Gubernur NTT Melki Laka Lena respons soal kisruh koperasi di Kupang. (IDN Times/Putra Bali Mula)
Sementara itu, Melki Laka Lena mengakui adanya pemecatan terhadap empat staf tersebut. Ia juga membenarkan pengganti mereka berasal dari sejumlah pengurus partai dan hal itu telah dikoordinasikan dengan Ketua Gerindra NTT, Eston Foenay. Menurut Melki, pergantian itu bukan persoalan meski pegawai sebelumnya dinilai lebih berpengalaman.
"Itu saya sudah chat Pak Eston juga itu. Satu Gerindra, satu Demokrat, satu Golkar, satu aktivis. Ini jadi terlalu banyak isu padahal simpel sebenarnya," jawab Melki ketika diwawancarai pada hari yang sama.
Melki menegaskan siapa pun dapat menempati posisi tersebut tanpa memandang latar belakang, selama mampu bekerja.
"Mau dekat atau jauh yang penting bisa kerja. Intinya siapapun bisa kerja, masuk, mainkan," ujarnya.
Ia juga memastikan keputusan pemecatan itu telah ditetapkan dan tidak akan ditinjau ulang.
"Karena sudah diputuskan ya dijalankan dulu lah," tambahnya.
Sebelumnya, Melki beralasan posisi tersebut perlu diisi tenaga yang lebih muda setelah melalui proses evaluasi internal. Ia mengaku hanya menerima hasil keputusan yang telah dibahas di kepengurusan.
"Saya sendiri terima jadi aja. Sudah ada pembahasan di pengurus, kemudian evaluasi, yang lama itu dari enam anggota sisa dua, lalu ditambah empat supaya yang muda-muda masuk," katanya.
Melki juga membenarkan adanya rencana memindahkan empat staf senior tersebut ke BUMD sebagai bagian dari penyegaran di KONI NTT.
"Ini sebenernya simpel saja. Sudah dibahas baik-baik juga, tidak ada masalah, dan kita tidak mungkin buang orang kecuali ada hal yang luar biasa. Ini cuma penyegaran biasa. Rencananya empat orang ini mau diatur ke tempat lain. Saya juga bingung jadi ramai begini," tandasnya.