Bima, IDN Times- Budayawan Bima, Fahrurizki dengan tegas membantah pernyataan Gubernur NTB yang menyebut menyetop joki cilik sama halnya menodai tradisi ratusan tahun. Menurut Fahrurizki, pacuan kuda dengan melibatkan joki cilik itu bukanlah tradisi masyarakat Bima.
Keterlibatan joki cilik dalam pacuan kuda dalam persepsi kultur Bima menurut penulis sejarah dan budayawan ini, sudah sangat keliru. Itu menunjukkan arogansi pemilik kuda maupun panitia pelaksana pacuan kuda.
“Ada pepatah Bima mengatakan ‘Ma Tua Sakontu Ma Toi’. Maknanya, orang-orang dewasa harus bisa mendorong kebaikan dan kreativitas anak-anak untuk masa depan mereka,” jelasnya.
