi dengan jaringan perdagangan global dan telah berkembang pada 1360. Namun baru menjadi pusat niaga pada akhir abad ke-16–17 dan Ampenan menjadi pusat niaga untuk pelaut dan pedagang di Asia dan Eropa dalam komoditi rempah-rempah dan kayu cendana. Semua pedagang Asia dan Eropa datang mewakili perwakilan dagang di Pelabuhan ini.
Dengan berkembangnya jaringan perdagangan ini, terutama pada awal abad ke-19, Nusa Tenggara muncul lebih dinamis dalam aktivitasnya dan memberikan perubahan pada perekonomian. Pelabuhan Ampenan menjadi tempat strategis dalam jalur perdagangan panjang antara: Australia–Singapura–India, dan Australia–Manila–Cina.
Terdapat tiga rule perdagangan yaitu Perdagangan orang Eropa (Eropean Trade), suatu perdagangan yang dilakukan oleh kapal-kapal Eropa. Jenis perdagangan ini menempatkan Lombok pada jalur panjang seperti New South Wales-Manila-Cina dan New South Wales- Singapura-Benggala
Kemudian perdagangan musiman, biasanya dilakukan oleh pedagang Bugis dan Cina. Jalur ini menempatkan Lombok berhubungan dengan tempat-tempat lain sepertiJawa, Makasar, Riau, Kalimantan, Maluku, Singapura. Dan perdagangan lokal, adalah perdagangan antar pulau di Nusa Tenggara.
Lombok berada di kepulauan Sunda Kecil atau Nusa Tenggara yang terpisahkan oleh Selat Lombok dari Bali di sebelah barat dan Selat Alas di sebelah timur dari Sumbawa. Pulau ini berbentuk bulat dengan luas 4.725 km dan jumlah penduduk lebih kurang 3.722.123 jiwa.
Pulau Lombok dikenal sebagai gugusan bahari paling ramai di bagian timur sejak dahulu.
Bahkan dalam kitab Nagara Kertagama dideskripsikan sebagai kota perdagangan yang memiliki hubungan dengan Majapahit, yang disebut Labuhan Lombok. Dengan pelabuhan yang terkenal yaitu Ampenan. Karena itu dikatakan bahwa Ampenan adalah kota tua di Lombok. Di tempat inilah sejarah Lombok dimulai sejak 1800-an.
Di Ampenan banyak kampung yang merupakan perwujudan dari berbagai suku bangsa di Indonesia, yaitu: Kampung Tionghoa, Kampung Bugis, Kampung Melayu, Kampung Banjar, Kampung Arab, Kampung Bali dan lain-lain, sehingga masyarakatnya heterogen dan rukun.
Ampenan merupakan kawasan yang dikembangkan oleh Belanda menjadi pelabuhan untuk menyaingi dominasi kerajaan-kerajaan di Bali. Seperti kota pelabuhan pada umumnya, Ampenan sejak dahulu hingga sekarang dihuni oleh berbagai etnis.
Di Ampenan terdapat bangunan Vihara Bodhi Dharma yang dibangun pada 1804. Vihara ini merupakan bukti ada pembauran suku di Ampenan sejak dahulu. Vihara ini berada tepat di depan Kampung Melayu yang didominasi penganut Muslim. Sementara di kawasan pesisir didiami oleh orang Bugis yang bekerja sebagai nelayan. Pekerjaannya sebagai nelayan sebagai sumber utama dalam kehidupannya sehari-hari diwariskan dari nenek moyang mereka.
Seperti diketahui bahwa perdagangan maritim di Indonesia bagian timur sudah dimulai sejak abad ke-14. Dalam kitab Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca pada 1364 dan naskah kuno orang Bugis Ilagaligo mengatakan bahwa Kawasan Indonesia Timur merupakan jalur perdagangan yang dikategorikan cukup tua.
Itulah sebabnya menurut Kenneth R. Hall sekitar abad ke-14 wilayah tersebut berada dalam pengaruh Kerajaan Majapahit yang berada di Jawa Timur. Daya Tarik wilayah tersebut memiliki kekhasan sebagai penghasil rempah-rempah dan kayu cendana.
