Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Izin Ekspor AMNT Habis April, NTB Khawatir PAD dan Ekonomi Terpukul
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda NTB Lalu Moh. Faozal. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Mataram, IDN Times - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mendorong perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) yang akan berakhir pada April 2026. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi daerah.

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda NTB, Lalu Moh. Faozal, mengatakan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan manajemen AMNT guna memastikan keberlanjutan izin ekspor tersebut.

“Minggu depan saya bersama Kepala Dinas ESDM akan bertemu dengan manajemen AMNT di Mataram untuk membahas langkah yang diperlukan dari Pemprov NTB agar izin ekspor ini dapat terus berlanjut,” ujarnya di Mataram, Sabtu (4/4/2026).

1. PAD NTB terancam tergerus

ilustrasi pendapatan (IDN Times/Aditya Pratama)

Faozal menegaskan, penghentian izin ekspor konsentrat berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi NTB, seperti yang terjadi pada triwulan I dan II tahun 2025.

Menurutnya, operasional penuh smelter AMNT di Kabupaten Sumbawa Barat masih membutuhkan waktu untuk mencapai kapasitas optimal. Karena itu, diperlukan solusi transisi, termasuk perpanjangan izin ekspor konsentrat.

“Jika izin ekspor tidak diperpanjang, dampaknya bukan hanya pada pertumbuhan ekonomi yang bisa kembali minus, tetapi juga pada penurunan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Dana Bagi Hasil (DBH) sektor tambang,” jelasnya.

PT AMNT, yang merupakan anak usaha PT Amman Mineral Internasional Tbk, sebelumnya memperoleh izin ekspor konsentrat tembaga sebesar 480.000 metrik ton kering (DMT). Izin tersebut berlaku selama enam bulan, terhitung sejak 31 Oktober 2025 hingga April 2026.

2. Dampak smelter terhadap ekonomi di NTB

Tambang tembaga milik PT AMNT di Kabupaten Sumbawa Barat. (dok. AMNT)

Aktivitas smelter AMNT menjadi salah satu motor penggerak ekonomi NTB. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi NTB pada triwulan IV 2025 tumbuh signifikan sebesar 12,49 persen (year-on-year).

Kepala BPS NTB, Wahyudin, menyebut pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan yang melonjak hingga 137,78 persen seiring meningkatnya aktivitas smelter di Sumbawa Barat.

Selain itu, sektor jasa keuangan dan asuransi juga tumbuh 28,12 persen, sementara perdagangan besar dan eceran meningkat 12,29 persen.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi didorong oleh lonjakan ekspor barang dan jasa yang mencapai 103,11 persen (y-on-y), terutama dari komoditas pertambangan dan hasil industri pengolahan.

“Pertumbuhan triwulan IV 2025 ini menjadi yang tertinggi dalam empat tahun terakhir,” kata Wahyudin.

3. Sempet tertekan, ekonomi NTB mulai pulih

Kepala BPS NTB Wahyudin. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Meski mencatat pertumbuhan tinggi di akhir tahun, secara kumulatif ekonomi NTB sepanjang 2025 hanya tumbuh 3,22 persen. Angka ini dipengaruhi kontraksi pada dua triwulan awal 2025, masing-masing sebesar -1,43 persen dan -0,82 persen.

Pada triwulan III 2025, ekonomi mulai membaik dengan pertumbuhan 2,82 persen, sebelum akhirnya melonjak pada triwulan IV.

Secara kuartalan (q-to-q), ekonomi NTB pada triwulan IV 2025 tumbuh 3,97 persen. Dari sisi produksi, sektor pertambangan dan penggalian mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 25,32 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tumbuh 64,09 persen.

Meski pertumbuhan triwulan IV melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 5,39 persen, secara tahunan ekonomi NTB masih berada di bawah capaian nasional sebesar 5,11 persen.

Dengan kondisi tersebut, Pemprov NTB menilai keberlanjutan aktivitas ekspor dan operasional smelter AMNT menjadi faktor krusial dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah.

Editorial Team