Panti Asuhan Katolik Guardian Holy Angel ludes terbakar. (Dok Damkar Kupang)
Kala itu, ia sedang duduk di luar ruang tamu bersama lima anak asuh. Tiba-tiba tercium bau asap menyengat di salah satu kamar kosong. Rupanya api muncul tepat di sela tumpukan kasur dan dinding ruangan. Anak-anak lainnya gaduh ketika ia masuk memeriksa keadaan.
Benar saja, api yang muncul dari titik itu dan mulai membesar sementara ia memerintahkan anak-anak laki-laki mengambil air. Dinding dan kasur yang termakan api pun mengeluarkan kepulan asap hitam yang membuat jarak pandang tak jelas.
Saat sadar tak lagi bisa memadamkan api itu pun ia menyuruh semua anak-anak menyelamatkan diri. Sementara ia memeriksa siapa yang tersisa lalu menggendong bayi berusia 5 bulan itu dan coba lolos dari api.
Dalam kekalutannya ia mencari jalan keluar dari asap hitam dan panasnya api. Bayi itu pun selamat tanpa luka. Suster Marisa lalu jatuh pingsan akibat syok dan karena asap yang sempat ia hirup. Ia bertelanjang kaki.
Pakaian di badan saja yang tersisa. Sertifikat tanah, ijazah anak-anak dari SD hingga perguruan tinggi, laptop, hingga lemari pakaian habis terbakar.
“Semua surat habis terbakar, mulai dari surat tanah sampai dokumen sekolah anak-anak. Hanya tersisa baju di badan kami. Saya sendiri hanya sisa satu baju ini saja,” kata Suster Marisa yang juga pengasuh panti asuhan tersebut.