Negara Kertagama mendeskripsikan kota-kota perdagangan di Indonesia Timur yang memiliki hubungan dengan Majapahit, yaitu kota-kota dagang di pantai selatan semenanjung Pulau Sulawesi seperti Bontayang, Luwuk, Selayar, Banggae dan Makasar. Wilayah tersebut dinyatakan sebagai jalur utama yang dihubungkan dengan gugusan pulau Sumba, Lombok, Solot, Kumir, Galiyao Tua dan Kepulauan Maluku, yang kaya akan rempah-rempah.
Dalam kitab Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca pada 1364 telah tercatat sejumlah tempat yang dikunjungi armada dagang Majapahit yaitu Luwu, Bantaeng, Selayar, Makasar. Begitu pula di Nusa Tenggara telah disebut Bima, Lombok dan Kupan. Berdasarkan kitab Negara Kertagama dapat dijelaskan bahwa Bandar/Pelabuhan Lombok (Ampenan) telah berkembang pada 1360.
Posisi itu telah menempatkan bandar tersebut menjadi bandar yang terpenting dan pusat perdagangan internasioal dalam dunia perdagangan maritim pada akhir abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-17. Ampenan menjadi pusat niaga untuk pelaut dan pedagang di Asia dan Eropa dalam komoditas rempah-rempah dan kayu Cendana.
Dengan berkembangnya jaringan perdagangan ini, Nusa Tenggara munul lebih dinamis dalam aktifitasnya dan bahkan muncul pusat-pusat baru yang memberikan arti pada pertumbuhan ekonominya. Sebagai contoh, Ampenan (Lombok) yang melampaui pelabuhan lain di Nusa Tenggara.
Keramaian Pelabuhan Ampenan dapat diketahui dari keterangan Zollinger (1846) yang menyebutkan bahwa hampir semua perdagangan dilakukan di Ampenan. Disebutkan pula selain kampung orang Sasak, Bali juga kampung pendatang seperti: Kampung Bugis, Melayu, Cina, Arab dan Eropa.
Keramaian pelabuhan Ampenan sebagai pusat niaga diketahui berlangsung sampai 1977. Dengan bukti ditemukannya ‘jangkar raksasa’ pada 20 Mei 1977. Yang kini jangkar tersebut ditempatkan di Museum Provinsi Nusa Tenggara Barat, di Mataram. Jangkar kapal berasal dari Cina tetapi dibuat di India pada akhir abad ke-17, milik Saudagar Cina bernama Cowo Liong Hui.
Selain temuan jangkar, di Ampenan terdapat banyak bangunan tua peninggalan Cina dan gudang-gudang perniagaan. Sekarang masih dapat kita jumpai di sepanjang jalan dari Simpang Lima yang menghubungkan Jalan Yos Sudarso,Jalan Niaga, jalan Koperasi, Jalan Sadeng Sungkar dan Jalan Kepabean.
Kota ini memang dimaksudkan sebagai Kota Pelabuhan oleh Belanda, karena sejarahnya yang telah lama menjadi pelabuhan maritim. Yang akhirnya pada 1924 dibangun lebih bagus oleh Belanda menjadi Pelabuhan yang ramai. Namun, aktivitas perdagangan mulai dipindahkan ke Pelabuhan Lembar, dan yang tersisa sekarang hanyalah patok-patok besi dan kayu.
Sebagai kota pelabuhan, bangunan-bangunan tua berjejer di tepi jalan di Kota Tua Ampenan ini. Ruas jalan di Pasar Pabean yang langsung menghadap ke laut menjadi saksi kejayaan bahari di masa lampau. Di sepanjang jalan ini berjejer bangunan tua yang banyak ditinggali oleh warga keturunan, khususnya warga Tionghoa. Jalan Pabean terhubung dengan Simpang Lima yang menghubungkan lima ruas jalan, yaitu Jalan Yos Sudarso, Jalan Niaga, Jalan Koperasi, Jalan Sadeng Sungkar dan jalan Pabean.